Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mengatakan, bank syariah yang besar dengan kemampuan penyaluran pembiayaan yang unggul akan mampu mendorong akses pembiayaan perumahan lebih jauh
Sumber: Istimewa

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mengatakan, bank syariah yang besar dengan kemampuan penyaluran pembiayaan yang unggul akan mampu mendorong akses pembiayaan perumahan lebih jauh Sumber: Istimewa

Tingkatkan  Akses Pembiayaan Perumahan, Industri Butuh Bank Syariah Besar

Senin, 25 Jul 2022 | 14:32 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  – Industri  membutuhkan bank syariah besar dengan kemampuan penyaluran pinjaman yang mumpuni untuk mendorong akses pembiayaan perumahan, sehingga pasar tergarap optimal. Terlebih KPR Syariah memiliki keunggulan cicilan yang tetap. 

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mengatakan, bank syariah yang besar dengan kemampuan penyaluran pembiayaan yang unggul akan mampu mendorong akses pembiayaan perumahan lebih jauh dan semakin optimal menggarap pasar tersebut. Toto menyambut positif rencana PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI mengakuisisi unit usaha syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

“Dari sisi  UUS  BTN Syariah mereka bisa mendapatkan dukungan pendanaan cukup besar dari BSI yang masuk kategori bank buku 3. Demikian pula branding BSI sebagai bank syariah besar milik negara bisa meningkatkan branding BTN Syariah kepada calon potensial customer,” kata Toto di Jakarta, Senin (25/7/2022).

Ia mengatakan, berdasarkan Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), KPR syariah berkontribusi sebesar 15,6% per Februari 2022. Angka ini naik 220 basis poin (bps) bila dibandingkan dengan kondisi pada 2017 yakni sekitar 13,4%.

Advertisement

Baca juga: Dahsyat, Saham Bank Raya (AGRO) dan Bank Syariah (BRIS) Tiba-tiba Melesat

Data itu, sejalan dengan hasil survei Consumer Sentiment Study H1 2022 yang dirilis Rumah.com, di mana sebanyak 27% responden lebih tertarik menggunakan pembiayaan skema syariah, sedangkan peminat KPR konvensional hanya 21%.

Selain itu dalam sebuah riset dari Nielsen Indonesia, bank syariah berpotensi menguasai 43% dari keseluruhan pasar KPR. Hal ini dengan catatan, bank Syariah dapat merebut 20% pasar yang masih belum dapat menentukan akan menggunakan KPR konvensional atau syariah.

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN II menyatakan akuisisi  akan segera dilaksanakan untuk  memperkuat ekosistem layanan perbankan syariah di Tanah Air dan amanat Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah serta Peraturan Otoritas Jasa Keuangan N. 59/2020 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemisahan UUS.

Tiko menekankan bahwa ekonomi syariah menjadi salah satu faktor utama dan bukan sekadar alternatif pemacu pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam memperkuat perbankan dan ekosistem ekonomi syariah, menurutnya konsolidasi sangatlah penting. Sehingga sebagai ‘alat negara,’  BSI dan UUS BTN tidak berjalan sendiri-sendiri namun saling menguatkan.

Baca juga: Menjadi Episentrum Industri Halal, Indonesia Butuh Bank Syariah Besar

Sebagaimana diketahui, BSI merupakan bank syariah terbesar di Tanah Air hasil penggabungan Bank Mandiri Syariah, BRI Syariah, dan BNI Syariah. Peleburan ketiga anak usaha bank BUMN ini menghasilkan bank syariah dengan aset Rp274,69 triliun per Mei 2022. Di sisi lain, keahlian khusus BTN Syariah dalam menggarap pasar properti akan dapat optimal bila mendapatkan pendanaan yang cukup dari BSI.

Selain itu, OJK juga mencatat pertumbuhan KPR syariah yang selalu berada di atas rata-rata industri. Pada 2020 contohnya, total portofolio KPR terpukul pandemi, sehingga pertumbuhannya melambat menjadi 4,6% secara tahunan (yoy), dari sebelumnya 8,5% yoy.

Pada periode yang sama KPR syariah tumbuh 11,4% yoy, sedangkan KPR konvensional 3,5% yoy. Per Februari 2022, jurang pertumbuhan KPR syariah dan KPR konvensional hampir menipis, yakni 11,0% yoy dan 10,1% yoy.

Senada dengan Toto, CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan dari segi industri rencana terkait BSI mengakuisisi BTN Syariah akan memberikan ruang lebih besar terhadap akses pembiayaan perumahan. Akan tetapi Ali menggarisbawahi bahwa mengakuisisi BTN Syariah saja tidak cukup. BSI harus bermitra dengan lebih banyak pengembang.

Baca juga: Rambah Dubai, Bank Syariah (BRIS) Raih Penghargaan

“Kondisi di lapangan itu ada mismatch, konsumen mau syariah, tapi pengembang tidak mau,” katanya.

Selain itu, Ali optimistis tahun ini merupakan momentum yang tepat untuk menggenjot pasar KPR syariah.  Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengerek naik suku bunga acuan pada semester II-2022. Ali menjelaskan kekuatan utama KPR syariah adalah besar cicilan yang tetap dari awal perjanjian pembiayaan hingga lunas. Artinya nasabah tidak akan terganggu dengan bunga floating mengikuti suku bunga acuan seperti skema KPR konvensional.

“Jadi sekarang dengan tren KPR syariah yang sedang bagus, bank syariah punya kesempatan menambah jumlah nasabah. KPR syariah ini sebenarnya paling menarik saat suku bunga acuan dalam tren naik,” katanya.

Terlebih menurutnya terjadi peningkatan preferensi masyarakat memilih KPR syariah yang sudah terlihat sejak 2–3 tahun lalu. Satu alasannya adalah besar cicilan tetap sejak awal perjanjian hingga lunas. Sementara itu, saat ini KPR mengambil porsi hingga 90% pembelian rumah segmen menengah ke bawah dan sekitar 85% untuk kelas menengah ke atas. Sisanya terbagi antara pembelian secara tunai dan tunai bertahap.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com