Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah asuransi mendapatkan pelayanan di sebuah kantor asuransi umum di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah asuransi mendapatkan pelayanan di sebuah kantor asuransi umum di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Reasuransi Berbenah Perbaiki Underwriting dan Portofolio Bisnis

Senin, 13 Desember 2021 | 18:17 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kinerja hasil underwriting industri reasuransi masih terkontraksi hingga kuartal III-2021. Perbaikan ketentuan underwriting dan portofolio bisnis pun sedang dan telah dilakukan perusahaan reasuransi.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, hasil underwriting reasuransi sampai dengan kuartal III-2021 terkontraksi 17,0% secara year on year (yoy) menjadi sebesar Rp 280 miliar. Penurunan itu memang lebih rendah dibandingkan kuartal I dan II-2021, masing-masing sebesar 48,89% dan 66,7%.

Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset & Analisa Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Trinita Situmeang mengakui adanya fenomena bahwa masih terjadi kontraksi pada hasil underwriting perusahaan reasuransi. Hal itu pada akhirnya turut memberikan dampak pada kinerja laba bersih reasuransi yang ikut terkontraksi.

"Perusahaan reasuransi harus fokus pada arah bisnis, strategi, biaya-biaya, dan pencadangan. Itu mungkin yang bisa dilakukan dalam rangka fokus pada perbaikan maupun improvement ke depan. Perbaikan itu tidak bisa terjadi over night (semalam), sehingga butuh waktu. Maka bisa kita lihat tiga atau enam bulan ke depan," kata Trinita, baru-baru ini.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)

Data OJK juga memaparkan, laba bersih reasuransi sampai dengan kuartal III-2021 tercatat sekitar Rp 310 miliar atau susut 8,9% (yoy). Kinerja keuangan reasuransi lebih ditopang dari pertumbuhan hasil investasi yang tumbuh 13,9% (yoy) menjadi Rp 550 miliar. Sementara premi dicatat relatif menurun dan klaim dibayar cenderung meningkat.

Trinita menerangkan, tentu perusahaan reasuransi memiliki strategi untuk memperbaiki hasil underwriting dan laba bersih. Utamanya adala memperbaiki ketentuan underwriting atau risk appetite. Kemudian, melakukan perbaikan dari sisi term & condition polis untuk memisahkan kontrak yang mesti memiliki perjanjian tunggal dan yang berlaku untuk banyak kontrak.

"Dari sisi hasil underwriting tentu memperbaiki komposisi bisnisnya, memperbaiki kualitas underwriting-nya, memperbaiki sistem pencadangan, memperbaiki profil risiko. Dari sisi hasil investasi, melakukan peninjauan kembali atau reviu terhadap hasil investasi, komposisi portofolio hasil investasi, dan secara jangka panjang harus melihat arah objektif perusahaan dan memilih instrumen investasi yang paling cocok tanpa menyimpang dari aturan yang sudah ditetapkan," papar Trinita.

Namun demikian, pihaknya belum bisa memproyeksi besaran atau saat ketika hasil underwriting atau laba bersih berbalik tumbuh positif. Pihaknya berharap pendekatan dan perbaikan yang dilakukan enam perusahaan reasuransi di Indonesia bisa mendorong industri lebih sehat, lebih besar, dan lebih kuat daripada saat ini.

"Nah untuk itulah saat ini sedang dilakukan konsolidasi dan kerja sama dengan bank, perusahaan asuransi, stakeholders, SDM juga terus ditingkatkan kualitasnya, jaringannya juga semakin baik. Kita melihat hal-hal itu sedang berlangsung," beber Trinita.

AAUI turut menyorot rasio investasi terhadap cadangan teknis sebesar 99,3% per September 2021. Rasio dibawah 100% itu tentu akan disikapi reasuransi dengan merubah sejumlah kebijakan investasinya, termasuk dengan menyesuaikan penempatan investasi dengan kewajiban atau potensi risiko di masa mendatang.

"Hal yang paling penting adalah mereviu kembali sistem pencadangannya di masing-masing perusahaan, diperbaiki, serta dilakukan pengelolaan investasi yang efektif dan aman. Kemudian melakukan penyesuaian terhadap kebijakan yang berkenaan dengan kemampuan (liabilitas) perusahaan asuransi umum atau reasuransi umum ketika timbul risiko," jelas Trinita.

Mengacu data 6 perusahaan reasuransi yang dikumpulkan AAUI, premi reasuransi turun 12,3% (yoy) menjadi sebesar Rp 13,39 triliun dikuartal III-2021. Sedangkan klaim nauk 14,2% (yoy) menjadi Rp 4,99 triliun. Hasil tersebut mencatatkan rasio klaim dibayar terhadap premi sebesar 37,3% atau meningkat dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 28,7%.

Trinita menerangkan, penuruanan premi dipengaruhi dari lini reasuransi kredit yang merosot 61,5% (yoy) atau sebesar Rp 2,67 triliun, sehingga premi hanya dibukukan sebesar Rp 1,67 triliun di kuartal III-2021. Sedangkan premi dari reasuransi properti hanya tumbuh 10,8% atau bertambah Rp 735 miliar, menjadi Rp 7,52 triliun.

"Yang terjadi di sini adalah penyesuaian portofolio oleh perusahaan reasuransi terhadap portofolio yang mayoritasnya adalah reasuransi kredit, kemudian terjadi switching atau disesuaikan, serta difokuskan kepada reasuransi lainnya atau lini bisnis lainnya, dan/atau dilakukan term & condition dengan perusahaan asuransi," pungkas Trinita. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN