Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Fintech Lending Beri Sinyal Naikkan Bunga Maksimum

Selasa, 15 Maret 2022 | 20:14 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Fintech p2p lending sepakat memberlakukan tingkat bunga maksimum sebesar 0,4% per hari atau turun 50% pada medio Oktober 2021 lalu. Tapi kini tingkat bunga itu dinilai tidak sesuai dengan struktur biaya yang menjadi beban fintech lending, bunga maksimum pun diindikasikan kembali naik menjadi setidaknya sebesar 0,6% per hari.

Wakil Ketua Bidang Hubungan Kelembagaan dan Internasional Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Vincent Jaya Saputra menyampaikan, tingkat bunga sebesar 0,4% per hari dari fintech lending menuai pandangan yang beragam. Satu sisi, besaran itu dinilai cukup tinggi, tapi di sisi lain dianggap sudah cukup rendah.

Dia menilai, tingkat bunga 0,4% per hari ini diasumsikan tinggi oleh beberapa kalangan karena tidak melihat adanya risiko macet atau gagal bayar. Apalagi jika melihat fintech lending menyediakan layanan pembiayaan lebih cepat dari jasa keuangan konvensional, dengan pemanfaatan teknologi, sekaligus tidak membebankan jaminan.

Baca juga: Fintech Lending akan Review Batas Biaya 0,4%

"Kita berharap, AFPI juga sudah sudah bersuara di media, bahwa 0,4% untuk cash loan ini terlalu kecil. Kami berharap bisa sampai 0,6%. Karena 0,4% ini kan ada biaya-biaya yang kami harus tanggung, terutama mengenai biaya user acquisition yang susah dicari datanya," kata Vincent dalam suatu webinar, Selasa (15/3).

Dia menerangkan, memang batas maksimum bunga 0,4% relatif tinggi dibandingkan yang dibebankan bank kepada debiturnya. Tapi bunga tersebut cenderung terjangkau karena hanya dipakai untuk jenis pembiayaan cash loan atau multiguna dengan ketentuan lanjutan 60% p.a.

"Tingkat bunga 0,4% per hari tidak didorong untuk diperuntukan per tahun. Di samping juga ada batasan jangka waktu untuk tingkat bunga tersebut selama enam bulan. Sementara tingkat bunga untuk pembiayaan produktif lebih rendah yakni berkisar dari 5-30% p.a, tergantung kebijakan dari masing-masing penyelenggara. Fintech lending juga memiliki penyelenggara syariah untuk menangkap kebutuhan pembiayaan berbasis syariah," kata dia.

Baca juga: KoinWorks Jadi Fintech Lending Pertama Hadirkan Layanan CS 24 Jam

Sebelumnya, fintech lending sepakat untuk menurunkan berbagai biaya sampai 50%, sehingga bunga pinjaman dapat ditekan dari 0,8% menjadi 0,4% per hari. Langkah yang diinisiasi AFPI itu merespon pidato Presiden RI Joko Widodo dan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso pada acara OJK Virtual Innovation Day 2021.

Dalam hal ini, pemerintah dan regulator telah melakukan langkah konkret terkait pemberantasan pinjaman online (pinjol) ilegal. Maka asosiasi bersama anggotanya juga perlu melakukan langkah sesuai dengan harapan dan ekspektasi para pemangku kepentingan tersebut.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko pada acara AFPI Media Gathering yang diselenggarakan secara virtual, Jumat (22/10). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto
Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko pada acara AFPI Media Gathering yang diselenggarakan secara virtual, Jumat (22/10). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Sekretaris Jenderal AFPI Sunu Widyatmoko pada medio Oktober 2021 lalu memang menyatakan bahwa pemberlakuan tingkat bunga 0,4% pr hari itu hanya sementara. "Jadi kalau di dalam aturan kode etik dibatasi pinjaman harian tidak lebih dari 0,8%, disampaikan dan diputuskan turun 50% menjadi 0,4%," jelas dia.

Baca juga: OVO Bareksa Fintech Academy Gencar Cetak Talenta Digital

Ketika itu, menurunnya tingkat bunga maksimum dari fintech lending dinilai akan sedikit berdampak banyak pada realisasi penyaluran pembiayaan. Penyaluran akan berdampak karena penyelenggara fintech lending lebih selektif memilih peminjam (borrower) dengan profil risiko tertentu.

Namun dalam realisasinya pembiayaan fintech lending masih terakselerasi. Mengacu data OJK, outstanding pembiayaan tercatat mencapai Rp 31,14 triliun per Januari 2022. Nilai itu bahkan mampu tumbuh 4,22% month to month (mtm) dibandingkan Desember 2021 sebesar Rp 29,88 triliun. Berikut juga rasio pembiayaan konsumtif/multiguna yang relatif meningkat dari 34,12% pada Desember 2021 menjadi sebesar 38,79% pada Januari 2022.

Indikasi untuk merubah tingkat bunga maksimal fintech lending juga telah mencuat pada Rakornas AFPI Tahun 2022. AFPI dalam salah satu fokusnya tahun 2022-2023 akan mereviu secara berkala atas batas biaya pembiayaan sebesar 0,4% per hari.

Baca juga: BI Dorong Perbankan-Fintech Lahirkan Unicorn-Decacorn Baru

"Penerapan biaya 0,4% yang akan di-review secara berkala hingga pemberlakuan lending robo yang akan diupayakan," ujar Direktur Eksekutif AFPI Kuseryansyah melalui keterangannya, pekan lalu.

Selain itu tingkat bunga, AFPI fokus untuk penguatan struktur organisasi, turut aktif dalam advokasi kebijakan, peningkatan disiplin anggota, edukasi dan literasi sampai dengan program yang fokus terhadap pelayanan dan perlindungan konsumen. Termasuk perihal pentingnya kolaborasi ekosistem pendukung yang akan memperkokoh bangunan industri fintech lending kedepan.

AFPI juga menyiapkan program visit untuk meningkatkan engagement dengan seluruh anggota. Serta penguatan tim task force untuk penagihan tidak beretika dengan menyiapkan daftar blacklist yang dapat diakses semua anggota.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com