Menu
Sign in
@ Contact
Search
Petugas layanan sebuah perusahaan pembiayaan menjelaskan kepada pelanggan perihal kredit kepemilikan kendaraan bermotor, di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petugas layanan sebuah perusahaan pembiayaan menjelaskan kepada pelanggan perihal kredit kepemilikan kendaraan bermotor, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Multifinance Optimistis Piutang Pembiayaan Rebound Tahun Ini

Senin, 21 Februari 2022 | 08:03 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Industri multifinance optimistis piutang pembiayaan akan tumbuh positif pada tahun 2022, setelah membukukan pertumbuhan negatif 1,45% pada tahun lalu. Didukung dengan berlanjutnya relaksasi PPnBM, harga komoditas yang masih tinggi, dan pengendalian pandemi yang lebih baik.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menyampaikan, piutang multifinance masih ditopang dari pembiayaan multiguna. Tahun lalu semua lini piutang mulai dari pembiayaan investasi dan modal kerja sudah tumbuh, namun belum mampu mendongkrak total piutang karena pembiayaan multiguna masih menurun.

Baca juga: Melesat 107%, Multifinance Bukukan Laba Rp 15,28 Triliun

"Pada 2021, kata dia, memang ada geliat tren perbaikan penjualan dan permintaan pembiayaan multiguna akibat adanya insentif PPnBM. Namun penjualan otomotif belum bisa optimal karena item microchips yang terbatas dan beberapa isu lain. Sehingga produksi mempengaruhi produksi kendaraan dan berdampak pada percepatan realisasi pemulihan piutang pembiayaan," kata Suwandi kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV
Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI)  Sumber: BSTV

Mengacu statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Desember 2021,  piutang pembiayaan investasi naik 2,99% menjadi Rp 114,27 triliun dan pembiayaan modal kerja meningkat 17,53% menjadi Rp 28,95 triliun. Piutang pembiayaan berdasarkan prinsip OJK naik 139,77% menjadi Rp 422 miliar dan piutang pembiayaan berdasarkan prinsip syariah naik 18,66% menjadi Rp 13,67 triliun.

Namun demikian, peningkatan pada sejumlah lini itu tidak berjalan optimal karena kontributor terbesar yakni piutang pembiayaan multiguna masih melambat 6,99% menjadi sebesar Rp 206,90 triliun pada akhir 2021. Secara total, piutang pembiayaan multifinance susut 1,49% menjadi Rp 364,23 triliun.

Baca juga: Bakal Jadi Multifinance Digital, BFI Finance (BFIN) Masuk Ekosistem Bank Jago (ARTO)?

Kendati ditutup menurun, piutang pembiayaan itu mengindikasikan tren positif. Telah terjadi perbaikan piutang pembiayaan meskipun ada supply issue dan tentu demand issue karena banyak masyarakat yang masih membatasi diri untuk beraktivitas. Pihaknya percaya masyarakat masih berkeinginan untuk membeli mobil seiring masih diberlakukannya insentif PPnBM.

"Di tahun 2022, kita semua bersikap optimis dan positif. Apalagi OJK juga menyampaikan piutang kalau bisa tumbuh double digit 12% yoy. Ini didukung dengan pengendalian pandemi yang lebih baik dan mobilitas yang sudah mulai bergerak. Kita akan kejar (proyeksi OJK) kesana," beber Suwandi.

Menurut dia, proyeksi itu cukup masuk akal didukung harga komoditas yang cukup tinggi, seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan batu bara. Kondisi tersebut membuat pembiayaan investasi akan melanjutkan pertumbuhan. Meski juga akan ada tantangan bahwa produksi alat berat ikut terhambat kelangkaan microchips.

Baca juga: Perpanjangan Stimulus OJK Bikin Saham Multifinance Bisa Terdongkrak

Selain itu, pembiayaan modal kerja diyakini diproyeksi akan meningkat dengan pertimbangan penanganan pandemi belakangan ini bisa terkendali lebih cepat. "Saya yakin kita bisa mengejar proyeksi 12%. Tapi kalau ada gangguan dari penyebaran kasus pada dua bulan ini, mungkin kita ambil proyeksi moderat 7-9%. Begitu juga kalau ke depan kembali ada situasi yang tidak bisa dihindari atau supply microchips masih sulit, kita juga masih akan tumbuh tapi 5-6%," jelas dia.

Suwandi mengatakan, proyeksi harus disikapi secara optimis dan terus mendukung tindakan regulator. Apalagi melihat piutang sempat turun cukup dalam pada tahun 2020 hingga 18%, sudah seharusnya melihat situasi menjadi lebih baik dan bisa tumbuh double digit.

Sementara itu, OJK juga mencatat bahwa saldo kas dan setara kas multifinance menurun menjadi Rp 27,67 triliun pada akhir 2021, atau susut 34,81% dibandingkan Rp 42,45 triliun pada akhir 2020. "Penurunan saldo kas dan setara kas multifinance itu menunjukkan tren positif. Artinya, dana multifinance tidak dibiarkan menganggur sebagai indikasi ada upaya untuk ekspansi pembiayaan," ujar Suwandi.

Baca juga: Pertumbuhan Laba Bersih Multifinance Diproyeksi Berlanjut di 2022

Pada akhir 2021 lalu, multifinance berhasil membukukan laba bersih tahun 2021 sebesar Rp 15,28 triliun, melesat 107,57% secara tahunan (year on year/yoy). Menurut Suwandi, pencapaian tersebut erat kaitannya dengan perkembangan kualitas pembiayaan (non performing financing/NPF) terus membaik dari 4,01% pada 2020 menjadi 3,53% di akhir 2021.

"Nah NIM juga mulai terlihat lebih bagus karena kualitas pembiayaan mulai bagus. Kemudian cost of fund (COC) atau biaya dana itu bagus ketika rezim bunga rendah. Semoga melihat kondisi AS yang belum baik, sepertinya mereka tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunganya, sehingga kita masih bisa menikmati suku bunga rendah, khususnya untuk pembiayaan baru," terang dia.

Suwandi bilang, arahan dan kebijakan OJK untuk memberikan restrukturisasi pembiayaan terbukti jitu. Multifinance pun bisa lebih sehat dengan tidak terburu-buru melakukan eksekusi pembiayaan bermasalah. "Masyarakat Indonesia juga sebenarnya patuh untuk membayarkan cicilannya. Waktu lebih yang diberikan karena kasus Covid-19 ini akhirnya terbukti memberikan manfaat, baik bagi debitur maupun bagi multifinance," kata dia.

Baca juga:70% Portofolio Restrukturisasi Pembiayaan Multifinance Kembali Normal

Lebih lanjut, Suwandi menuturkan, keandalan sistem informasi lewat digitalisasi yang dilakukan sejumlah multifinance juga memberikan hasil yang baik. Selain sebagai upaya menjaring konsumen baru, biaya yang dikeluarkan lebih efisien. Sehingga mendorong rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) bisa lebih baik, dari sebelumnya lebih dari 90% menjadi sekitar 80%.

Dia mengakui, di awal pemberlakuan program restrukturisasi sempat terjadi kesalahpahaman dari masyarakat bahwa pembiayaan bermasalah langsung dihapuskan. Seiring waktu masyarakat paham maksud dan realisasi dari kebijakan tersebut sehingga kabar yang beredar tidak terlalu gaduh. Namun demikian, APPI mengimbau agar setiap multifinance tetap memegang komitmennya dalam menjaga perlindungan konsumen. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com