Menu
Sign in
@ Contact
Search
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (07/08/2022). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (07/08/2022). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

Kenaikan GWM Bisa Berimbas Pada Naiknya Suku Bunga Kredit

Selasa, 18 Okt 2022 | 06:08 WIB
Herman (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai keputusan Bank Indonesia (BI) yang mengerek rasio giro wajib minimun (GWM) rupiah perbankan menjadi 9% akan berdampak pada penyaluran kredit perbankan. Bank akan mempercepat untuk menaikkan suku bunga kreditnya.

GWM sendiri adalah dana atau simpanan minimum yang harus dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo rekening giro yang ditempatkan di Bank Indonesia (BI). Besaran giro wajib minimum ditetapkan oleh bank sentral berdasarkan persentase dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan.

“Dari kenaikan GWM ini, tentu saja dampaknya nanti bank akan melakukan upaya menaikkan suka buka, mau tidak mau. Bank kan kehilangan sumber daya yang harusnya bisa diputar, disalurkan dalam bentuk kredit, ini menjadi terbatas, sementara cost of fund-nya relatif tetap, sehingga perbankan akan mempercepat untuk kenaikkan suku bunga,” kata Tauhid Ahmad kepada Beritasatu.com, Senin (17/10).

Seperti diketahui, dalam Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 24/8/PADG/2022, BI mengambil kebijakan untuk mempercepat normalisasi kebijakan likuiditas melalui penyesuaian secara bertahap kebijakan pemenuhan giro wajib minimum dalam rupiah bagi Bank Umum Konvensional (BUK), Bank Umum Syariah (BUS), dan Unit Usaha Syariah (UUS) yang berlaku 1 Juli 2022.  Upaya percepatan normalisasi kebijakan likuiditas ini dilakukan dengan menjaga kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit atau pembiayaan kepada dunia usaha dan partisipasi dalam pembelian surat berharga negara untuk pembiayaan anggaran pendapatan dan belanja negara.

Perubahan pengaturan dalam peraturan anggota dewan gubernur ini meliputi kewajiban minimum GWM rupiah untuk BUK menjadi 7,5% mulai 1 Juli 2022 dan 9,0% mulai 1 September 2022; Kewajiban minimum GWM rupiah untuk BUS dan UUS  menjadi 6,0% mulai 1 Juli 2022 dan 7,5% mulai 1 September 2022; Pemberian remunerasi sebesar 1,5% terhadap pemenuhan kewajiban GWM setelah memperhitungkan insentif bagi bank-bank dalam penyaluran kredit/pembiayaan kepada sektor prioritas dan UMKM dan/atau memenuhi target rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM).


“Kenaikan GWM ini berisiko membuat likuiditas perbankan menjadi terbatas, sehingga berdampak pada melambatnya laju penyaluran kredit,” kata Tauhid.

Kondisi ini dikhawatirkan Tauhid bisa mengganggu proses pemulihan ekonomi yang tengah berlangsung pascadihantam pandemi Covid-19. Pasalnya banyak sektor yang belum sepenuhnya pulih dan masih membutuhkan kredit perbankan. Dengan melambatnya laju penyaluran kredit, dikhawatirkan ekspanai dunia usaha akan terhambat.

Menurut Tauhid, yang dibutuhkan saat ini adalah menggenjot pertumbuhan, salah satunya melalui penyaluran kredit agar ekonomi Indonesia terus menggeliat.

“Menurut saya, sekarang ini belum saatnya (GWM dinaikkan-red). Biarkan dulu relaksasi ini dimanfaatkan sampai kemudian sektor riil-nya sudah mulai menyesuaikan. Kemarin kan dengan sudah naiknya suku bunga oleh BI, ini biar jalan dulu, jangan langsung diketatkan, biar ekonominya bergerak dulu,” kata Tauhid.
 

Editor : Jayanty Nada Shofa (JayantyNada.Shofa@beritasatumedia.com)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com