Menu
Sign in
@ Contact
Search
Logo OJK - 2

Logo OJK - 2

OJK Perpanjang Setahun Kebijakan Restrukturisasi Kredit Tertentu

Senin, 28 Nov 2022 | 09:06 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan untuk memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit maupun pembiayaan khusus pada segmen, sektor ekonomi, industri, dan daerah tertentu (targeted) selama satu tahun dari semula hingga 31 Maret 2023, menjadi sampai 31 Maret 2024. Keputusan ini dilatarbelakangi oleh oleh ketidakpastian ekonomi global yang tetap tinggi hingga saat ini.

“Sehubungan dengan perkembangan tersebut dan menyikapi akan berakhirnya kebijakan restrukturisasi kredit/pembiayaan pada Maret 2023, OJK mengambil kebijakan mendukung segmen, sektor, industri, dan daerah tertentu (targeted) yang memerlukan periode restrukturisasi kredit/pembiayaan tambahan selama satu tahun sampai 31 Maret 2024,” ujar Direktur Humas OJK Darmansyah dalam siaran pers, Senin (28/11/2022).

Ia memaparkan, segmen, sektor, industri dan daerah yang diberi kesempatan untuk merestrukturisasi kredit atau pembiayaan selama setahun sampai 31 Maret 2024 adalah pertama, segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang mencakup seluruh sektor. Kedua, sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum.

Ketiga, beberapa industri yang menyediakan lapangan kerja besar, yaitu industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta industri alas kaki. “Kebijakan ini dilakukan secara terintegrasi dan berlaku bagi perbankan dan perusahaan pembiayaan,” kata Darmansyah.

Advertisement

Sementara itu, kebijakan restrukturisasi kredit atau pembiayaan yang ada dan bersifat menyeluruh dalam rangka pandemi Covid-19 masih berlaku sampai Maret 2023. Lembaga jasa keuangan (LJK) dan pelaku usaha yang masih membutuhkan kebijakan tersebut, dapat menggunakannya sampai dengan Maret 2023 dan akan tetap berlaku sampai dengan berakhirnya perjanjian kredit/pembiayaan antara LJK dengan debitur.

OJK menilai, hingga saat ini ketidakpastian ekonomi global tetap tinggi, utamanya disebabkan normalisasi kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (the Fed), ketidakpastian kondisi geopolitik, serta laju inflasi dunia yang tinggi. “Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia ke depan tidak terhindarkan sebagaimana diperkirakan oleh berbagai lembaga internasional,” ucap Darmansyah.

Di sisi lain, lanjut dia, pemulihan perekonomian nasional terus berlanjut seiring dengan lebih terkendalinya pandemi dan normalisasi kegiatan ekonomi masyarakat. Sebagian besar sektor dan industri Indonesia telah kembali tumbuh kuat. "Sekalipun demikian, berdasarkan analisis mendalam dijumpai beberapa pengecualian akibat dampak berkepanjangan pandemi Covid-19 (scarring effect)," tandas Darmansyah.

Menurut Darmansyah, OJK akan terus mencermati perkembangan perekonomian global dan dampaknya terhadap perekonomian nasional, termasuk fungsi intermediasi dan stabilitas sistem keuangan. Dalam kaitan itu, OJK tetap meminta agar LJK mempersiapkan buffer yang memadai untuk memitigasi risiko-risiko yang mungkin timbul. "OJK juga akan merespons secara proporsional perkembangan lebih lanjut dengan tetap mengedepankan stabilitas sistem keuangan serta menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional," pungkas dia.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com