Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

OJK Ingatkan Risiko Kredit

Sabtu, 27 November 2021 | 18:49 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, stabilitas sektor keuangan khususnya industri perbankan ke depan tetap terjaga dan bisa mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun OJK mengingatkan masih terdapatsejumlah isu dan tantangan yang harus diwaspadai perbankan, di antaranya risiko kredit.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengungkapkan, perekonomian nasional mulai menunjukkan tandatanda pemulihan. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang sudah bergerak ke arah yang positif, didukung oleh penanganan pandemi Covid-19 yang baik oleh pemerintah. Heru menilai, di tengah pandemic Covid-19, stabilitas sektor ekonomi dan keuangan terancam, tetapi mulai membaik dan terjaga, hingga tahun depan diprediksi tetap terjaga. Kinerja perbankan per Oktober 2021 juga menunjukkan perbaikan, seperti pertumbuhan kredit sebesar 3,24% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya 2,21% (yoy).

Sementara itu, risiko kredit masih berada di rentang yang aman dengan rasio kredit macet (non performing loan/NPL) 3,22%. Namun, loan at risk (LaR) masih tinggi, perlu diwaspadai perbankan. Selain itu juga tingginya gap antara kredit dan dana pihak ketiga (DPK) berpotensi mempengaruhi profitabilitas perbankan.

Pertumbuhan kredit lebih rendah dari pertumbuhan DPK yang sebesar 9,44% (yoy). “Meski ada tanda-tanda perbaikan, namun perbankan juga perlu mewaspadai tantangan ke depan,” ucap Heru dalam talkshow bertajuk “Membangun Optimisme Baru untuk Mendorong Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional,” Jumat (26/11).

Terdapat dua tantangan perbankan di era pandemi, yakni tantangan jangka pendek dan tantangan struktural. Untuk jangka pendek, terdapat ketidakpastian penyelesaian pandemi Covid-19, ekspektasi tappering off The Fed seiring pemulihan ekonomi Amerika Serikat. Kemudian, tantangan dari kondisi pasar keuangan yang mengalami volatilitas tinggi.

Lalu, potensi NPL dan pembentukan CKPN akibat dari restrukturisasi kredit yang mengalami pemburukan, serta potensi risiko berakhirnya kebijakan stimulus fiskal untuk pemulihan perekonomian.

“Tantangan jangka pendek ini bisa dilakukan kebijakan forward looking seperti restrukturisasi yang telah diperpanjang hingga Maret 2023,” jelas Heru.

Di sisi lain, terdapat tantangan struktural yang juga dihadapi perbankan, antara lain penguatan struktur dan daya saing. Pasalnya, skala usaha perbankan saat ini masih rendah, efisiensi perbankan juga belum maksimal, serta adanya disparitas skala usaha dan daya saing antarbank masih tinggi. Tantangan struktural kedua yakni peran perbankan dalam perekonomian nasional. Hal tersebut meliputi kebutuhan pembiayaan pembangunan, pasar keuangan yang masih dangkal, pembiayaan berkelanjutan belum optimal, dan inklusi keuangan masih rendah. Tantangan ketiga, revolusi ekonomi dan layanan digital. Serta tantangan keempat transformasi pengaturan dan pengawasan.

“Adanya tuntutan kepada regulator terkait dengan pembangunan internal, dan dari sisi pengaturan, pengawasan, serta perizinan sehingga dapat lebih agile, adaptif, dan mampu mendukung ekosistem perbankan kita,” kata Heru.

Untuk mengantisipasi tantangan tersebut, OJK meletakkan dasar-dasar transformasi industri ke arah digital secara smooth.

Hingga Oktober 2021, kredit yang direstrukturisasi perbankan sebesar Rp 714,2 triliun dari 4,4 juta debitur. Outstanding restrukturisasi tersebut terus menurun dari puncaknya yang hampir mencapai Rp 1.000 triliun. Hal tersebut menunjukkan bahwa usaha debitur perbankan sudah mengalami pemulihan.

Restrukturisasi kredit UMKM sebesar Rp 267,68 triliun kepada 3,21 juta debitur. Sedangkan kredit non UMKM mencapai Rp 446,54 triliun kepada 1,19 juta debitur.

“Ke depan, kita harapkan restrukturisasi ini terus menurun,” ujar Heru. 

Baca lengkap di epaper Investor Daily https://subscribe.investor.id/

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN