Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

AAJI Proyeksi Hasil Investasi Tembus 20%

Selasa, 12 Januari 2021 | 04:29 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memproyeksi hasil investasi industri asuransi jiwa bisa menembus pertumbuhan 20% di tahun 2021. Namun demikian, hal itu akan diikuti tren nasabah yang melakukan klaim partial withdrawal.

Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu menerangkan, perbaikan kinerja dari industri asuransi jiwa telah terlihat di kuartal III-2020 setelah sempat anjlok pada periode sebelumnya. Pihaknya pun berharap tren perbaikan bisa terus berlanjut dan pertumbuhan premi di tahun 2021 dapat melonjak 8-10% atau seperti pencapaian sebelum pandemi Covid-19.

Menurut dia, salah satu lini asuransi yang kini menjadi andalan untuk mendongkrak proyeksi itu adalah asuransi kesehatan. Meski begitu, lini lain seperti produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit linked berpotensi tumbuh subur di tahun ini.

"Kita belum melakukan kajian pasti, tapi mungkin peningkatan premi baru unit linked bisa sampai 12-15%. Kalau hasil investasi menurut saya bisa naik sampai di atas 20% di tahun ini," kata Togar ketika dihubungi Investor Daily, Senin (11/1).

Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)
Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Dia menyatakan, meski belum mewakili kinerja sepanjang tahun ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) sedang dalam tren baik dan mampu mendorong dari kinerja unit linked. IHSG pada Senin (11/1) ditutup menguat 2%, melesat 125,10 poin menjadi 6.382,94. Posisi itu menurut dia, jauh baik dibandingkan Maret 2020 yang sempat anjlok pada kisaran 3.900.

Sementara berdasarkan data AAJI sampai kuartal III-2020 atas 58 dari 60 perusahaan asuransi jiwa, hasil investasi memang merosot tajam sampai dengan 252,8% secara tahunan (year on year/yoy). Hasil investasi turun dari Rp 11,50 triliun di kuartal III-2019 menjadi minus Rp 17,57 triliun di kuartal III-2020.

Jika ditilik kinerja sepanjang tahun 2020, hasil investasi memang sempat terjerembab minus Rp 47,85 triliun di kuartal I-2020 sebagai akibat dari pandemi Covid-19. Hasil investasi kemudian berhasil dibukukan positif Rp 26,23 triliun pada kuartal II-2020. Hasil positif masih ditorehkan pada kuartal III-2020 tapi hanya sebesar Rp 4,05 triliun. Perbaikan di dua kuartal terakhir itu belum mampu mengembalikan hasil investasi ke posisi semula.

Dia menyatakan, hasil investasi yang diproyeksi meningkat pada tahun ini akan mendorong pemegang polis PAYDI untuk menarik dananya. Oleh karena itu, AAJI turut memprediksi bahwa klaim partial withdrawal bakal melonjak. Namun demikian, situasi itu kemungkinan hanya terjadi sementara.

AAJI mencatat, klaim partial withdrawal sampai kuartal III-2020 melambat 18,5% (yoy) menjadi Rp 10,31 triliun. Perlambatan itu salah satunya karena banyak nasabah yang menahan diri menunggu hasil investasi yang lebih baik. Adapun total klaim yang telah dibayarkan asuransi jiwa mencapai Rp 109,61 triliun atau turun 3,4% (yoy).

Pada saat yang sama, total pendapatan premi asuransi jiwa dibukukan sebesar Rp 133,99 triliun atau terkontraksi 7,9% (yoy). Kontraksi itu dipengaruhi premi bisnis baru dan premi lanjutan yang belum mampu bergerak positif. Premi bisnis baru turun 11,5% (yoy) menjadi sebesar Rp 80,13 triliun. Sedangkan premi lanjutan turun tipis sebesar 1,9% (yoy) menjadi sebesar Rp 53,87% (yoy).

Secara umum, kata Togar, industri asuransi jiwa berharap persepsi masyarakat bisa kembali setelah sempat terpuruk karena sejumlah kasus pada beberapa perusahaan asuransi. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk memproteksi diri melalui asuransi tengah meningkat. Potensi-potensi yang ada perlu dimanfaatkan para pelaku asuransi jiwa secara maksimal.

Dia mengemukakan, potensi tumbuh berkembang asuransi jiwa selalu ada lantaran penetrasi yang terbilang masih kecil. Permasalahan utama saat ini adalah terkait daya beli masyarakat yang menurun. Fenomena tersebut diharapkan bisa dituntaskan dari sejumlah upaya pemerintah.

Togar menjelaskan, misalnya adalah usaha pemerinta untuk menggaet investor asing masuk ke Indonesia. Rencana Hyundai untuk mengalihkan pabriknya untuk kawasan Asia Pasifik dari Malaysia ke Indonesia, lalu rencana Hyundai membangun pabrik mobil listrik, serta kabar Tesla untuk ikut serta membangun pabrik di wilayah Indonesia menjadi pengaruh yang positif untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Selain itu, sambung Togar, pemerintah juga harus tetap menjalankan proyek-proyek infrastruktur karena kemampuannya menyerap tenaga kerja. Pendekatan lain seperti proyek food estate di beberapa daerah yang menggandeng banyak petani. Berbagai upaya pemerintah itu pada akhirnya diharapkan bisa mendorong daya beli masyarakat.

"Jadi sebaiknya pemerintah tidak berhenti dengan proyek-proyeknya. Misalnya food estate di Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah, itu kan ada ribuan hektar dan banyak petani yang terlibat sehingga juga diharapkan mampu meningkatkan daya beli," tandas Togar.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN