Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah usai bertransaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Serpong, Tangerang, Banten. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah usai bertransaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Serpong, Tangerang, Banten. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Laba Bersih Perbankan 2022 Diperkirakan Bertumbuh 26%

Sabtu, 25 Desember 2021 | 10:43 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id — Meningkatnya aktivitas ekonomi tahun 2022 bakal mendongkrak laju ekspansi kredit dan meningkatkan net interest margin (NIM) atau margin bunga bersih perbankan nasional. Para analis memperkirakan, laba bersih perbankan tahun depan mampu bertumbuh 26% atau sekitar Rp 150 triliun.

Perkiraan ini bakal menjadi katalis penguatan harga saham emiten bank di Bursa Efek Indonesia (BEI).

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI) diprediksi menjadi emiten bank dengan per tumbuhan laba bersih tertinggi, sebesar 53,4% tahun depan, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI/BBRI) sebesar 34,5%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 27,5%, PT Bank Danamon Tbk (BDMN) 21,8%, dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA/BBCA) 12,8%.

Laba bersih empat bank besar dari sisi kapitalisasi pasar, yakni BCA, BRI, Mandiri, dan BNI diprediksi tumbuh 27,7% tahun depan.

Adapun bank berkapitalisasi kecil dan menengah diprediksi mencetak pertumbuhan laba bersih 13,9%.

Pengunjung berada di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta, beberapa waktu lalu (Foto: . Investor Daily/David Gita Roza)
Pengunjung berada di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta, beberapa waktu lalu  Foto ilustrasi: . Investor Daily/David Gita Roza

Tahun ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi laba bersih industri perbankan mencapai Rp 119 triliun, naik 13,65% dari 2020 sebesar Rp 104,71 triliun. Sampai Oktober 2021, laba bersih bank mencapai Rp 118 triliun.

Di sisi lain, kredit bank mulai melaju pada November 2021, didorong menggeliatnya aktivitas ekonomi, terutama industri pengolahan. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), per November 2021, kredit perbankan tumbuh 4,4% secara year on year (yoy) menjadi Rp 5.694,9 triliun, lebih besar dari Oktober 3%.

Pada periode itu, kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI) tumbuh 5% dan 3,5%, lebih besar dari kredit konsumsi 4,1%. KMK industri pengolahan tumbuh 5,1% menjadi Rp 658,6 triliun per November lalu, lebih tinggi dari Oktober 1,2%. Adapun KI industri pengolahan naik 6,5% menjadi Rp 241 triliun, lebih tinggi dari Oktober 1,3%.

Kinerja keuangan  TOp 5 Perbankan Umum
Kinerja keuangan TOp 5 Perbankan Umum

Sementara itu, kredit konsumsi ditopang kredit pemilikan rumah (KPR), yang tumbuh 9,3% menjadi Rp 566 triliun, melambat dari Oktober 9,6%. Kredit kendaraan bermotor (KKB) masih kontraksi 8,9% menjadi Rp 99,8 triliun, lebih baik dari Oktober yang turun 12,6%, sedangkan kredit multiguna tumbuh 3% menjadi Rp 911,5 triliun dari Rp 908,1 triliun.

Ekspansi kredit bank diprediksi berlanjut tahun depan dengan pertumbuhan 8%. Bahkan, sejumlah bank besar seperti BRI dan BNI berani mematok target pertumbuhan kredit tinggi hingga 10% pada 2022. Imbasnya, dua bank ini diprediksi menuai lonjakan laba bersih tahun depan.

Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto mengungkapkan, perseroan optimistis pertumbuhan kredit lebih tinggi tahun depan. Sebab, kondisi perekonomian berangsur normal, akibat melandainya pandemi Covid-19, meskipun muncul kasus varian baru Omicron di Tanah Air.

“Akhir 2021, penyaluran kredit diproyeksikan tumbuh sesuai target, sebesar 6-7% (yoy), dengan kualitas membaik. Tahun depan, BRI menargetkan pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, berkisar 8-10%,” jelas Aestika kepada Investor Daily, Kamis (23/12).

Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto
Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto

Dia menambahkan, perseroan melihat kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih sangat prospektif pada 2022. Sebab, pembiayaan bank terhadap UMKM di Indonesia saat ini baru berkisar 18-20%.

Adapun salah satu strategi utama BRI untuk meningkatkan pembiayaan UMKM pada 2022 adalah optimalisasi ekosistem ultramikro, yang saat ini menjadi sumber pertumbuhan baru (new source of growth).

Aestika menyatakan, terbentuknya holding ultramikro yang mengintegrasikan seluruh layanan keuangan BRI, PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam suatu ekosistem besar akan memperkuat peran BRI dalam mendukung pemberdayaan dan pengembangan usaha masyarakat, khususnya segmen mikro dan segmen ultramikro. Aestika menambahkan, kuartal III-2021, dana pihak ketiga (DPK) BRI tumbuh menjadi Rp 1.135,31 triliun.

Tabungan tercatat mendominasi DPK BRI, sebesar Rp 470,16 triliun, tumbuh 7,12% (yoy). Porsi dana murah (CASA) BRI naik menjadi 59,6%.

“Tahun depan, kami memproyeksikan DPK BRI tumbuh. Strategi pertumbuhan DPK adalah fokus pada dana murah melalui inovasi untuk menciptakan transaction based CASA, dengan menjadi sumber pembayaran pada platform ekosistem digital,” papar Aestika.

Dia mencatat, pembukaan rekening digital BRI saat ini tumbuh 460% (yoy). Perseroan juga melakukan pembaruan secara berkelanjutan fitur superapps BRImo. Selain itu, BRI terus mendorong transaksi melalui penguatan payroll integrated system serta business to business (B2B) platform on boarding, seperti Junio Smart, BRIMOLA, BRISmart dan BRIStore.

“Strategi lain, BRI terus melakukan perluasan kolaborasi dengan payment gateway serta prinsipal internasional untuk meningkatkan jumlah merchant baru, meningkatkan sales volume transaksi, serta dana murah dari merchant.

Hal tersebut dilakukan BRI untuk terus meningkatkan komposisi dana murah dengan target CASA berkisar 60-65%,” jelas Aestika.

Perkembangan kredit dan DPK bank umum
Perkembangan kredit dan DPK bank umum

Corporate Secretary BNI Mucharom memastikan, seiring pemulihan kinerja tahun ini, penyaluran kredit dan laba bersih tahun depan akan lebih tinggi. Pada 2022, BNI mematok pertumbuhan kredit berkisar 7-10%.

Laba bersih berpotensi meningkat lebih kuat lagi. Strategi yang dilakukan BNI tahun depan, kata dia, adalah melanjutkan hal yang sudah berjalan baik tahun ini.

Selain itu, akan banyak program inovatif yang digelar BNI, baik dari sisi kredit dan dana untuk membuat basis bisnis lebih besar lagi.

“Terkait Omicron, kami masih melihat perkembangan virus ini. Kami berharap virus ini dapat terkelola dengan baik, sehingga tidak menggagu sentimen yang sudah terjaga sangat baik saat ini,” kata Mucharom.

Perkembangan laba bersih
Perkembangan laba bersih

Secara terpisah, Direktur Strategy, Finance and SPAPM PT CIMB Niaga Tbk (BNGA) Lee Kai Kwong menyatakan, meskipun situasi perekonomian pada tahun kedua pandemi masih menantang, perseroan berhasil mencatatkan kinerja positif sampai kuartal III-2021.

Untuk tahun depan, perseroan optimistis kredit bisa meningkat berkisar 5-5,5%. Dia menambahkan, laba operasional CIMB Niaga diharapkan tumbuh berkisar 6-8%, sedangkan laba bersih diproyeksikan naik 15-20%, seiring ekspektasi penurunan kerugian kredit 5-10% dan kenaikan beban operasional dijaga di bawah 3%.

“Kami menilai perekonomian akan semakin membaik dan tren positif terkait pertumbuhan laba akan berlanjut. Jadi, 2022 seharusnya akan menjadi tahun yang lebih baik,” imbuh dia.

Regulator Optimistis

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, target pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini berkisar 4-6% (yoy), sedangkan tahun depan 6-8%. DPK diprediksi naik 7-9%.

BI memasang target pertumbuhan DPK 2022 lebih rendah dari tahun ini sebesar 8-10% (yoy). Hal tersebut dipicu aktivitas ekonomi yang mulai pulih, sehingga membuat simpanan di bank menurun. Saat ekonomi pulih, konsumsi masyarakat meningkat. Bank Indonesia (BI) dalam analisis uang beredar November 2021 mencatat, uang beredar dalam arti luas (M2) pada November 2021 tumbuh.

Posisi M2 pada November 2021 mencapai Rp 7.572,2 triliun atau tumbuh 11% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 10,5%. Faktor yang memengaruhi pertumbuhan M2 pada November 2021 adalah penyaluran kredit dan aktiva luar negeri bersih.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga optimistis pertumbuhan kredit perbankan pada 2022 akan lebih tinggi dari target tahun ini 4-4,5% (yoy). Ini terlihat pada aktivitas ekonomi yang berjalan dan juga korporasi mulai menarik kreditnya.

“Kami belum bisa sampaikan target pertumbuhan kredit 2022, karena RBB (rencana bisnis bank) masih ditinjau. Tetapi, pertumbuhan kredit akan lebih baik lagi ke depan, seiring perbaikan mobilitas dan turunnya kasus Covid-19,” jelas Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana.

Heru Kristiyana, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam diskusi Zooming with Primus-Strategi Perbankan di Era Pandemi, live di BeritasatuTV, Kamis (19/8/2021). Sumber: BSTV
Heru Kristiyana, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK)   Sumber: BSTV

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, LPS tidak memiliki target pertumbuhan kredit maupun DPK perbankan, seperti halnya BI dan OJK. Namun, dia meyakini, 2022 akan terjadi perbaikan ekonomi, sehingga kredit meningkat. Ini dipicu aktivitas ekonomi yang berjalan.

“Yang jelas, kami harapkan ekonomi tumbuh di atas 5%, sehingga kredit harusnya tumbuh double digit. Sebagai ilustrasi, kalau ekonomi tumbuh 6% atau lebih, pertumbuhan kredit seharusnya bisa di atas 15%,” papar Purbaya.

Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam Economy Outlook 2022 yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa
Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Rekomendasi Saham

Sementara itu, analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dan Michael Setjoadi menuturkan, perbankan Indonesia bakal mencetak pertumbuhan laba bersih solid tahun depan, sebesar 26%, didukung ekspansi kredit, kenaikan margin bunga bersih (net interest margin/NIM), dan penurunan provisi.

Adapun perbaikan ekonomi akan menurunkan risiko kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) dan provisi.

“Pertumbuhan kredit bakal didorong kredit konsumsi dan modal kerja,” kata Andrey dan Michael dalam laporan riset, belum lama ini.

Tahun depan, Andrey dan Michael memprediksi pertumbuhan kredit bank mencapai 8%, didukung kredit konsumsi dan modal kerja. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN/BBTN), BNI, BCA, dan Danamon bakal menikmati pertumbuhan KPR dan kredit kendaraan bermotor tahun depan. Andrey dan Michael mencatat, empat bank besar dari sisi kapitalisasi pasar, BCA, BRI, Mandiri, dan BNI akan menurunkan biaya kredit tahun depan.

Ini sejalan dengan pembukaan kembali aktivitas ekonomi, yang bakal menekan risiko NPL. Mereka juga telah mengalokasikan provisi besar tahun ini untuk menghadapi kredit bermasalah.

Berdasarkan kinerja keuangan kuartal III-2021, NPL bank besar masih terkendali, meski kasus Covid-19 melonjak awal semester II dan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Kinerja saham-saham perbankan
Kinerja saham-saham perbankan
Kinerja saham-saham perbankan

Sementara itu, demikian Andrey dan Michael, bank kecil dan menengah masih harus menyiapkan provisi, karena loan coverage ratio lebih rendah ketimbang bank besar. Alhasil, laju laba bersih bank kecil dan menengah diprediksi hanya 13,9%, di bawah empat bank besar 27%.

Andrey menambahkan, porsi CASA perbankan diprediksi naik menjadi 66% pada 2022, dibandingkan proyeksi tahun ini 65%. Ini akan mengangkat NIM dari 5,3% menjadi 5,4%, sehingga profitabilitas bank terdongkrak. Saat ini, empat bank besar memiliki rasio CASA 68,5%, sedangkan bank kecil dan menengah 54,6%.

Andrey dan Michael menetapkan rekomendasi overweight saham sektor bank. Saham bank saat ini diperdagangkan dengan valuasi menarik, yakni 2,5 kali price to book value (PBV) 2022. Risiko penurunan saham bank adalah terus bertambahnya kasus Omicron di Indonesia.

Saham pilihan RHB di sektor bank adalah BMRI dengan rekomendasi buy, target harga Rp 8.700, lalu BBRI buy, target harga Rp 4.800, BBTN buy, target harga Rp 2.280, dan PT Bank BJB (BJBR) buy, target harga Rp 1.900. RHB juga menyematkan rekomendasi buy BBCA, dengan target harga Rp 8.700, BBNI buy, target harga Rp 9.000, BDMN sell, target harga Rp 2.400, BNGA buy, target harga Rp 1.270, PT Bank Panin Tbk (PNBN) buy, target harga Rp 1.150, PT Bank Jatim Tbk (BJTM) buy, target harga Rp 1.000, dan PT BTPN Syariah Tbk (BTPS) buy, target harga Rp 3.780. (ac/th)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN