Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

AAJI: Klaim Asuransi Jiwa Rata-rata Tumbuh 14% Setiap Tahun

Selasa, 27 Oktober 2020 | 04:39 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebut bahwa dalam lima tahun terakhir rata-rata pertumbuhan klaim sebesar 14%. Diharapkan penetrasi asuransi meningkat, sehingga manfaat asuransi bisa dirasakan lebih banyak masyarakat.

Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI Wiroyo Karsono menilai, kesadaran berasuransi masyarakat perlu terus ditingkatkan melalui serangkaian program edukasi. Dengan begitu, tertanggung atau nasabah asuransi bisa semakin banyak dan kontribusi perusahaan asuransi terhadap kesejahteraan masyarakat pun bisa maksimal. Kontribusi yang dimaksud bisa dilihat dari nilai klaim atau manfaat yang dibayarkan.

"Klaim asuransi jiwa pada nasabah itu meningkat terus selama lima tahun terakhir. Setiap tahun meningkat rata-rata sebesar 14%. Di pertengahan tahun ini, kita sudah membayarkan klaim sebesar Rp 64,52 triliun. Angka ini tentunya menunjukkan komitmen asuransi jiwa terhadap nasabah," ujar Wiroyo pada acara virtual Ngobras (Ngobrol Asik) Seri Tebarkan Benih Kebaikan dengan Berasuransi, Senin (26/10).

Berdasarkan statistik AAJI, klaim asuransi jiwa terakhir kali menurun pada tahun 2011 menjadi sebesar Rp 55,52 triliun, dibandingkan periode 2010 mencapai Rp 66,87 triliun. Sejak saat itu, klaim asuransi jiwa terus meningkat.

Jika dirinci, klaim tahun 2012 sebesar Rp 64,95 triliun, klaim tahun 2013 sebesar Rp 71,40 triliun, klaim tahun 2014 sebesar Rp 74,70 triliun, dan klaim tahun 2015 sebesar Rp 81,47 triliun.

Selanjutnya klaim pada tahun 2016 sebesar Rp 95,21 triliun, klaim tahun 2017 meningkat tajam menjadi sebesar Rp 120,72 triliun. Lalu klaim tahun 2018 sebesar Rp 121,35 triliun, serta klaim tahun 2019 tercatat sebesar Rp 140,28 triliun.

Selain itu, sampai Juni 2020 pun industri asuransi mencatat telah membayarkan klaim terkait penyakit Covid-19. Padahal industri asuransi bisa saja mengecualikan risiko tersebut dari polis.

 

Adapun nilai klaim yang telah dibayarkan mencapai Rp 216,03 miliar kepada 1.642 polis, oleh 56 perusahaan asuransi jiwa.

Wiroyo mengatakan, AAJI bersama 60 anggotanya melakukan edukasi keuangan, khususnya asuransi supaya pemahaman akan pentingnya berasuransi terus meningkat. Asuransi menjadi penting untuk pengelolaan dan perencanaan keuangan di masa mendatang. "Dengan berasuransi kita menata dan mempersiapkan perencanaan keuangan di masa depan, sehingga generasi penerus atau anak-anak kita memiliki masa depan yang lebih baik, salah satunya dengan adanya jaminan pendidikan," imbuh dia.

Adapun dalam acara Ngobras Seri Kedua, AAJI melakukan pendekatan sosialisasi lintas media sosial. Dalam hal ini, asosiasi mengulas peran asuransi jiwa dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Sekaligus menjadi wadah untuk mendulang donasi di sektor pendidikan, terutama bagi para guru.

Kali ini AAJI menggandeng benihbaik.com untuk menjadi pembicara di luar pelaku usaha asuransi. Selain kolaborasi dalam penggalangan dana, keterlibatan benihbaik.com diharapkan bisa memberi kacamata berbeda terhadap industri asuransi Indonesia.

Founder & CEO Benihbaik.com Andy F Noya menuturkan, keluarganya merupakan salah satu yang terbilang punya banyak polis asuransi, khususnya polis asuransi pendidikan. Keputusan memiliki banyak polis itu bukan tanpa alasan, tapi guna menjamin perencanaan di masa mendatang.

Dia mengatakan, bahwa dirinya sempat curiga dan tidak percaya akan proteksi yang diberikan asuransi. Pandangan yang berbeda dimiliki oleh sang istri, yang melihat bahwa asuransi menjadi sarana memastikan kelangsungan pendidikan 11 anaknya. Karena pada masa lalu, sebetulnya pendapatan yang diperoleh belum terlalu besar.

"Terkait asuransi, saya teringat masa lalu saat sulit. Ketika itu, istri saya selalu menyempatkan untuk membeli asuransi pendidikan. Karena ada ketakutan 11 anak-anak di masa mendatang itu tidak mampu disekolahkan, karena kami saat itu tidak ada duit," ucap Andy.

Beberapa tahun belakangan, sambung dia, polis asuransi yang telah dibeli itu turut membantu kehidupan keluarganya sampai saat ini. Klaim dan manfaat pun dengan mudah dicarikan. Bahkan, investasi di keluarganya banyak dilakukan dilakukan lewat perusahaan asuransi.

"Jadi saat ini saya punya banyak sekali polis asuransi. Termasuk beli polis asuransi dari teman-temannya (istri), untuk membantu teman-temannya yang sedang sulit nyambi sebagai agen asuransi. Selain bisa membantu, ada banyak manfaat dalam polis asuransi itu," pungkas Andy.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN