Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

70% Lender dan Borrower Fintech Lending adalah Milenial

Minggu, 20 September 2020 | 21:40 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pemberi pinjaman (lender) di platform fintech p2p lending didominasi kalangan milenial, mencakup 70% dari total lender. Dominasi milenial pun dicatatkan dari sisi pemberi pinjaman (borrower) sebesar 70,17% di fintech p2p lending.

Data tersebut dicatatkan pada statistik fintech p2p lending oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2020. Lender milenial yang dimaksud merupakan masyarakat berusia 19-34 tahun. Untuk lender dengan usia 35-54 tahun mencakup 27% dari total lender. Sedangkan borrower dengan rentang usia 35-54 tahun mencakup 27,53%, usia di bawah 19 tahun sebanyak 0,76%, dan di atas 54 tahun sebanyak 1,54%.

Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah menyampaikan, keberadaan fintech lending dapat dijadikan pilihan bagi milenial termasuk mahasiswa untuk mengelola keuangannya agar lebih produktif. Dominasi milenial pada platform fintech lending turut mendorong asosiasi dan penyelenggara menggelar sosialisasi dan edukasi.

Kali ini, kata dia, pihaknya menggandeng ratusan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon, Jawa Barat, untuk Seminar Nasional Daring yang bertemakan “Peran Fintech dalam Memenuhi Kebutuhan Pendanaan Masyarakat”. Acara turut diikuti oleh beberapa penyelenggara fintech lending, yakni Sumur.id, Kotak Koin, Awan Tunai, FinanKu, dan Klik UMKM.

"Kegiatan AFPI melalui edukasi ini juga diharapkan dapat menyebarluaskan manfaat dari fintech lending khususnya bagi masyarakat yang belum terjangkau lembaga keuangan formal serta mengedukasi mereka dalam memilih layanan fintech pendanaan bersama yang aman dan terpercaya,” ujar Kuseryansyah dalam keterangan tertulis, akhir pekan ini.

Adapun kegiatan edukasi bernamakan AFPI Goes to Campus itu memilih Cirebon karena kota tersebut menjadi salah satu daerah di Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Barat yang berpotensi mengembangkan ekonomi digital. Apalagi guna mewujudkan inklusi dan pemerataan literasi keuangan di era Industri 4.0.

Sementara itu, Analis Senior Direktorat Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Tomi Joko Irianto mengatakan melalui fintech pendanaan bersama, diharapkan pendanaan usaha makin menjangkau masyarakat bawah, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah/UMKM dengan lebih cepat dan mudah. OJK mendorong industri fintech lending untuk terus memperluas keberadaannya dalam memajukan industri jasa keuangan termasuk meningkatkan perannya dalam upaya pemulihan ekonomi nasional.

"Pengenalan dan edukasi industri fintech pendanaan bersama harus dilakukan agar masyarakat, khususnya UMKM semakin paham sehingga dapat memanfaatkan industri fintech pendanaan bersama atau fintech lending secara tepat.

Terlebih dengan banyaknya fintech ilegal yang meresahkan masyarakat dan mengganggu industri fintech pendanaan bersama, maka masyarakat perlu memahami bagaimana memanfaatkan fintech pendanaan Bersama," kata Tomi.

Kepala Eksekutif Pendanaan Syariah AFPI, Lutfi Adhiansyah mengatakan saat ini fintech lending terus berkembang baik dari layanan konvensional maupun syariah. Pendekatan edukasi fintech pendanaan bersama melalui mahasiswa dinilai tepat karena peran sebagai generasi penerus bangsa dari beragam latar belakang.

Dia menuturkan, sesuai dengan ekosistemnya yang menjadi pendukung industri 4.0, fintech lending mempertemukan antara lender dan borrower secara elektronik dapat terintegrasi dengan e-commerce, e-logistic, dan aggregator untuk membantu pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya.

"Harapan kami mereka dapat semakin kreatif dan inovatif menyampaikan ide-ide untuk memaksimalkan peluang yang ada, khususnya di sektor fintech lending," ucap Lutfi.

Di sisi lain, Dekan FSEI IAIN Syekh Nurjati Cirebon Aan Jaelani mengatakan, dengan edukasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa dan masyarakat Cirebon terutama kalangan akademis dalam menggunakan layanan fintech pendanaan bersama secara optimal. Selain itu, turut memiliki pemahaman terkait risiko dalam transaksi pinjaman online, dan mendorong tingkat aktif masyarakat untuk preventif terhadap fintech ilegal.

"Keberadaan fintech lending khususnya dengan adanya fintech syariah diharapkan dapat menjadi alternatif pendanaan bagi sektor UMKM dan mahasiswa yang membutuhkan pendanaan pendidikan. Apalagi transaksi fintech syariah mengedepankan prinsip transparansi dan adil (fair), berbasis prinsip-prinsip syariah (hukum Islam), transaksi antara investor, perusahaan fintech syariah dan peminjam bersifat kerjasama (musyarakah)," tutup Aan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN