Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Webinar Kolaborasi Bank Digital dan Fintech Dalam Menopang Perekonomian Nasional kerja sama Majalah Investor dengan PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, dan Xendit, Kamis, 10 Juni 2021.

Webinar Kolaborasi Bank Digital dan Fintech Dalam Menopang Perekonomian Nasional kerja sama Majalah Investor dengan PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, dan Xendit, Kamis, 10 Juni 2021.

KOLABORASI BANK DAN FINTECH DORONG INOVASI

7 Bank Proses Jadi Bank Digital

Jumat, 11 Juni 2021 | 22:19 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id) ,Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, perkembangan teknologi informasi di sektor jasa keuangan telah menghadirkan bank yang beroperasi secara full digital. Saat ini, terdapat tujuh bank yang dalam proses go digital atau menjadi bank digital di Indonesia, sedangkan lima bank telah mendeklarasikan sebagai fully digital.

Bank-bank yang tengah melakukan proses menjadi bank digital antara lain Bank BCA Digital, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (BRI Agro), PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC), PT Bank Capital Indonesia Tbk, PT Bank Harda Internasional, PT Bank QNB Indonesia Tbk, dan PT Bank KEB Hana.

Deputi Direktur Basel dan Perbankan Internasional OJK Tony. Foto: IST
Deputi Direktur Basel dan Perbankan Internasional OJK Tony. Foto: IST

Deputi Direktur Basel dan Perbankan Internasional OJK Tony mengungkapkan, fenomena munculnya bank digital tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di berbagai negara yang juga dikenal dengan beragam sebutan, seperti bank digital, neo bank, maupun challenger bank.

“Sejumlah bank sudah mengklaim sebagai bank fully digital atau akan mentransformasikan diri menjadi bank fully digital di Indonesia. Bank yang dalam proses go digital ada tujuh dan bank yang menobatkan diri sebagai bank digital ada lima bank,” terang Tony dalam webinar “Kolaborasi Bank Digital dan Fintech dalam Menopang Perekonomian Nasional” yang merupakan kerja sama Majalah Investor dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank BTPN Tbk, dan Xendit, Kamis (10/6/2021).

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings selaku Moderator Primus Dorimulu (kiri) bersama Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi dan Teknologi Informasi Kementerian Keuangan RI Sudarto dan pembicara: Deputy Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaraan Bank Indonesia Ricky Satria, Deputy Direktur Basel dan Perbankan Internasional OJK Tony, COO & Co-Founder Xendit Tessa Wijaya, Kepala Center of Innovation and Digital Economy INDEF Nailul Huda dalam acara Webinar Keuangan dengan topik Kolaborasi Bank Digital dan Fintech Dalam Menopang Perekononian Nasional live via zoom, live streaming Beritasatu.com pada Kamis (10/6/2021). Acara ini hasil kerja sama Majalah Investor dengan PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, dan Xendit. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings selaku Moderator Primus Dorimulu (kiri) bersama Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi dan Teknologi Informasi Kementerian Keuangan RI Sudarto dan pembicara: Deputy Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaraan Bank Indonesia Ricky Satria, Deputy Direktur Basel dan Perbankan Internasional OJK Tony, COO & Co-Founder Xendit Tessa Wijaya, Kepala Center of Innovation and Digital Economy INDEF Nailul Huda dalam acara Webinar Keuangan dengan topik Kolaborasi Bank Digital dan Fintech Dalam Menopang Perekononian Nasional live via zoom, live streaming Beritasatu.com pada Kamis (10/6/2021). Acara ini hasil kerja sama Majalah Investor dengan PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, dan Xendit. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Tony menyebut, bank yang telah menobatkan diri sebagai bank digital antara lain Jenius dari Bank BTPN, Wokee dari Bank KB Bukopin, Digibank milik Bank DBS, TMRW dari Bank UOB, serta Jago milik Bank Jago.

Selain lima bank tersebut, terdapat dua bank lainnya yang disebut baru menobatkan diri sebagai bank digital, yakni Motion Banking milik Bank MNC dan juga Aladin milik Bank Aladin Syariah. Tony menegaskan tidak akan membuat lisensi khusus untuk bank digital.

Saat ini, hanya terdapat dua jenis lisensi bank, yakni bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR). Sedangkan, digital sebagai proses bisnisnya sehingga tidak akan diberi lisensi khusus.

“Di UU perbankan hanya ada BPR dan bank umum, kalau digital ini kami bilang ini hanya business model,” tutur Tony.

Terkait peraturan OJK mengenai bank digital, akan diterbitkan pada semester I tahun ini yang akan tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) Bank Umum.

“Strategi kita akselerasi digital banking itu penguatan tata kelola dan manajemen risiko, serta mendorong penggunaan teknologi informasi sebagai game changer,” tutur Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana.

Pihaknya mengharapkan perbankan move on ke layanan digital, jika tidak pasti akan ditinggalkan nasabahnya. Heru juga mengaku saat ini perbankan sudah siap dalam bertransformasi digital, karena dituntut kebutuhan nasabah.

Peluang kolaborasi bank dan fintech
Peluang kolaborasi bank dan fintech

Dalam melakukan transformasi digital, perbankan juga harus memiliki permodalan yang kuat untuk bisa berinvestasi teknologi informasi. Tanpa modal kuat bank akan sulit bertransformasi.

“Seperti Bank Jago itu, walau aturan modal inti Rp 3 triliun pada 2022, tapi mereka sudah siapkan sampai Rp 7 triliun. Karena persiapan digital butuh modal cukup kuat, butuh modal dan SDM andal untuk melayani nasabah lebih baik,” terang Heru.

Dalam Rancangan POJK, pendirian bank baru mensyaratkan modal inti minimal Rp 10 triliun agar kuat dalam memberikan layanan digital. Berdasarkan penelitian OJK, operasional bank yang baik dan efisien adalah dengan memiliki rentang modal Rp 3-10 triliun.

Manfaat Kolaborasi

Lebih lanjut, Tony menjelaskan saat ini era kolaborasi antara perbankan dan fintech. Terdapat sejumlah manfaat jika kedua lembaga tersebut bersinergi. Bagi perbankan, berpartner dengan fintech bisa meningkatkan inovasi produk, termasuk memiliki kanal distribusi yang lebih luas. Tentunya hal ini memudahkan perbankan membuat inovasi produk yang sesuai dengan generasi muda yang biasanya dekat dengan layanan produk digital.

“Kolaborasi ini juga menguntungkan bank karena meningkatkan efisiensi dan tentu meningkatkan economic of scale,” ujar Tony.

Sedangkan manfaat bagi nasabah adalah merasakan customer experience yang berbeda dari layanan perbankan konvensional. Selain itu juga kemudahan dan kenyamanan dalam bertransaksi keuangan secara digital.

“Manfaat lain adalah peningkatan inklusi dan literasi keuangan, ujungnya akan memberikan akses keuangan kepada UMKM dan perluasan ekosistem digital,” tambah Tony.

Transaksi digital di Indonesia
Transaksi digital di Indonesia

Disamping manfaat dari kolaborasi bank dan fintech, OJK juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang akan dihadapi, seperti adanya kebocoran data nasabah.

“Kita harap UU Perlindungan Data Pribadi dapat disahkan segera, sehingga bisa memberikan perlindungan,” ujar Tony.

Untuk itu, OJK sudah bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan Badan Siber Nasional untuk mengeluarkan pedoman terkait penanganan serangan siber.

Tony menjelaskan, saat ini kolaborasi bank dan fintech sudah berlangsung, di mana terdapat fintech yang mengakuisisi bank seperti Akulaku yang menjadi pemegang saham pengendali Bank Neo Commerce (BNC) atau bank yang menanamkan investasi untuk fintech melalui perusahaan modal ventura seperti Bank Mandiri terhadap Investree.

Tak hanya bagi bank-bank besar, OJK juga mendorong kolaborasi antara BPR dengan fintech.

Tingkatkan Inklusi

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Ricky Satria mengatakan, Indonesia banyak mengalami perubahan dan saat ini sektor keuangan bertransformasi di era digital. Tingginya penetrasi smartphone dan besarnya kelompok milenial memunculkan data bahwa kolaborasi perbankan dan fintech bisa meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.

Ricky menyebut, saat ini terdapat lebih dari 300 fintech yang terdaftar, dan lebih banyak fintech yang tidak terdaftar. Kelebihan fintech adalah proses bisnisnya menggunakan data dan teknologi untuk membangun relationship. Bank mampu membuat framework bagus tapi user experience tidak sesuai, sedangkan fintech dapat membuat user experience semakin menarik.

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Ricky Satria. Foto: IST
Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Ricky Satria. Foto: IST

“Kalau kita lihat, seperti DANA, dalam 3 tahun, jumlah customer-nya 60 juta, ini tentu lebih banyak dari nasabah bank BUKU IV yang sudah berdiri dari dulu. UMKM juga dibantu meningkatkan pasarnya setelah masuk ekosistem digital,” papar Ricky.

UMKM yang masuk e-commerce juga bisa melakukan penjualan ke berbagai negara dengan mudah.

“Baru-baru ini juga ada fintech yang membantu petani untuk ekspor, ini akan semakin banyak membantu, terutama inklusi,” ucap dia.

Menurut dia, semenjak krisis tahun 2008, perbankan mulai melakukan modernisasi, dipercepat dengan hadirnya pemain baru yakni fintech membuat perbankan sebagai incumbent harus mempercepat langkahnya jika tak ingin tertinggal.

“Bank sebagai lembaga intermediasi, mereka dijamin oleh LPS, bank ini memang mendukung pertumbuhan ekonomi dan mereka entitas yang dipercaya, jadi penting mengembangkan modern ekonomi. Namun, bank menjadi masalah sebagai incumbent yang punya kultur ketika masuk era digital kulturnya berbeda, meski masuk digital, cabang masih diperlukan,” urai Ricky.

Adapun perbedaan mendasar antara bank dan fintech adalah fintech belum memiliki legacy, namun sistem akselerasi fintech lebih cepat dari bank. Dari sisi jumlah nasabah, perbankan memiliki nasabah yang banyak karena merupakan trust entity, sedangkan fintech belum memiliki customer base yang luas seperti bank.

“Kolaborasi ini penting, ini juga akan membangun reputasi. Dengan kolaborasi, investasi digital bisa dikurangi,” papar dia.

Penggunaan layanan perbankan digital selama Covid-19
Penggunaan layanan perbankan digital selama Covid-19

Untuk mendorong percepatan kolaborasi, BI mengeluarkan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025, yang akan mengatur standarisasi open API, sehingga kolaborasi antara fintech dan bank atau dengan nonbank bisa dilakukan dengan cepat.

Kita juga ada Sandbox 2.0 BI Live Sandbox Space (BLISS), kalau ada fintech yang belum ada regulasinya, sepanjang di sandbox bermanfaat nanti bisa jadi input untuk regulasi BI,” tukas Ricky.

Berdasarkan data Google dan Temasek, pada tahun 2025 ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai Rp 1.736 triliun. Guna mendorong ekonomi digital, BI berkolaborasi dengan OJK dan industri membuat program Bangga Buatan Indonesia (BBI), di mana produk UMKM dijual secara online dan juga offline.

Selain itu, terdapat program Bangga Wisata Indonesia untuk mendorong ekonomi wisata domestik.

Potensi Besar

Pada kesempatan yang sama, COO & Co Founder Xendit Tessa Wijaya memaparkan, ekonomi digital Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Tahun ini potensi e-commerce mencapai US$ 40 miliar, didukung 70% penduduk Indonesia yang memiliki smartphone.

“Pandemi memang mendukung orang-orang Indonesia belanja online, ini memicu tren transaksi digital meningkat. Kalau secara global pengguna internet yang belanja online naik menjadi 53%, di Indonesia pengguna yang belanja online meningkat jadi 69% dari sebelum Covid-19,” urai Tessa.

COO & Co Founder Xendit Tessa Wijaya. Foto: IST
COO & Co Founder Xendit Tessa Wijaya. Foto: IST

Xendit sendiri merupakan fintech payment gateway yang membantu bisnis untuk menerima pembayaran dengan sederhana, aman, dan mudah bagi semua orang.

Tessa mengaku, telah melihat pertumbuhan yang didukung masa pandemi. Terdapat 7 ribu UMKM yang mendaftar di Xendit selama bulan Mei 2021 saja.

“Dari 7 ribu ini mayoritas menggunakan bank transfer untuk menerima pembayaran, yang kami lihat pemain e-wallet banyak, penerimaan pembayaran dari e-wallet juga naik 20%,” sebut Tessa.

COO & Co-Founder Xendit Tessa Wijaya dalam Webinar -Kolaborasi Bank Digital dan Fintech Dalam Menopang Perekononian Nasional live via zoom, live streaming Beritasatu.com, Kamis (10/6/2021). Acara ini hasil kerja sama Majalah Investor dengan PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, dan Xendit. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
COO & Co-Founder Xendit Tessa Wijaya dalam Webinar -Kolaborasi Bank Digital dan Fintech Dalam Menopang Perekononian Nasional live via zoom, live streaming Beritasatu.com, Kamis (10/6/2021). Acara ini hasil kerja sama Majalah Investor dengan PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, dan Xendit. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Xendit mencatat, terdapat kenaikan pendaftaran mencapai 150% dari 2019 ke tahun 2020. “Per tahun, US$ 6,5 miliar transaksi kami proses. Kami sudah berkembang pesat menjadi Top 3 Payment Gateway di Indonesia, dan memiliki karyawan lebih dari 400 orang,” ujar dia.

Tak hanya memberikan pelayanan payment gateway, Xendit juga menyediakan modal kerja bagi UMKM yang sulit mendapatkan akses keuangan dari perbankan.

Tessa mengaku kolaborasi menjadi penting antara bank dan fintech, karena potensi pasar Indonesia sangat besar, terutama di Asia Tenggara.

“Masyarakat sudah siap go digital, ini baik untuk mendukung berbagai inovasi pemain fintech agar dapat lebih berkembang. Dan ekonomi digital Indonesia juga akan pesat beberapa tahun ke depan,” pungkas Tessa.

Dukungan Kemenkeu

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi dan Teknologi Informasi Kementerian Keuangan Sudarto mengatakan, sektor keuangan berperan penting bagi pertumbuhan ekonomi dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Beberapa bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional seperti subsidi Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan subsidi bunga juga dilakukan melalui sektor keuangan.

“Tentunya ke depan kita semua harus lebih baik dalam rangka channeling bantuan pemerintah, bantuan sosial ataupun subsidi kepada masyarakat,” ucap Sudarto.

Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi dan Teknologi Informasi Kementerian Keuangan Sudarto. Foto: IST
Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi dan Teknologi Informasi Kementerian Keuangan Sudarto. Foto: IST

Sudarto mengatakan, perkembangan ekonomi digital di sektor keuangan termasuk fintech mengalami pertumbuhan pesat. Pemerintah juga sudah menggunakan beberapa fintech untuk membayar pajak atau membayar penerimaan negara lainnya hingga penyaluran ultra mikro kredit dan penyaluran bansos.

Berdasarkan data OJK April 2020, terdapat 364 perusahaan fintech di Indonesia. Adapun berdasarkan data Bank Indonesia, total nilai transaksi elektronik meningkat terus sejak tahun 2012 yang waktu itu hanya mencapai Rp 2 triliun menjadi Rp 205 triliun pada 2020.

Sudarto menegaskan, perbankan sebagai industri dengan porsi terbesar di sektor keuangan perlu berkolaborasi dengan fintech dalam memberikan pelayanan keuangan maupun penciptaan produk keuangan baru kepada konsumen.

Jumlah kantor cabang bank umum
Jumlah kantor cabang bank umum

“Perbankan dan fintech memiliki keunggulan masing-masing, misalnya data base, konsumen, dan dana yang besar di sektor perbankan. Sementara fintech memiliki teknologi terkini dan produk yang inovatif,” ucapnya.

Ke depan, Sudarto berharap fintech juga bermitra dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Kolaborasi perbankan dan fintech diharapkan dapat bermanfaat untuk pengembangan UMKM. Kemenkeu sangat mendukung kolaborasi perbankan dan fintech sehingga bisa berdampak positif bagi sektor keuangan, meningkatkan inklusi keuangan, serta menciptakan layanan yang lebih sesuai kebutuhan masyarakat.

“Kami sangat percaya BI dan OJK sudah menyiapkan ataupun mendorong terjadinya kolaborasi ini sehingga semakin harmonis dan berkembang,” kata Sudarto.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN