Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

AAJI Minta Relaksasi Pemasaran Produk Tanpa Tatap Muka

Prisma Ardianto, Minggu, 5 April 2020 | 19:46 WIB

JAKARTA, investor.id -- Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) meminta relaksasi (keringanan) kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai pemasaran produk tanpa harus bertatap muka langsung. Hal itu khususnya diperuntukan bagi pemasaran produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI).

Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon menyampaikan, pihaknya sedang melakukan beberapa hal terkait menekan dampak penyebaran virus korona (Covid-19). Langkah terebut utamanya terkait kepentingan masyarakat sebagai nasabah serta industri asuransi jiwa sendiri.

Dia menerangkan, salah satu langkah yang sedang dilakukan asosiasi ialah meminta OJK memberikan relaksasi kepada perusahaan asuransi jiwa yang memasarkan PAYDI. Dalam hal ini, perusahaan asuransi jiwa dapat memanfaatkan teknologi yang ada.

"Dimana pertemuan langsung secara tatap muka antara tenaga pemasar dan calon nasabah dapat digantikan dengan penggunaan teknologi komunikasi (pertemuan langsung secara digital)," kata Budi melalui keterangan tertulis, yang diterima Investor Daily, Minggu (5/4).

Selain itu, lanjut dia, OJK juga menghapus kewajiban tanda tangan basah dan menggantikannya dengan tanda tangan dalam bentuk digital atau elektronik. Menurut Budi, langkah itu sesuai dengan ajakan Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan gerakan physical distancing dalam menghadapi pandemi saat ini.

Di samping itu, AAJI turut meminta perusahaan anggota untuk tetap merekrut tenaga pemasar baru agar masyarakat tetap mendapatkan layanan untuk proteksi kesehatan dan finansial mereka. Hal ini mengkonfirmasi komitmen industri asuransi jiwa untuk terus berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja, bahkan pada situasi sulit sekalipun.

Di sisi lain, kata Budi, pihaknya menyambut baik kebijakan countercyclical yang dikeluarkan oleh OJK yang bertujuan untuk menjaga stabilitas kinerja Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di tengah wabah Covid-19. Sekaligus sebagai suatu dukungan bagi industri asuransi jiwa untuk terus berkontribusi bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Tapi, menurut Budi, penerapan relaksasi penundaan pembayaran premi yang jatuh tempo (grace period), selama empat bulan hanya wajib dilakukan apabila perusahaan asuransi mengakui tagihan premi. Hal itu pun dihitung sebagai aset yang diperkenankan dalam perhitungan tingkat solvabilitas.

Dengan demikian, relaksasi penundaan pembayaran premi seperti yang dimaksud dalam surat OJK mengenai countercyclical bukan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan bagi perusahaan asuransi. AAJI berpendapat hal tersebut merupakan kebijakan yang dapat diambil oleh masing-masing perusahaan asuransi.

Relaksasi OJK

Budi juga menjelaskan, kebijakan countercyclical untuk industri asuransi dikeluarkan oleh OJK memberikan beberapa relaksasi kebijakan. Pertama, perpanjangan batas waktu penyampaian laporan berkala perusahaan kepada OJK. Kedua, penyelenggaraan penilaian kemampuan dan kepatutan Pihak Utama melalui telekonferensi. Ketiga, memberikan relaksasi terhadap perhitungan solvabilitas perusahaan.

Deretan relaksasi tersebut diberikan untuk mendukung kinerja perusahaan asuransi serta memberikan kemudahan dalam situasi yang penuh tantangan saat ini. Kebijakan-kebijakan tersebut merupakan suatu pilihan yang dapat diambil oleh perusahaan asuransi jiwa namun bukan merupakan kewajiban dalam pelaksanaannya.

Oleh karena itu, AAJI mengimbau dan meminta nasabah untuk selalu memahami ketentuan-ketentuan dalam polis mereka. Termasuk mempertimbangkan terkait langkah untuk menunda pembayaran premi itu bisa berpengaruh kepada elemen-elemen investasi yang telah diperhitungkan dalam perencanaan keuangan mereka.

"AAJI juga mengimbau nasabah untuk memastikan agar perlindungan asuransi jiwa yang dimilikinya tetap aktif dan menghubungi perusahaan asuransi masing-masing, untuk mendapatkan penjelasan atau apabila mempunyai pertanyaan terhadap polis yang dimiliki," ujar Budi.


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN