Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia/Ketua AAUI

Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia/Ketua AAUI

Asuransi Umum Terapkan Prudence Mode pada 2022

Selasa, 30 November 2021 | 20:35 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - Industri asuransi umum diperkirakan masih akan dalam mode berhati-hati (prudence mode) pada tahun 2022. Kondisi penanganan pandemi dan perekonomian di akhir tahun ini menjadi penentu bagi industri asuransi umum.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo menyampaikan, banyak akun-akun besar asuransi yang memiliki tenggat waktu pada kuartal IV-2021 ini. Sayangnya, belum bisa dipastikan akun tersebut akan melanjutkan proteksi pada tahun mendatang. Hal itu juga berdampak pada kemampuan perusahaan asuransi umum untuk menyerap risiko dengan margin lebih rendah, termasuk dengan mempertimbangkan persaingan yang ada.

“Agak sulit memberikan proyeksi yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan mengingat conditional November dan Desember yang menjadi bagian paling krusial dan menantang. Namun demikian, sifat pendapatan premi reasuransi dengan model pencatatan SoA kuartalan dari perusahaan asuransi memberikan indikasi penurunan pendapatan premi asuransi pada kuartal IV-2021,” kata Widodo kepada Investor Daily, Selasa (30/11).

Menurut dia, perusahaan asuransi umum sudah tidak lagi dalam kondisi bertahan (survive mode) karena memang kondisi sudah relatif membaik. “Mungkin (2022) lebih pada prudence mode ya, terlebih lagi kita semua sedang menyiapkan untuk dapat Parallel run IFRS 17 pada 2024. Jadi portfolio cleansing memang sebaiknya mulai dilakukan sejak akhir tahun ini,” jelas Widodo.

Kini, lanjut Widodo, perusahaan asuransi mengacu kepada proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk rencana kerja yang diajukan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir November 2021. Tapi terlepas dari itu, asuransi juga bergantung pada banyak hal, salah satunya adalah kinerja intermediasi dari perbankan.

“Patut kita sadari juga bahwa sebagai fungsi penunjang keuangan, asuransi akan sangat tergantung terhadap pertumbuhan riil dari baki neraca kredit yang ada. Peningkatan NPL dan juga syarat minimum modal Rp 2 triliun untuk perbankan pastinya akan mempengaruhi pertumbuhan ini dan tentunya ke pendapatan premi (asuransi kredit) di industri asuransi," ungkap Widodo.

Sementara itu, Direktur Eksekutif AAUI Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menerangkan, sampai saat ini asosiasi masih belum mendapatkan kompilasi data lengkap dari semua perusahaan anggota terkait data. “Namun diprediksi tetap ada pertumbuhan pada posisi kuartal III-2021 dibanding posisi yang sama tahun lalu. Hal ini dilihat dari beberapa kegiatan/aktivitas ekonomi di masyarakat sudah berjalan, meskipun tetap dengan menerapkan protokol kesehatan," kata dia.

Dody menuturkan, pandemi Covid-19 memberi pelajaran bahwa masyarakat sadar akan risiko, sehingga mereka melakukan mitigasi risiko dengan membeli pertanggungan asuransi. Selain proteksi asuransi untuk skala industri, ke depan akan banyak produk-produk asuransi untuk skala individu. Tentunya perusahaan asuransi harus dapat membuat produk-produk ritel yang terdiferensiasi dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN