Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu (kiri) bersama pembicara diantaranya Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Adi Budiarso, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu, Business Director Allianz Life Indonesia, Pengamat Asuransi Tri Djoko Santoso saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis (27/1/2022). Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu (kiri) bersama pembicara diantaranya Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Adi Budiarso, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu, Business Director Allianz Life Indonesia, Pengamat Asuransi Tri Djoko Santoso saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis (27/1/2022). Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Pemerintah dan OJK Terus Dorong Penetrasi Asuransi

Jumat, 28 Januari 2022 | 17:18 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com) ,Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen untuk terus mendorong penetrasi dan densitas asuransi di Tanah Air. Penetrasi dan densitas yang tinggi diperlukan bukan saja untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tapi juga untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan, dengan penetrasi dan densitas yang tinggi, asuransi dapat menjadi stabilisator pasar modal.

Penetrasi atau perbandingan polis asuransi terhadap produk domestic bruto (PDB) Indonesia masih rendah. Begitu pula densitas atau pengeluaran per penduduk selama setahun untuk asuransi. Dengan penetrasi dan densitas yang masih rendah, Indonesia sulit menjadi negara maju dan sejajar dengan negara-negara anggota G20 lainnya.

Penetrasi asuransi di Indonesia tahun lalu baru mencapai 3,18%, meliputi penetrasi asuransi jiwa 1,19%, asuransi umum 0,47%, asuransi sosial 1,45%, dan asuransi wajib 0,08%. Sedangkan angka densitas baru sekitar Rp 1,82 juta. 

Penetrasi & densitas asuransi di Indonesia
 
Ikhtisar kinerja perusahaan asuransi

Masih rendahnya peran industri asuransi terhadap perekonomian domestik juga tercermin pada kontribusi aset industri asuransi yang baru mencapai 5,8% terhadap PDB. Padahal untuk menjadi Negara maju, kontribusi asuransi harus mencapai setidaknya 20% PDB.

Hal itu terungkap dalam webinar bertajuk Insurance Outlook 2022: Kebangkitan Industri Asuransi Pasca-Pandemi Covid-19 di Beritasatu TV, Kamis (27/1), yang terselenggara atas kerja sama dengan BUMN Holding Perasuransian dan Penjaminan Indonesia Financial Group (IFG) dan Allianz Life Indonesia.

Webinar yang dipandu Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu itu menghadirkan Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2A OJK Ahmad Nasrullah, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal  Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Adi Budiarso, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo, Business Director Allianz Life Indonesia Bianto Surodjo, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu, dan pengamat asuransi Tri Djoko Santoso.

Belum Optimal

Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Adi Budiarso saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis (27/1/2022). Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Adi Budiarso saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis (27/1/2022). Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan BKF Kemenkeu, Adi Budiarso mengungkapkan, peran industri asuransi masih rendah terhadap perekonomian domestik. Kontribusi aset industri asuransi baru mencapai 5,8% terhadap PDB dengan penetrasi di bawah 4%.

“Padahal, untuk menjadi Negara maju, kontribusi asuransi harus mencapai 20% PDB. Jadi, kita perlu mendorong ke 20% PDB dalam kurun waktu 20 tahun atau sampai tahun 2045. Ini menjadi PR kita semua,” kata dia.

Menurut Adi, sektor keuangan Indonesia, baik aset bank, kapitalisasi pasar modal, asuransi, maupun dana pension (dapen) relatif sangat dangkal dibandingkan negara-negara lain di Asean. Itu karena sektor keuangan Indonesia masih didominasi sektor perbankan.

Dia menjelaskan, pada kuartal III-2021, persentase proporsi aset bank di sektor keuangan mencapai 78%, diikuti asuransi (12%), lembaga pembiayaan (3%), dapen (3%), dan lain-lain (4%). IKNB sebagai sumber pendanaan jangka panjang masih memiliki porsi dan peran yang sangat kecil terhadap sektor keuangan maupun PDB. Kondisi ini menggambarkan relative masih rendahnya kapasitas penghimpunan dana oleh sektor keuangan di Indonesia, terutama di luar perbankan.

“Perkembangan industri asuransi di Indonesia perlu kita lihat. Kami ingin mendorong inisiatif pengembangan. Pemerintah berkomitmen untuk mendorong penetrasi dan densitas asuransi bersama OJK. Aset industri asuransi cukup meningkat, tetapi dibandingkan PDB masih di bawah potensi Indonesia,” tutur dia.

Adi Budiarso mencontohkan, berdasarkan survei nasional literasi dan inklusi keuangan 2019, indeks literasi asuransi dan inklusi asuransi masing -masing mencapai 19,4% dan 13,2%, meningkat dibanding pada 2016 (15,8% dan 12,1%). Namun, indeks literasi dan inklusi keuangan masih tetap didominasi industri perbankan.

“Bahkan ini di Asean juga terendah. Filipina yang memiliki PDB per kapita lebih rendah dari Indonesia bisa meningkatkan penetrasi dan densitasnya. Artinya, literasi dan inklusi ini kuncinya. Banyak pengambilan kebijakan di sektor ekonomi keuangan, khususnya asuransi, tidak dibarengi literasi yang memadai,” papar dia.

Adi mengemukakan, selain kebijakan yang memadai, harus ada peningkatan kualitas dan kuantitas SDM di sektor jasa keuangan. Jumlah profesi aktuaris, misalnya, masih sangat rendah, padahal aktuaris memiliki peran kunci dalam industri asuransi, terutama dalam menjaga praktik tata kelola yang baik. Alhasil, keberadaan mereka memengaruhi kelangsungan usaha.

“Jumlah aktuaris di Indonesia relative rendah dibandingkan negara-negara peer meskipun dalam lima tahun terakhir menunjukan tren pertumbuhan. Di Indonesia, jumlah aktuaris yang bekerja per kantor itu 1,2, masih kalah dari Filipina yang sudah 1,8. Jumlah aktuaris kita bertumbuh, tetapi pertumbuhannya tidak cukup menggembirakan,” tandas dia.

Digitalisasi Asuransi

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis (27/1/2022). Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis (27/1/2022). Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Sementara itu, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2A OJK, Ahmad Nasrullah mengungkapkan, OJK telah mempersiapkan master plan digitalisasi asuransi untuk kurun waktu lima tahun ke depan.

“Aturan ini akan membantukinerja industri asuransi pada era digitalisiasi,” ujar dia.

Kelima master plan tersebut, menurut Nasrullah, terdiri atas penguatan ketahanan daya saing, akselerasi transformasi digital, peningkatan ekosistem pendukung pertumbuhan yang kontributif, penguatan pengawasan berbasis teknologi, peningkatan literasi keuangan, dan perlindungan konsumen.

Dia menjelaskan, kelima pilar tersebut menjadi perhatian OJK, khusunya menyangut akselerasi transformasi digital dan penguatan pengawasan berbasis teknologi .

“Di era digitalisasi ini, dua pilar tersebut menjadi perhatian, bagaiamana kita akan mengembangkan industri asuransi dengan platform digital. Tentunya kami memiliki tugas untuk melindungi konsumen, terlepas dari momentum digitalisasi,” tegas dia.

Secara spesifik, kata dia, strategi OJK dalam meningkatkan pemanfaatan digitalisasi pada industri asuransi adalah mendorong inovasi dan akselerasi transformasi digital sektor jasa keuangan. Kecuali itu, OJK mengembangkan pengaturan yang mendukung ekosistem sektor keuangan digital.

Nasrullah menambahkan, OJK juga meningkatkan kapasitas SDM di sektor jasa keuangan seiring dengan perkembangan industri digital. Langkah selanjutnya yaitu memperkuat peran riset untuk mendukung inovasi dan transformasi digital sektor jasa keuangan. OJK pun terus mengakselerasi penerapan pengawasan berbasis teknologi informasi di OJK dan pemanfaatan regulatory technology oleh lembaga jasa keuangan.

“Hal-hal tersebut menjadi fokus OJK sebagai upaya mengantisipasi pengembangan. Jadi, kami akan melakukannya secara seimbang. Kami tangkap momentum digitalisasi ini untuk mengembangkan industri, lalu fokus juga pada pertumbuhan industrinya, selain menjaga kepentingah konsumen,” papar dia.

Menurut Ahmad Nasrullah, potensi digitalisasi pada industri keuangan nonbank (IKNB) sangat besar. Pengguna internet mencapai 200 juta jiwa. Dari jumlah itu, sekitar 95%-nya mengakses internet melalui smartphone.

“Ini peluang besar. Artinya, bagaimana kita bisa menciptakan platform digital untuk sarana distribusi. Lebih penting lagi produk-produk inovatif yang bisa diserap kalangan milenial. Jadi, sangat besar potensi kita untuk mengembangan asuransi dari sisi pengembangan digitalnya,” ujar dia.

Di sisi lain, Menurut Nasrullah, OJK tengah fokus pada insurtech. OJK tengah mengkaji aturan yang belum pernah dibuat, meliputi aspek-aspek pemasaran produk, pelayanan, dan operasional.

“Aspek pemasaran produk sudah berjalan dan sudah kami buat aturan pengecualian untuk penjualan secara face to face PAYDI (produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi),” ujar dia.

Data OJK menunjukkan, pertumbuhan industri asuransi pada 2021 mengalami perbaikan. Aset industri asuransi saat ini mencapai sekitar Rp 800 triliun, tumbuh dari 2020 sekitar 8%. Tren ini diharapkan terus berlanjut seiring kian terkedalinya Covid-19 dan kembalinya kepercayaan masyarakat kepada industri asuransi.

Gotong Royong

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis 27 Januari 2022. Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis 27 Januari 2022. Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Beritasatu Photo/Uthan AR

Di sisi lain, Direktur Eksekutif AAJI, Togar Pasaribu mengatakan, OJK, pemerintah, dan pelaku industri perasuransian akan terus menjalankan komitmen guna mendorong penetrasi dan densitas agar asuransi berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Togar, untuk menjadi Negara maju, termasuk menjadi anggota G20, Indonesia harus ‘sedia payung sebelum hujan’. Dengan penetrasi dan densitas yang masih rendah, tidak mungkin Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara lain.

“Premi harus didorong. Dengan premi yang besar, industri asuransi juga bisa menjadi penyeimbang pasar modal, bukan hanya meningkatkan kesejahteraan rakyat serta mendorong pertumbuhan dan memperkuat fundamental ekonomi,” tandas dia.

Merujuk data Swiss RE dan AAJI 2021, Togar Pasaribu memaparkan, penetrasi asuransi jiwa terhadap PDB hanya 1,2% pada 2020. Posisi itu tidak banyak bergerak, bahkan menurun sejak 2016 di level 1,3%. Dibandingkan lima negara maju di Asia dan lima negara Asean, penetrasi Indonesia berada di posisi paling bontot.

Dari sisi densitas, posisi Indonesia lebih baik, tapi masih menempati posisi ke-9 dari 10 negara. Densitas Indonesia baru sekitar US$ 54 pada 2020. Negara tetangga, Malaysia, memiliki densitas US$ 415, menempati posisi terbaik ke-2 se-Asean, di bawah Singapura dengan densitas US$ 8,983.

“Dibandingkan lima negara maju dan lima negara Asean, densitas kita setingkat di atas Filipina, tapi di bawah Vietnam, Malaysia, dan Singapura. Dari sisi sisi penetrasi, Indonesia paling rendah di antara negara-negara Asean. Kondisi ini sudah terjadi bertahun-tahun sehingga memang perlu dibenahi,” papar dia.

Togar menambahkan, sejatinya bisnis asuransi jiwa sudah berada di Indonesia sejak 1859, sudah 162 tahun atau 1,5 abad lebih. Tapi penetrasi dan densitas di Indonesia masih sangat rendah.

“Literasi, inklusi, dan pendalaman pasar harus digencarkan lagi. Ini tidak bisa dilakukan asosiasi atau OJK saja. Memang harus melibatkan seluruh stakeholders. Ini akan sangat membantu jika masuk kurikulum pendidikan nasional seperti yang kami usulkan,” ujar dia.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis 27 Januari 2022. Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Beritasatu Photo/Uthan AR
Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis 27 Januari 2022. Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Beritasatu Photo/Uthan AR

Hal senada dikemukakan Ketua AAUI, HSM Widodo. Menurut dia, mendorong inklusi dan densitas asuransi perlu dilakukan segenap pemangku kepentingan secara gotong royong. Apalagi inklusi keuangan diTanah Air baru mencapai 79% dengan literasi masih di bawah 39%. Dengan kondisi itu, akan banyak demonstrasi dan perselisihan (dispute) di industri asuransi.

“Ini menjadi tugas bersama antara industri dan public services untuk meningkatkan literasi keuangan. Juga untuk meningkatkan sistem ekonomi berkelanjutan. Kita sebagai pelaku industri bertanggung jawab atas industri dan bangsa ini,” tegas dia.

Populer dan Diminati

Business Director Allianz Life Indonesia Bianto Surodjo,saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis 27 Januari 2022. Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Beritasatu Photo/Uthan AR
Business Director Allianz Life Indonesia Bianto Surodjo,saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis 27 Januari 2022. Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Beritasatu Photo/Uthan AR

Di pihak lain, Business Director Allianz Life Indonesia, Bianto Surodjo mengungkapkan, asuransi adalah produk yang luar biasa karena memberikan pemberdayaan (empowerment) bagi masyarakat. Dengan memiliki asuransi, mereka lebih bebas melakukan tindakan ekonomi karena risiko-risikonya ter -cover, baik proteksi terhadap asuransi jiwa maupun asuransi kerugian.

“Kami di Allianz bersama pelaku di industri lain berharap asuransi bisa menjadi lebih populer dan diminati masyarakat. Allianz tentu saja akan terus menjaga disiplin postur finansial tetap kuat, fokus pada nasabah dari sisi produk dan lainnya, serta fokus digitalisasi untuk memberikan nilai tambah,” tandas Bianto.

Togar Pasaribu menjelaskan, total polis asuransi jiwa pada kuartal III-2021 mencapai 19,11 juta, meningkat 14,5% dibandingkan tahun lalu, bahkan lebih tinggi dibandingkan sebelum Covid-19. Total polis perorangan juga naik dari 16,6 juta menjadi 18,51 juta, atau ada penambahan polis perorangan sekitar 2 juta orang. Peningkatan pun dicatatkan dari aspek jumlah tertanggung.

Menurut Togar, total pendapatan asuransi jiwa mencapai Rp 171,4 triliun, tumbuh 38,7% secara tahunan (year on year/yoy) sampai kuartal III-2021. Total pendapatan premi mencapai Rp 149,4 triliun, tumbuh 11,5%. Peningkatan ini sudah lebih tinggi disbanding semasa pandemi.

“Mungkin ini pertanda bahwa industri asuransi jiwa pada kuartal III-2021 mulai rebound. Sedangkan hasil investasi mencapai Rp 13,0 triliun, melonjak 173,7% (yoy),” tutur dia.

Kendati premi yang terkumpul di industri asuransi meningkat, kata Togar, kanal distribusi keagenan turun 10,1% (yoy) pada kuartal III-2021. Itu terjadi sebagai dampak penyebaran Covid-19 varian Delta. Ada indikasi agen dan calon nasabah masih takut untuk bertemu.

“Penurunan juga dicatatkan premi dari lini asuransi perkumpulan. Ini tentu dipahami karena indeks manufaktur (PMI) sempat turun dengan pertumbuhan PDB terkontraksi 3,5%,” ucap dia.

Togar Pasaribu menambahkan, banyak segmen asuransi kumpulan yang datang dari perusahaan. Sejalan dengan itu, premi dari segmen individu meningkat, bahkan lebih tinggi dari pencapaian 2019. Hal menarik lainnya adalah peningkatan signifikan sebesar 47,1% dari lini asuransi syariah.

Adapun klaim yang sudah dibayarkan asuransi jiwa pada Januari-September 2021 mencapai Rp 107 triliun per kuartal III-2021.

“Tentu banyak keluarga yang terbantu, khususnya ketika ekonomi sedang lesu akibat pandemi. Tapi nilai itu menurun dibandingkan kuartal III- 2019 maupun kuartal III-2020, sebagai indikasi masyarakat masih takut datang ke rumah sakit,”’ tutur dia.

Togar mengemukakan, ada peningkatan sebesar Rp 65,7% atau menjadi Rp 14,6 triliun untuk klaim meninggal dunia sebagai dampak Covid-19. Klaim nilai tebus atau surrender turun 11,9% (yoy) menjadi Rp 59,4 triliun pada kuartal III-2021.

“Ini fenomena menarik. Dalam situasi pandemi, masyarakat lebih suka melakukan partial withdrawal dibanding surrender. Tercermin bahwa klaim partial withdrawal meningkat dari Rp 10,2 triliun menjadi Rp 12,6 triliun, naik 22,6% pada kuartal III-2021,” papar dia.

Klaim kesehatan perorangan, menurut Togar, juga meningkat dari Rp 3,4 triliun menjadi Rp 4,8 triliun, tumbuh 43,6%. Industri asuransi jiwa pun telah membayarkan klaim terkait Covid-19 sejumlah Rp 7,36 triliun, terdiri atas klaim meninggal dunia, sakit, termasuk isoman.

Bangkit Tahun Ini

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu (kiri) bersama pembicara diantaranya Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Adi Budiarso, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu, Business Director Allianz Life Indonesia, Pengamat Asuransi Tri Djoko Santoso saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis (27/1/2022). Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu (kiri) bersama pembicara diantaranya Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Adi Budiarso, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu, Business Director Allianz Life Indonesia, Pengamat Asuransi Tri Djoko Santoso saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis (27/1/2022). Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Togar Pasaribu optimistis bisnis asuransi jiwa terus bertumbuh pada 2022 jika melihat konsumsi rumah tangga dan investasi yang terus meningkat. Indeks harga saham gabungan (IHSG) juga bakal rebound, sehingga imbal hasil dari penempatan investasi perusahaan asuransi dan nasabah tahun ini lebih baik. Peluang pun kini lebih terbuka seiring meningkatnya kesadaran (awareness) masyarakat terhadap asuransi. Meski begitu,

Togar berharap pasar modal yang menjadi salah satu wadah investasi bagi asuransi jiwa tidak lagi mengelola saham-saham gorengan, sehingga hasil investasinya semakin baik. Kecuali itu, pemerintah diharapkan turut memasukkan materi asuransi jiwa dan umum dalam kurikulum pendidikan nasional, mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

“Tentu kami berharap adanya Lembaga Penjamin Polis (LPP). Memang masih banyak perdebatan, tapi AAJI terbuka untuk kembali berdiskusi. Terakhir adalah aspirasi yang kami suarakan sejak 2008, yakni pemberian insentif pajak kepada pemegang polis, ini sudah dilakukan negara lain seperti Thailand,” ujar dia.

Ketua AAUI, HSM Widodo menuturkan, pihaknya mencoba memuluskanstrategi inovasi yang diemban industri asuransi untuk mendukung perekonomian nasional di masa depan. Salah satunya adalah mendorong penetrasi asuransi lewat digitalisasi di perusahaan asuransi.

“Ada konsep baru yang coba untuk didorong melalui digitalisasi. Potensinya sangat besar,”ucap dia.

Widodo mencontohkan, potensi ekonomi Indonesia mencapai Rp 2.000 triliun pada 2025. Bank Indonesia (BI) membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 4,7-55% yang berasal dari ekonomi digital, yakni dari e-commerce Rp 570 triliun, e-money Rp 337 triliun, dan Rp 48.000 triliun lainnya berasal dari perbankan digital.

Widodo mengakui, kekurangan di asuransi, digitalisasi selama ini dianggap hanya berlaku dalam menjual produk asuransi.

“Kalau hanya begitu, produk menjadi komoditas, sehingga harganya bakal turun terus. Jadi, harus ditekankan bahwa digitalisasi bukan hanya sebagai saluran distribusi, namun juga sampai proses klaim,” tegas dia.

Alhasil, kata dia, transformasi di industri asuransi harus keluar dari tataran yang ada. “Digitalisasi harus keluar dari sekadar proses penjualan, tapi juga harus dipikirkan untuk klaim secara digital. AAUI coba drive ke arah sana,” tutur dia.

Dia mengungkapkan, pendekatan inovasi terhadap klaim dilakukan AAUI di antaranya melalui smartContract Custodian Platform. Lewat custodian ala AAUI itu, klaim dibayarkan lebih cepat pada waktunya, bahkan dapat secara otomatis.

“Ini sudah diterapkan pada asuransi tanaman berbasis indeks. Contohnya ada perlindungan asuransi terhadap kekurangan curah hujan untuk tanaman cokelat di Kabupaten Luwu (Sulawesi Selatan),” kata dia.

Widodo menerangkan, jika mendeteksi kekurangan curah hujan, sistem akan memutuskan terjadi klaim. OJK sudah memberikan lisensi kepada AAUI bahwa asuransi tanaman berbasis indeks ini dapat dijual perusahaan asuransi umum di Indonesia.

Saat ini, data kelembaban tanah diambil harian dan akan dipublikasi AAUI untuk digunakan seluruh perusahaan asuransi umum. Data itu tidak saja untuk memonitor polis asuransi tanaman berbasis indeks yang telah dijual, tapi juga membangun pricing.

Ke depan, AAUI pun akan mengambil data ketinggian permukaan dan temperature air laut untuk membuka celah inovasi produk asuransi lainnya. Langkah tersebut akan membuat asuransi umum memiliki nilai baru. Asuransi kini tidak cuma menjual janji bila terjadi musibah.

“Contohnya petani bawang memakai 36% biaya modal tanam untuk membiayai pompa air. Kalau ada perubahan iklim, mungkin akan terjadi perubahan dan petani perlu mengeluarkan biaya lebih,” papar Widodo.

Dia menegaskan, lewat inovasi tersebut, asuransi umum akan ikut serta memberdayakan para petani. Jika pada bulan pertama terdeteksi adanya indikasi kekurangan air, klaim akan cair melalui e-wallet untuk menutup biaya tambahan pengairan. Besaran yang dibayarkan tergantung biaya kekurangan.

Pada petani cokelat, jika curah hujan berlebih, buah coklat akan busuk, sehingga perlu biaya tambahan untuk membungkus cokelat. Biaya itulah yang akan dibayarkan asuransi.

“Jadi, ke depan, asuransi umum bukan lagi asuransi kerugian, tapi asuransi untuk mengantisipasi agar petani tidak gagal panen. Ini juga bisa untuk antisipasi seiring perubahan iklim,” ucap dia.

Menurut Widodo, setelah membantu penyediaan produk asuransi berbasis indeks tanaman coklat untuk petani di wilayah Sulawesi, AAUI kini menyiapkan produk untuk tanaman bawang di wilayah Jawa dan mengembangkan produk lainnya. Pendekatan ini juga berpeluang untuk memproteksi produksi tambang.

“Produk ini memang kompleks, karena kerja sama dijalin dengan perusahaan perkebunan inti dalam rangka melindungi plasmanya. AAUI menekankan gaya asuransi baru.  Jadi, pemegang polis tidak perlu mengajukan klaim, tapi pihak asuransi yang monitoring sehingga klaim terjadi secara otomatis,” kata dia.

Peluang dan Tantangan

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu (kiri) bersama pembicara diantaranya Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Adi Budiarso, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu, Business Director Allianz Life Indonesia, Pengamat Asuransi Tri Djoko Santoso saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis (27/1/2022). Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu (kiri) bersama pembicara diantaranya Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Adi Budiarso, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu, Business Director Allianz Life Indonesia, Pengamat Asuransi Tri Djoko Santoso saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis (27/1/2022). Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Business Director Allianz Life Indonesia, Bianto Surodjo mengemukakan, industri perasuransian masih memiliki peluang yang besar, sekaligus tantangan yang mesti disikapi dengan baik. Indonesia menawarkan peluang besar.

Dengan populasi 270 juta, Indonesia diperkirakan menjadi negara dengan PDB ke-7 terbesar dunia pada 2030 dari saat ini ke 16. Itu menjadikan peluang bisnis asuransi menarik karena penetrasinya masih rendah.

“Peluang jangka panjang tidak hilang, meski peluang untuk tumbuh sempat tertahan dalam dua tahun terakhir. Pengamatan kami, terjadi perubahan tren dari konsumen Indonesia, baik dari sisi makro maupun dari sisi konsumen. Tantangannya adalah literasi asuransi masih terbatas. Ini sudah lama terjadi, tapi dalam masa pandemi kemarin awareness orang terhadap asuransi meningkat,” papar dia.

Tantangan lainnya, kata Bianto, adalah saluran distribusi yang masih terbatas. Saat ini asuransi jiwa masih fokus pada saluran distribusi agen, tapi terkendala akibat pandemi. Tantangan terakhir adalah dari faktor ekonomi yang membuat daya beli masyarakat berkurang.

“Kalau tiga faktor tersebut bisa dijawab atau dikurangi, tentu peluang yang lebih besar akan terbuka, apalagi setelah pandemi selesai. Salah satu tren yang berkembang cepat adalah asuransi syariah,” ujar dia.

Setidaknya, menurut Bianto, ada tiga hal yang harus dilakukan pelaku perasuransian. Pertama, perusahaan asuransi harus disiplin keuangan supaya dapat melaksanakan kewajibannya ketika dibutuhkan nasabah.

Kedua, memberikan nilai lebih kepada nasabah melalui produk yang sesuai, transparansi, dan manfaat yang sesuai, serta pelayanan lanjutan  Hal yang tidak kalah penting adalah digitalisasi untuk nasabah dan menekan biaya.

“Dalam hal ini, digitalisasi bisa membuat proses lebih optimal dan murah. Karena lebih murah, perusahaan asuransi bisa mentransmisikan produk secara lebih murah. Kami selalu melihat customer service and value adalah nomor satu,” tandas dia.

Bianto menambahkan, digitalisasi terus dilakukan Allianz. Sebab, pihaknya percaya bahwa ketika nasabah semakin mudah dan semakin mengerti produk asuransi, mereka akan membeli produk dengan nilai lebih tinggi, karena produknya dianggap lebih murah. Allianz Life pun memetik hasil positif dari upaya tersebut.

“Dalam kurun dua tahun saat pandemi terjadi, WNBT (written new business premium) yang dihitung dari premi tahun pertama 10% dan 90% single premium, dalam dua tahun naik 32%, yaitu dari Rp 2,28 triliun pada 2019 menjadi Rp 3,03 triliun pada 2021,” kata dia.

Pencapaian itu juga turut mendongkrak market share Allianz Life dari 8,2% menjadi hampir 12% (11,9%). “Mudah- mudahan dengan fokus terhadap finansial, nasabah, dan digitalisasi, perusahaan bisa lebih dekat dengan para nasabah lagi. Indonesia dalam jangka panjang masih terbuka peluang besar,” ujar dia.

Produk Tersegmentasi

Pengamat Asuransi Tri Djoko Santoso saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis 27 Januari 2022. Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Beritasatu Photo/Uthan AR
Pengamat Asuransi Tri Djoko Santoso saat acara Insurance Outlook 2022 dengan tema Kebangkitan Industri Asuransi Pasca Pandemi Covid-19 secara virtual pada Kamis 27 Januari 2022. Webinar ini merupakan kerjasama dengan Indonesia Financial Group dan Allianz Life Indonesia. Beritasatu Photo/Uthan AR

Pengamat asuransi, Tri Djoko Santoso mengatakan, perusahaan asuransi sejak 2020-2021 banyak meluncurkan produk tersegmentasi guna memenuhi kebutuhan nasabah setidaknya sesuai tingkat usia.

“Setidaknya ada tiga produk utama perencanaan keuangan yang sudah diluncurkan perusahaan asuransi. Untuk generasi Y dan Z ada produk dana pendidikan. Ada produk dana pensiun untuk generasi X dan Y. Sedangkan produk waris tersedia untuk generasi X. Dari sisi produk, perusahaan asuransi sudah cukup kuat untuk berbisnis pada 2022,” papar dia.

Dari sisi distribusi, menurut Tri Djoko Santoso, agen menjadi aset terpenting perusahaan asuransi karena dapat mendatangkan kontribusi. Sebaliknya, oknum agen juga bisa membawa musibah. Produk seharusnya diikuti agen yang baik agar bisa memberikan kontribusi lebih. Karena itu, digitalisasi menjadi penting guna meningkatkan kualitas bisnis. Aplikasi untuk agen, misalnya, penting untuk memudahkan dan meningkatkan proses akuisisi.

“Jadi, saya melihat momen Covid-19 dimanfaatkan perusahaan asuransi untuk berbenah, baik dari sisi produk, kanal distribusi, maupun etika,” tutur dia.

Alhasil, kata Tri, seharusnya kebangkitan industri asuransi pada masa pandemi akan sangat menjanjikan. “Asalkan dengan bisnis yang berkualitas, bertanggung jawab, melakukan pembayaran klaim yang sesuai, dan menjaga perlindungan konsumen,” tandas Tri. (az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN