Menu
Sign in
@ Contact
Search
Wahed, sebuah platform fintech syariah yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat (AS). (Foto logo: Istimewa)

Wahed, sebuah platform fintech syariah yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat (AS). (Foto logo: Istimewa)

Fintech Syariah Wahed Targetkan Melayani 3,9 Juta Muslim di London

Rabu, 25 Jan 2023 | 16:04 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Platform fintech syariah Wahed – yang didukung Saudi Aramco – meluncurkan proyek baru di Inggris dengan membuka kantor cabang fisik di London, dan rekening bank yang didukung oleh emas. Ada pun tujuan membuka kantor cabang adalah untuk menyasar 3,9 juta umat Muslim di negara itu yang membutuhkan pengelolaan investasi berbasis syariah dan layanan konsultasi.

Di samping itu, Wahed juga meluncurkan kartu debit yang memungkinkan para nasabah/pengguna menyetor dana dengan komoditas yang diperdagangkan di bursa, yang melacak harga emas. Ini artinya, para nasabah dapat membayar barang sehari-hari secara efektif melalui emas.

Para investor pun dapat menebus emas di rekening mereka dalam bentuk batangan fisik.

Baca Juga: UUS Maybank Indonesia Umumkan Pemenang Kompetisi Kewirausahaan Maybank Syariah ISYEFpreneur

Advertisement

Sebagai informasi, Wahed telah mengumpulkan dana sebesar US$ 75 juta dari total pendanaan hingga saat ini dari para investor termasuk Saudi Aramco Entrepreneurship Capital – cabang modal ventura dari perusahaan minyak milik Pemerintah Arab Saudi, Saudi Aramco – dan juga pemain sepak bola Perancis Paul Pogba, yang merupakan penganut Islam yang taat.

Menurut Chief Executiver Officer (CEO) dan Co-founder Wahed Junaid Wahedna, langkah tersebut adalah cara bagi konsumen Muslim – juga non-Muslim – untuk mengalahkan fluktuasi mata uang dan meningkatnya biaya hidup.

“Umat Muslim adalah komunitas yang kurang terlayani secara keseluruhan. Ini adalah komunitas minoritas, serta minim literasi keuangan,” ujar Wahedna dalam wawancara dengan CNBC, yang membahas peluang pasar untuk keuangan Islam digital, pada Selasa (24/1/2023).

Baca Juga: SHAREit Dorong Perubahan Perilaku dan Gaya Hidup Digital di Indonesia

Berdasarkan catatan Indikator Perkembangan Keuangan Islam dari Refinitiv (Refinitiv’s Islamic Finance Development Indicator), tren keuangan Islam telah mencapai pertumbuhan signifikan selama satu dekade terakhir dan diperkirakan mencapai nilai US$ 4,9 triliun pada 2025. Selain Wahed, terdapat sejumlah pemain fintech lain yang berusaha memasuki pasar uang halal, termasuk Zoya dan Niyah.

Di sisi lain ada perusahaan rintisan (startup) perbankan, seperti Monzo dan Revolut telah berkembang pesat di Inggris Raya tanpa cabang bank fisik, serta menyediakan fitur aplikasi yang membantu pengguna mengelola semua keuangannya pada smartphone. Tetapi, Wahedna mengingatkan bahwa hal tersebut berisiko membuat konsumen Muslim mengalami ketertinggalan.

“Di Inggris Raya, komunitas Muslim sebenarnya adalah salah satu segmen sosio-ekonomi terendah di negara ini, dengan penghasilan atau literasi keuangan yang rendah. Mereka memiliki masalah kepercayaan. Jadi mereka ingin melihat kehadiran secara fisik sebelum mempercayai uangnya kepada Anda,” tutur Wahedna.

Baca Juga: CIMB Niaga Syariah Salurkan Dana Kebajikan ke Baznas Medan

Kehadiran layanan Wahed bertujuan membantu para nasabah mematuhi doktrin ketat Islam tentang layanan keuangan. Di mana hukum syariah melarang pengikutnya membebankan atau mendapatkan bunga pinjaman, atau berinvestasi di perusahaan yang menghasilkan sebagian besar uang dari penjualan barang-barang, seperti alkohol dan perjudian.

Wahed juga melarang investasi di perusahaan yang menghasilkan uang dari pinjaman, perjudian, alkohol, dan tembakau. Bahkan rekening Wahed tidak memberikan bunga tabungan dan tidak menjanjikan pengembalian tak terkendali untuk token kripto yang berisiko. Sebaliknya, nilai simpanan para nasabah dilacak lewat nilai emas, yang mana fluktuasi harga logam mulia itu tergantung pada penawaran dan permintaan.

“Saya pikir itu sangat cocok dengan komunitas Muslim dan kebutuhan mereka. Karena jika tidak maka yang terjadi adalah komunitas Muslim menjadi tidak terlayani. Bisa saja mereka menyimpan uangnya di bawah kasur atau di tempat yang sangat tidak aman, dan (berisiko) kehilangan uangnya setiap beberapa tahun karena penipuan di komunitas atau seseorang mengambil keuntungan dari mereka. Dan siklus kemiskinan itu terus berlanjut,” demikian penjelasan Wahedna.

Chief Executiver Officer (CEO) dan Co-founder Wahed, Junaid Wahedna. (Foto logo: Istimewa)

Kecam Fintech Pinjaman

Di sisi lain, Junaid mengecam status perusahaan-perusahaan fintech modern yang terlalu fokus pada pinjaman konsumen dengan munculnya Klarna dan layanan “beli sekarang, bayar nanti” (buy now, pay later) lainnya.

“Semua rencana bisnis mereka dibangun berdasarkan pendapatan pinjaman, bukan? Bahkan bank-bank digital, seperti, 'oke, saya akan mulai menjadi bank baru, tetapi pada akhirnya, saya akan mendapatkan lisensi perbankan',” kata Wahedna.

Ditambahkan oleh Wahedna, Wahed berfokus menghasilkan uang dengan membebankan biaya manajemen kekayaan, membebankan persentase kepada pengguna dari keseluruhan kepemilikan aset mereka. Walau perusahaan rintisan yang didirikan pada 2017, tetap merugi, tapi telah mencapai titik impas operasi di Malaysia dan AS.

Baca Juga: Ekspansi, BTN Syariah Buka Kantor Cabang di Bandar Lampung

“Saya merasa bahwa fintech, seperti kebanyakan industri keuangan, sangat diarahkan pada pemberian pinjaman. Faktanya, menurut saya, hal ini membuat krisis biaya hidup hingga krisis utang menjadi lebih buruk dengan banyaknya produk yang ditawarkan. Jika Anda melihat perusahaan yang menyediakan fitur 'beli sekarang, bayar nanti', ada banyak orang berjuang (melunasi) – ini adalah jenis inovasi terburuk, Anda membuatnya orang-orang menjadi lebih mudah berhutang,” ujarnya menjelaskan.

Wahedna menekankan, perusahaan ini (Wahed) tidak hanya diperuntukkan bagi umar Muslim dan bertujuan melayani para penganut agama Ibrahim lainnya, termasuk Yudaisme dan Kristen.

Staf di kantor cabang London bakal membantu nasabah membuka rekening, melakukan investasi serta memberikan panduan tentang surat wasiat dan perencanaan rumah. “Perusahaan ini menargetkan individu-individu yang memiliki kekayaan bersih tinggi dan juga konsumen kurang mampu,” tutur Wahedna.

Baca Juga: Aset Rp 4,3 Triliun, Unit Syariah Allianz Life Bersiap Spin Off

Perusahan fintech Wahed yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat (AS) membuka kantor cabangnya di Baker Street, pusat kota London atau tepat di seberang kantor HSBC Inggris.

Tampilan kantornya disebut memiliki desain mirip gerai Apple, dengan tampilan digital di dalamnya dan logo berwarna cerah yang terpasang di luar kantor.

Menurut laporan, Brand Ambassador Khabib Nurmagomedov – seorang mantan seniman bela diri campuran profesional asal Rusia – menghadiri pembukaan cabang Wahed pada Selasa.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com