Menu
Sign in
@ Contact
Search
Direktur Manajemen Risiko BRI Finance Ari Prayuwana PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance)

Direktur Manajemen Risiko BRI Finance Ari Prayuwana PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance)

Meski Ekonomi 2023 Menantang, BRI Finance Targetkan NPF Tetap di Bawah 2,5%

Selasa, 29 Nov 2022 | 18:33 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id -  PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) menyiapkan sejumlah strategi manajemen risiko untuk menghadapi kondisi ekonomi pada 2023 yang diproyeksikan lebih menantang. Meski ekonomi melambat, non performing financing (NPF) perseroan ditargetkan di bawah 2,5%.

Rasio NPF perseroan hingga kuartal III-2022 tercatat 1,98%. Persentase tersebut lebih baik dibandingkan NPF industri sebesar 2,58% pada periode yang sama. Adapun hingga akhir tahun ini, BRI Finance mematok target NPF gross sekitar 2,1% dan tahun depan naik ke level 2,2%.

Baca juga: BRI Finance Optimistis Raih Pertumbuhan Pembiayaan hingga 25% di 2023 

Direktur Manajemen Risiko BRI Finance Ari Prayuwana menjelaskan, perseroan sudah melakukan langkah antisipasi sejak awal pandemi tahun 2020 lalu. Sebab, perseroan ingin tumbuh cepat dengan kualitas yang positif melalui tata kelola yang baik.

"Sebagai komitmen terhadap kualitas aset yang dimiliki, kami senantiasa melakukan penjagaan ketat atas rasio NPF. Tujuannya untuk menanggulangi potensi risiko dari kondisi ekonomi yang fluktuatif," kata ungkap Ari dalam keterangannya, Selasa (29/11).

Dia menerangkan, upaya kehati-hatian ini bagian dari respons perusahaan atas imbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap industri multifinance. Langkah tersebut diharapkan menjadi mitigasi risiko dalam menghadapi kondisi pasar yang berfluktuasi, terlebih adanya potensi resesi ekonomi global ke depan.

Baca juga: Wujudkan Kemandirian Finansial, BRI Finance Ajak Generasi Muda Cerdas Kelola Keuangan

Advertisement

Seperti diketahui, ekonomi nasional dihadapkan pada beberapa tantangan ke depan yang timbul karena ketidakpastian ekonomi global. Antara lain karena inflasi global yang tinggi dan direspon bank sentral di berbagai negara termasuk di Tanah Air dengan kenaikan suku bunga serta ancaman krisis pangan dan energi yang diakibatkan oleh konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

BRI Finance menerapkan sejumlah langkah antisipasi. Pertama, menerapkan robust risk management sehingga kualitas portofolio pembiayaan menjadi prioritas. Perseroan membangun manajemen risiko yang kuat melalui penerapan proses pembiayaan yang sehat, dengan diterapkannya proses ketat yang harus diikuti oleh relationship manager (RM).

Menurut Ari, langkah tersebut membuahkan hasil dengan NPF yang terus menurun dari 2020 sebesar 4,22%. Kemudian BRI Finance menerapkan credit risk scoring, sehingga bisa mempercepat proses pengambilan keputusan pembiayaan. Dalam kerangka manajemen risiko, Perseroan pun membangun perangkat proteksi dini atau early warning system untuk portofolio di level unit kerja dan individu untuk menjaga kualitas aset.

Kedua, BRI Finance fokus pada kualitas pembiayaan melalui penerapan selective growth, dimana perseroan membuat kebijakan bahwa yang boleh dibiayai adalah sektor-sektor yang potensi risikonya rendah. "Kami memilih debitur-debitur yang memang bagus. Itu di awal sebelum RM melakukan proses inisiasi pembiayaan sudah diberikan guidance-nya. Itu yang kami terapkan sejak 2020, dan akan kami lanjutkan dalam menghadapi tantangan ke depan," lanjut Ari.

Baca juga: BRI Finance Pacu Pembiayaan Kendaraan Listrik

Ketiga, pihaknya melakukan switching portofolio dari mayoritas pembiayaan komersial, kini beralih ke segmen konsumer yang lebih ritel. Alhasil risiko per debitur lebih rendah. Harapannya BRI Finance akan tumbuh secara berkelanjutan.

Keempat adalah fokus kepada funding stability dan sustainability dengan menjaga kepercayaan kreditur. Sedangkan antisipasi kelima adalah melakukan transformasi dan konsisten dalam digitalisasi business process, yaitu dalam rangka memperoleh efisiensi sehingga mampu menekan biaya operasional. "Kami akan tumbuh dan prosesnya yang kami digitalisasi. Barangkali itu yang kami lakukan. Jadi apa yang kami lakukan selaras dengan himbauan OJK, di mana kami sangat mendukung dan menerapkan lebih awal sejak 2020," ungkap Ari.

Dia menekankan, dalam proses menguatkan manajemen risiko, top management BRI Finance menyasar dua hal utama. Pertama, sumber daya manusia risk management di kantor pusat, karena harus membuat guidance bagi RM di lapangan untuk berlari kencang, dengan cara memberikan perencanaan sasaran pasar dengan kebijakan yang lebih spesifik. Kedua memperkuat RM dengan risk culture, dimana RM harus bisa memastikan data yang digali terkait debitur harus valid.

“Sehingga apa yang didesain oleh manajemen risiko itu bisa bekerja dengan baik. Jadi RM kami tingkatkan risk culture-nya dengan training secara berkesinambungan. Kemudian juga kami adakan pembinaan baik dari atasannya maupun kantor pusat. Manajemen secara periodik turun ke lapangan untuk melakukan pembinaan agar apa yang didesain oleh kantor pusat dapat terimplementasi dengan baik di seluruh jajaran BRI Finance seluruh Indonesia. Kami pun  membangun tool monitoring secara digital," tandas Ari.
 

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com