Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jiwasraya

Jiwasraya

AAJI Hormati Putusan Hakim dalam Kasus Jiwasraya

Selasa, 27 Oktober 2020 | 23:02 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menghormati putusan hakim terkait vonis seumur hidup terhadap Direktur Utama PT Hanson International Benny Tjokrosaputro (BT) dan Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk Heru Hidayat (HH) dalam perkara tipikor PT Asuransi Jiwasraya (Persero). AAJI berharap putusan tersebut bisa menciptakan rasa keadilan khususnya bagi nasabah.

Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu mengemukakan, negara Indonesia adalah negara hukum maka keputusan hukum mesti dihormati. Begitu juga vonis seumur hidup oleh hakim kepada BT dan HH. Jika ada pihak yang tidak setuju, permasalahan tersebut dapat diselesaikan pula lewat jalur hukum. Indonesia punya sistem hukum yang perlu dijalankan dan dipercaya bisa menyelesaikan permasalahan.

"Kalau masalah adil kan relatif. Intinya apa yang sudah diputuskan hakim itu wajib hukumnya untuk semua orang menghormatinya. Karena negara kita itu negara hukum. Namun memang kita berharap apa yang diputuskan itu sudah memenuhi rasa keadilan dari setiap pihak. Proses hukumnya kan seperti itu, mari kita ikuti bersama-sama," ucap Togar kepada Investor Daily, Selasa (27/10).

Selain divonis seumur hidup, majelis hakim pada Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (26/10), menjatuhkan denda atas perbuatan kedua terdakwa. Benny Tjokrosaputro diputuskan mesti membayar denda atas kerugian negara sebesar Rp 6,07 triliun. Sedangkan Heru Hidayat diharuskan membayar denda Rp 10,72 triliun. Jika digabungkan, nilai yang harus ditanggung dari keduanya mencapai Rp 16,8 triliun. Nilai itu sama dengan hitungan kerugian negara dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang telah dirilis awal tahun ini.

Terkait nasib nasabah, Togar menuturkan, para nasabah Jiwasraya sejatinya sudah mendapatkan kejelasan dari niat pemerintah lewat pembentukan IFG Life. Nantinya hak nasabah akan diganti melalui perusahaan asuransi terbaru itu.

Dalam hal ini, kata Togar, hal yang terpenting adalah negosiasi antara Jiwasraya dan nasabah pada proses restrukturisasi polis bisa menemui kata mufakat. Sehingga proses restrukturisasi bisa berjalan dan kejelasan dana dari pemegang polis semakin benderang. "Kalau IFG Life itu kan sudah jelas walaupun tidak tahu seberapa lama, setidaknya lebih jelas. Nah nasabah Wanaartha ini yang perlu diperjelas," ucap dia.

Dia mengemukakan, para nasabah Wanaartha Life yang kini dilanda ketidakjelasan akan dananya. Seharusnya dana sitaan itu perlu dipilah, mana hak pemegang polis dan yang bukan. Sehingga para pemegang polis tidak dirugikan, bingung, atau bahkan frustasi.

Di sisi lain, Ketua Umum Forum Nasabah Wanaartha (Forsawa) Parulian Sipahutar menyampaikan, perampasan oleh negara semua barang bukti rekening efek milik Wanaartha Life yang dibebankan kepada dakwaan BT dinilai perlu ditelaah lagi mana yang benar-benar dirampas oleh negara. Sebab, tanpa menyebutkan nomor barang bukti, dimana sebelumnya dibacakan pada pembacaan tuntutan BT pada barang bukti no 75.18 s/d 75.20. Proses penelaahan ini sebaiknya oleh tim Pengacara dari PT Asuransi Jiwa Adisarana WanaArtha dan Pengacara BT.

Dia mengatakan, sebagai nasabah pemegang polis Wanaartha Life dalam perkara tipikor Jiwasraya tetap mengharapkan dana yang dititipkan oleh para nasabah berupa single premi bisa kembali 100%. Selain itu, nasabah yang sudah dirugikan cukup lama memasuki 10 bulan di bulan November 2020 sudah tidak mendapatkan manfaat nilai tunai sejak Maret 2020, dan hanya satu kali saja mendapatkan 50% atas prestasi di bulan Februari 2020.

"Sebagai nasabah Wanaartha Life ruginya 3 kali, single premium yang dititipkan yang ditukar polis makin tidak jelas, manfaat nilai tunai yang tidak lagi diterima, dan polis jatuh tempo yang belum dibayarkan," ujar Parulian.

Dia menilai, masalah hukum Wanaartha Life itu sebaiknya diselesaikan sendiri oleh manajemen dan pengacaranya, Juniver Girsang. Jangan libatkan nasabah dalam masalah hukum, melainkan lunaskan semua utang-utang kepada nasabah Wanaartha Life. "Saya percaya manajemen PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha yang sudah berusia 46 tahun memiliki dana yang cukup untuk membayar nasabah pemegang polis Wanaartha Life," ungkap dia.

Parulian menyayangkan lambannya manajemen Wanaartha Life dan tertutupnya kepada nasabah yang sudah menitipkan dana untuk dikelola, namun sulit untuk berkomunikasi dengan baik secara langsung. Manajemen Wanaartha Life juga lamban dalam memilih tim pengacara yang handal dan berani beradu argumentasi di muka pengadilan dalam perkara tipikor Jiwasraya.

Beberapa aktivitas manajemen Wanaartha Life baru saja dilakukan menjelang berakhirnya persidangan yang sudah berjalan sejak 3 Juni 2020 hingga berakhir 26 Oktober 2020. Semoga aktivitas manajemen Wanaartha Life belakangan ini ke Gedung Bundar membuahkan hasil yang baik. Di antaranya yakni mendapatkan kembali dana yang dititipkan ke Wanaartha Life, mendapatkan penggantian segera 10 bulan manfaat nilai tunai terutang Wanaartha Life, serta pembayaran polis jatuh tempo segera.

 

 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN