Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) dalam Economy Outlook 2022  yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) dalam Economy Outlook 2022 yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

ECONOMIC OUTLOOK 2022

Perbankan Bisa Salurkan Kredit ke Sektor yang Sedang Bergairah

Senin, 22 November 2021 | 18:26 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Tingginya kredit menganggur atau undisbursed loan yang mencapai Rp 1.700 triliun dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, perbankan bisa menyalurkan kreditnya ke beberapa lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan positif tahun ini, meski pandemi Covid-19 belum reda. Beberapa sektor itu adalah industri otomotif dan sektor komunikasi.

Dia mengatakan, kebutuhan digitalisasi saat ini tentunya akan membutuhkan investasi yang sangat besar untuk cloud computing dan data center. Lalu, selanjutnya sektor pertambangan dan kontruksi.

“Ini artinya bank diminta untuk melihat beberapa sektor yang menjadi champion untuk disalurkan kredit dalam jumlah yang jauh lebih besar. Apalagi di sektor-sektor yang serapan tenaga kerjanya juga besar,” ujar Bhima dalam Economic Outlook 2022 dengah tema “Arah Pergerakan Suku Bunga 2022” yang digelar Berita Satu Media Holdings (BSMH), Senin (22/11/2021).

Dari sektor kredit konsumsi, dia melihat permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang paling cepat pertumbuhannya bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan segmen kredit konsumsi lainnya.

Bhima mengusulkan pemerintah memberikan insentif dalam bentuk suku bunga yang lebih murah di konstruksinya. Sehingga kalau bisa lebih murah nanti harga jual rumah di level konsumen justru lebih mudah terbeli. Atau pemerintah bisa menjamin biaya-biaya produksi seperti semen berada di level terjangkau. Sebab, bila barang material impornya menjadi naik menjadi inflasi, maka dikhawatirkan bisa menekan pertumbuhan laju dari penyaluran kredit KPR.

“Pertumbuhan kredit perlu didorong karena tidak semua sektor mengalami kontraksi, ada beberapa yang cerah kedepannya. Tentunya dengan proyek-proyek pemerintah seperti infrastruktur, konstruksi yang masih bisa positif bahkan di prediksi bisa tumbuh sampai 7-8%. Jadi tidak ada alasan sebenarnya bank untuk terlalu lama berjaga-jaga atau khawatir berlebihan,” pungkas dia.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN