Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

32 BUMN Setuju Restrukturisasi Polis Anuitas Pensiun Jiwasraya

Selasa, 13 Juli 2021 | 04:55 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Sebanyak 32 badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki polis program anuitas pensiun PT Asuransi Jiwasraya (Persero) disebut telah menyetujui restrukturisasi polis untuk dialihkan ke IFG Life. Mayoritas BUMN memilih opsi jangka waktu diperpendek, tapi manfaat tidak menurun.

Direktur Utama Jiwasraya Angger P Yuwono menyampaikan, pihaknya menawarkan tiga opsi kepada pemegang polis program anuitas pensiun. Opsi yang dimaksud diantaranya adalah top-up premi, anuitas menurun, dan jangka waktu diperpendek. Sejumlah opsi tersebut diakui memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri.

"Sampai dengan 31 Mei 2021 seluruh BUMN telah melayangkan surat persetujuan restrukturisasi kepada Jiwasraya, termasuk program anuitas pensiun. Kemudian, ada beberapa BUMN yang setuju tapi belum menetapkan opsi," kata Angger saat dihubungi Investor Daily, baru-baru ini.

Dia menerangkan, ada tiga BUMN yang sudah menyetujui restrukturisasi polis tapi belum menentukan opsi. Sejumlah BUMN yang dimaksud masih menunggu keputusan dari pemegang saham atau KemenBUMN. Tapi pihaknya telah dijanjikan bahwa pada Juli 2021 para BUMN tersebut akan menyampaikan opsinya.

"Kebanyakan dari BUMN yang telah setuju itu memilih opsi tiga dengan anuitas tidak turun tapi jangka waktu diperpendek. Jiwasraya menawarkan sama rata kepada setiap pemegang polis. Sebetulnya ada opsi empat, yakni kombinasi dari ketiga opsi yang sudah ada. Opsi keempat ini diharapkan bisa menyesuaikan kondisi keuangan dari masing-masing pemegang polis," tandas Angger.

Mengacu pada Laporan Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern (LHP SPI) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2020, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaparkan bahwa Jiwasraya memang melakukan penyesuaian nilai tunai (hair cut) terhadap sejumlah polis. Haircut produk saving plan 40%, haircut produk tradisional 25%, dan haircut produk lain sebesar 25%. Dengan begitu, diharapkan liabilitas polis Jiwasraya bisa susut sampai dengan 40%.

"Kalau seluruh pemegang polis menyetujui restrukturisasi, berdasarkan RPK, (nilai polis dialihkan) mencapai Rp 35,9 triliun. Liabilitas total itu mencapai Rp 50 triliun lebih. Itu kalau semua mau direstrukturisasi," demikian kata Angger.

Namun demikian, BPK turut menjelaskan, untuk produk anuitas pensiunan tidak dikenakan haircut dengan pertimbangan isu sosial. Mengingat penerima manfaat merupakan pensiunan dan mayoritas merupakan masyarakat kecil. Tapi besar pengembangan manfaat akan disesuaikan dengan kondisi pasar terkini.

BPK mencatat, terdapat 32 BUMN dengan jumlah polis 42 polis dan 19.688 peserta. Apabila BUMN akan  mempertahankan jumlah dan masa manfaat yang diterima oleh pensiunan tetap maka dibutuhkan penambahan (top-up) premi sebesar Rp 4,03 triliun oleh BUMN. Top-up premi tersebut pada akhirnya dapat berdampak terhadap penurunan net equity BUMN terkait. Bahkan jika kondisi likuiditas tidak memadai, maka terdapat kemungkinan akan dilakukan pengajuan PMN ke pemerintah.

"Berkenaan dengan potensi risiko sosial diatas maka terdapat beberapa langkah mitigasi yang dapat dipersiapkan oleh PT AJS dan pemerintah yang  dituangkan dalam RPK, yaitu mempersiapkan dana tambahan sekitar Rp4 triliun, yang dapat diperoleh dari dana PMN dan/atau AIP sebagai langkah mitigasi bagi pemegang polis yang tidak memiliki kemampuan terhadap pembayaran top-up premi," tulis BPK.

Nasib Jiwasraya

Jiwasraya
Jiwasraya


Sementara itu, Angger mengungkapkan, setelah selesai melakukan program restrukturisasi polis, Jiwasraya akan mengembalikan izin usaha perasuransian kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal itu juga tercantum dalam RPK Jiwasraya, tapi juga tidak menutup kemungkinan lain sesuai keputusan pemerintah sebagai pemegang saham.

"Seperti apa Jiwasraya setelah proses restrukturisasi selesai? Itu kami kembalikan kepada pemegang saham. Tetapi kalau sesuai dengan RPK, izin usaha perasuransian Jiwasraya akan dikembalikan ke OJK. Jadi Jiwasraya itu sebuah PT dengan izin usaha perasuransian. Kalau izin usaha dikembalikan, maka Jiwasraya tetap ada tapi akan menjadi PT biasa," kata dia.

Karena sebuah PT biasa, nantinya Jiwasraya sudah tidak layak menawarkan atau mengelola polis. Sehingga polis yang tersisa atau yang tinggal di Jiwasraya akan dilakukan terminasi. Pada tahap tersebut, maka yang ada hanyalah utang piutang antara Jiwaraya dengan mantan pemegang polis yang menolak untuk direstrukturisasi.

"Dalam skenario RPK seperti itu. Sampai proses utang piutang itu selesai, bisa jadi barulah Jiwasraya dilikuidasi. Tapi pada saatnya seperti apa Jiwasraya ke depan? Seperti yang tadi sudah disampaikan, itu sesuai dengan keputusan pemerintah sebagai pemegang saham," ungkap dia.

Angger menuturkan, pihaknya menghargai keputusan setiap pemegang polis meskipun memang tidak ada solusi selain ikut restrukturisasi. Karena nantinya aset-aset sehat yang ada di Jiwasraya akan dialihkan ke IFG Life, berikut dengan polis-polis yang mau direstrukturisasi. Jika nantinya nasib Jiwasraya harus berakhir dengan likuidasi, maka POJK pun disebut mengatur mengenai pembagian secara pari passu pro rata parte (aset pro rata).

"Memang penyelamatannya membuahkan manfaat tidak bisa kembali penuh. Tapi perkiraan saya bagi para pemegang polis yang menolak restrukturisasi dan lebih memilih tinggal di Jiwasraya, (manfaat dan nilai tunai) malah saya bisa katakan bisa kembali sekitar 15%," beber dia.

Angger menambahkan, sampai dengan 31 Mei 2021 sebanyak 95% dari pemegang polis yang dapat dihubungi dan ditawarkan program restrukturisasi telah menyetujui polisnya direstrukturisasi. Tapi di samping itu, penawaran masih berlanjut sampai akhir tahun ini. Terutama bagi pemegang polis yang belum bisa dihubungi dan bagi pemegang polis yang masih menolak.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN