Menu
Sign in
@ Contact
Search
Nasabah melakukan aktivitas di salah satu kantor Bank Mandiri di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan aktivitas di salah satu kantor Bank Mandiri di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bankir Harapkan Kebijakan Restrukturisasi Kredit Diperpanjang

Rabu, 3 Agustus 2022 | 22:55 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Sejumlah bankir mengharapkan agar kebijakan restrukturisasi kredit akibat Covid-19 bisa diperpanjang setahun lagi untuk sektor tertentu yang belum bisa bangkit. Walaupun tren restrukturisasi terus mengalami penurunan, namun untuk sejumlah sektor yang paling terdampak masih membutuhkan waktu lebih lama.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengakui bahwa tren restrukturisasi kredit telah menurun signifikan. Hal ini karena mulai dibukanya kembali mobilitas masyarakat dan ekonomi. Meski demikian, Lani menilai masih memerlukan perpanjangan restrukturisasi kredit.

Sampai dengan saat ini, porsi kredit yang direstrukturisasi perseroan kurang dari 3%, angka tepatnya 2,7% dari kredit yang disalurkan per semester I-2022. Di mana komposisi restrukturisasi dari segmen UMKM sekitar 3%, korporasi 3-4%, dan komersial 5%.

“Kami melihat dari 2,7% itu yang terkena hospitality, Bali-Lombok itu masih kami rasa berat. Lewat Perbanas (Perhimpunan Bank Nasional), CIMB Niaga beraudiensi dengan regulator yakni OJK, agar jika bisa diperpanjang dulu untuk stimulus restrukturisasi, tapi selected saja hospitality, daerahnya Bali-Lombok yang sungguh-sungguh memerlukan bantuan yang dulunya performa bagus,” imbuh Lani di Jakarta, Rabu (3/8/2022).

Pihaknya mengusulkan agar kebijakan restrukturisasi kredit bisa diperpanjang satu tahun lagi. Saat ini aturan restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 berlaku hingga Maret 2023. Menurut Lani, sektor pariwisata meskipun membaik tapi belum sepenuhnya pulih.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mengharapkan agar kebijakan restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 dapat diperpanjang. Hal ini dikarenakan masih terdapat tekanan yang dirasakan para debitur, sehingga prospek kinerja debitur masih dikhawatirkan. “Kebijakan (restrukturisasi) apakah bisa diperpanjang setahun lagi? Karena ibaratnya petinju yang sudah kena pukul sedikit untuk recovery butuh waktu. Biarpun dia sehat, tetapi tetap perlu waktu untuk pemulihan,” jelas Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.

Jahja mengungkapkan, usulan perpanjangan restrukturisasi tersebut akan tergantung dari ketentuan OJK, terlebih ada perubahan Dewan Komisioner OJK. Dia juga menyebut, kebijakan restrukturisasi kredit sangat membantu perbankan nasional dan juga debitur karena program tersebut. “Banyak nasabah terbantu saat kondisinya terpukul, itu sebabnya perbankan mengharapkan kebijakan relaksasi ini ditambah sedikit. Jadi kami bisa lebih lega bernafas untuk menghadapi situasi kalau memang tidak ada kasus seperti ini,” papar Jahja.

Menurut Jahja, bagi debitur juga merasa rugi masuk program restrukturisasi, karena menyangkut nama baiknya. Meski demikian, kebijakan tersebut sangat membantu di saat bisnis tidak berjalan dengan baik. “Kalau tidak ada kasus, relaksasi bisa dibuka tapi dengan catatan harus pahami situasi atau market crash saat ini. Nasabah-nasabah restrukturisasi tidak bisa recovery apa tambah waktu, pascarestrukturisasi tidak ada bankir yang bisa ramal kondisi ke depan,” imbuh Jahja.

Baca juga: Ketua OJK: Sektor Akomodasi dan Mamin Masih Perlu Restrukturisasi

Sementara itu, Wakil Ketua Perbanas Tigor M Siahaan mengakui bahwa perbankan juga memerlukan perpanjangan restrukturisasi. Dia menyebut, restrukturisasi kredit per April 2022 sekitar Rp 606,39 triliun, di mana masih terbilang besar. “Tren restrukturisasi menurun, kami harapkan ini jadi soft lending, tren restrukturisasi menurun tapi angka Rp 600 triliun ini masih sangat besar, jadi belum selesai, masih diwaspadai,” terang Tigor.

Namun, dia mengimbau agar proses restrukturisasi kredit tetap harus diwaspadai oleh perbankan. Pencadangan wajib dilakukan sebagai langkah antisipatif terhadap potensi memburuknya kredit restrukturisasi. Sejauh ini OJK mencatat bahwa nilai restrukturisasi kredit dari debitur industri perbankan yang terdampak pandemi Covid-19 semakin turun.

 

Pantau Kondisi Ekonomi

Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rudi As Aturridha juga menjelaskan, perseroan senantiasa memantau kondisi makro ekonomi dalam menjaga serta mengukur pertumbuhan bisnis ke depan. “Terkait dengan wacana perpanjangan restrukturisasi kredit, Bank Mandiri akan mendukung dan patuh terhadap kebijakan serta ketentuan yang ditetapkan oleh regulator. Kami percaya, pihak regulator tentunya akan mengambil kebijakan yang paling responsif dan akomodatif untuk merespons kondisi ter-update, terutama sektor-sektor prioritas pemerintah, berdasarkan kajian yang komprehensif terkait perkembangan ekonomi makro, kondisi debitur serta industri keuangan dan berdasarkan masukan seluruh stakeholder terkait,” urai Rudi.

Adapun sampai dengan akhir Juni 2022 total restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 di Bank Mandiri mencapai Rp 58,2 triliun. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar Rp 96,5 triliun atau turun hampir 40% (yoy).

Baca juga: Penyaluran Kredit Baru Kuartal II-2022 Tumbuh Makin Positif

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar membuka peluang untuk memperpanjang restrukturisasi untuk sektor-sektor yang dinilai belum bisa pulih cepat, seperti akomodasi, makanan dan minuman. OJK saat ini mendalami kajiannya dan akan di-update perkembangannya. “Penurunan restrukturisasi kredit yang tajam itu untuk perdagangan, konstruksi, manufaktur, telekomunikasi, pertanian, dan lainnya. Satu sektor yang masih tinggi dari segi proporsi kredit yang tetap perlu restru adalah akomodasi serta makanan minuman. Ini yang jadi sorotan bagaimana melihat kondisi ini di sektor tadi,” ujar Mahendra.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com