Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Satgas Waspada Investasi Investasi Tongam L. Tobing  dalam diskusi bertajuk Jerat Pinjol Ilegal Bikin Benjol, Sabtu, 16 Oktober 2021.

Ketua Satgas Waspada Investasi Investasi Tongam L. Tobing dalam diskusi bertajuk Jerat Pinjol Ilegal Bikin Benjol, Sabtu, 16 Oktober 2021.

34% Server Pinjol Ilegal di Luar Negeri 

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 12:56 WIB
Herman

JAAKARTA, investor.id   Ketua Satgas Waspada Investasi Investasi (SWI) Tongam L Tobing menyampaikan, hingga saat ini SWI telah menghentikan kegiatan 3.515 pinjaman online (pinjol) ilegal. Dari hasil sampel yang diambil, ternyata banyak server dari pinjol ilegal tersebut yang berada di luar negeri.

“Dari 3.515 pinjol ilegal yang kita hentikan, kita ambil sampel sekitar 2.700-an, ada 22% yang servernya ada di Indonesia, kemudian 34% servernya di luar  negeri, dan sisanya atau 44% tidak diketahui karena mungkin menggunakan media sosial. Jadi memang ada orang di luar negeri yang melakukan praktik pinjol ilegal di Indonesia,” kata Tongam dalam diskusi bertajuk “Jerat Pinjol Ilegal Bikin Benjol”, Sabtu (16/10/2021).

Dari hasil pengaduan dan investigasi Satgas Waspada Investasi, Tongam mengatakan praktik pinjol ilegal di Indonesia ini memang murni penipuan untuk mencari keuntungan yang besar. Seringkali pinjol ilegal menerapkan bunga pinjaman besar yang tidak sesuai dengan perjanjian awal, hingga sistem penagihan utang yang meresahkan.

“Pinjol ilegal ini memang murni untuk menipu masyarakat kita dengan keuntungan yang sangat besar bagi mereka,” kata Tongam.

Agar tidak menjadi korban pinjol ilegal, Tongam mengingatkan kepada masyarakat agar lebih waspada. Lakukan pinjaman hanya kepada fintech yang memang sudah terdaftar atau berizin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kemudian usahakan meminjam sesuai kebutuhan dan kemampuan membayar, jangan untuk “gali lobang tutup lobang” atau meminjam untuk membayar utang sebelumnya.

“Karena ini perjanjian hubungan perdata, sebelum ada perjanjian tersebut, pahami dulu manfaat, kewajiban dan juga risikonya,” pesan Tongam.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN