Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bank Mandiri (Foto: IST)

Gedung Bank Mandiri (Foto: IST)

Bank Mandiri Pimpin Peningkatan Kinerja Himbara

Minggu, 22 Mei 2022 | 13:37 WIB
Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Sektor perbankan tanah air, terutama sejumlah bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara), terbukti memiliki ketahanan yang sangat baik, sehingga cepat pulih dari tekanan badai pandemi Covid-19. Sebut saja seperti Bank Mandiri, BRI, BNI dan BTN, yang berhasil meraih kinerja positif sepanjang kuartal pertama 2022.

Mengutip laporan keuangan non consolidated (bank only) alias tidak menyertakan kinerja anak usaha, di tiga bulan pertama tahun ini, sejumlah indikator kinerja bank pelat merah tersebut berhasil mencatat persentase pertumbuhan mencapai dua digit secara tahunan atau year on year (yoy). Dari sejumlah bank negara tersebut, Bank Mandiri mencatat kinerja yang paling baik.

Analis pasar modal dari Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe mencatat, pada kuartal I-2022, manajemen Bank Mandiri dinilai jauh lebih berhasil dalam mengoptimalkan kinerjanya dibanding bank milik negara lainnya. Dia mencontohkan, manajemen Bank Mandiri lebih baik dalam mengoptimalkan aset dan modal/equity untuk mendapatkan penghasilan (return on asset/ROA dan return on equity/ROE).

Pertumbuhan ROA Mandiri pada Q1 2022 lebih baik dibanding Himbara lainnya, mencapai 1,12%. Lantas, untuk ROE tier 1 Mandiri, mencatat pertumbuhan tertinggi mencapai 8,94%. Pendapatan bunga Bank Mandiri juga tercatat sebesar Rp 18,9 triliun, tumbuh 6,9% (yoy). Pertumbuhan itu jauh lebih besar ketimbang pertumbuhan pendapatan bunga Bank Himbara lainnya.

Manajemen Bank Mandiri juga berhasil menurunkan beban bunga secara drastis dari Rp 4,8 triliun menjadi Rp 3,8 triliun alias turun 21,4%. Hal itu membuat pendapatan bunga bersih (NII) Mandiri bisa mencapai Rp 15,2 triliun, tumbuh pesat 17,3%. Begitupula dalam hal pendapatan operasional sebelum pencadangan (pre-provisioning operating profit/PPOP), Mandiri berhasil meraih Rp 14,0 triliun, tumbuh 28,3% atau diatas bank plat merah lainnya.

Baca juga: Dukung Pemberdayaan UMKM, Bank Mandiri Injak Gas Salurkan KUR

Dengan pertumbuhan indikator kinerja seperti itu, ungkap Kiswoyo, Bank Mandiri terbilang berhasil menyesuaikan bisnisnya dengan kondisi perekonomian yang terdampak pandemi Covid-19. “Ini menggambarkan produktivitas Bank Mandiri sangat tinggi dan efisiensi yang dicapai sangat besar,” ujarnya, baru-baru ini.

Pendapat Kiswoyo diamini Eko Listiyanto, Ekonom Indef. Menurutnya, tingginya pertumbuhan ROA Bank Mandiri mengindikasikan bahwa perseroan memiliki kemampuan dalam mengelola aset-aset produktif menjadi aset yang menghasilkan untuk mendukung pendapatan bisnisnya. “Di sini terlihat, Bank Mandiri lebih banyak mengelola aset-aset agunan nasabah yang sifatnya likuid,” papar Eko.

Jika dilihat dari sisi pertumbuhan ROE yang tinggi, sambung Eko, Bank Mandiri mampu mengoptimalkan modalnya untuk mendukung rencana bisnisnya. Misalnya, melakukan ekspansi penyaluran kredit atau menyediakan layanan baru lewat pengembangan kanal digital.

Nah, ekspansi penyaluran kredit maupun pengembangan kanal digital, tentu butuh modal investasi yang besar dan berkelanjutan. “Tapi, dengan pertumbuhan ROE yang tinggi di kuartal I-2022, telah menunjukkan Bank Mandiri mampu memaksimalkan modal untuk mendukung pertumbuhan bisnisnya,” kata Eko.

Baca juga: Transfer BI-Fast di Bank Mandiri (BMRI) Tembus 35 Juta Transaksi

Secara keseluruhan, kinerja positif bank Himbara pada kuartal pertama tahun ini, menurut Eko sejalan dengan terus membaiknya pertumbuhan ekonomi nasional di sepanjang tiga bulan tahun ini. Pada kuartal I-2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5,01% secara tahunan (yoy). “Hal ini menggambarkan pemulihan ekonomi nasional relatif sudah semakin membaik,” ucap Eko.

Ketika ekonomi menggeliat, lanjut Eko, maka sektor riil juga akan ikut bergerak. Alhasil, permintaan kredit ke perbankan turut meningkat. “Buktinya bisa dilihat dari pertumbuhan kredit perbankan yang rata-rata di atas 6% (yoy),” imbuh dia.

Keberhasilan bank-bank BUMN menggenjot pertumbuhan kinerja, juga tak lepas dari strategi bisnis yang dijalankan. Menurut Eko, bank-bank BUMN lebih memfokuskan pertumbuhan kreditnya pada segmen-segmen dengan imbal hasil tinggi.

Misalnya, menyalurkan pinjaman ke sektor-sektor industri yang cepat pemulihannya dari dampak pandemi Covid-19. Di antaranya, ke sektor industri makanan dan minuman, perdagangan serta pertanian, yang belakangan ini terus menggeliat. “Kenaikan harga-harga komoditas ikut menopang pertumbuhan kredit bank-bank BUMN,” tandas Eko.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN