Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

AAJI: Saving Plan Bagus untuk Pasar

Selasa, 29 September 2020 | 05:34 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menilai bahwa produk asuransi tradisional endowment, yakni saving plan bagus untuk memenuhi kebutuhan pasar. Produk tersebut diyakini tidak memiliki masalah, tata kelola perusahaan asuransi pemasar yang membuat saving plan menjadi bermasalah.

Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko AAJI Fauzi Arfan menyampaikan, produk saving plan memiliki ciri tingkat bunga investasi sepenuhnya digaransikan oleh perusahan asuransi pemasar. Hasil survei AAJI pada akhir 2018 menemukan terdapat 17 perusahaan asuransi pemasar produk saving plan dari total sebanyak 55 perusahaan asuransi.

Dari survei tersebut, kata dia, ditemui banyak kendala bagi perusahaan asuransi memasarkan produk saving plan. Kendala utamanya adalah ketidaksesuaian antara aset dengan liabilitas, mengingat belum semua aset perusahaan dengan nasabah telah dipisah secara utuh.

Kesimpulan dari survei itu menyatakan bahwa perusahaan asuransi yang menjual saving plan akan menemui kendala kalau mereka tidak memiliki manajemen risiko yang kuat.

"Jadi isunya bukanlah produk, karena analoginya produk endowment atau saving plan merupakan produk generik dari asuransi. Seperti produk asuransi beasiswa itu masuk kategori endowment, sebab perusahaan asuransi memberikan garansi pada saat seseorang mencapai usia tertentu," jelas Fauzi secara virtual, akhir pekan lalu.

Dia mengungkapkan, produk saving plan memang serupa produk deposito yang dijajakan perbankan. Jika tingkat bunga yang disuguhkan tidak sesuai dengan risiko bank, maka bank pun akan menemui kendala. Hal serupa dapat terjadi pada penjualan produk saving plan oleh perusahaan asuransi.

Dia memaparkan, sampai akhir 2018 kontribusi produk saving plan terhadap penjualan seluruh produk asuransi hampir 20%. Adapun distribusi produk sebesar 48% dan kanal bancassurance sebesar 32%. Untuk kanal direct marketing berkontribusi sebesar 8%, sedangkan kanal telemarketing, employee benefit consultant, dan lainnya masing-masing berkontribusi sebesar 4%.

Kemudian, ucap dia, pengelola investasi pada produk saving plan sebesar 88,2% dikelola oleh perusahaan asuransi yang juga sebagai pemasar dan sebesar 11,8% dikelola manajer investasi. Sebagian besar perusahan punya standar operasional perusahaan (SOP) untuk mengelola dana investasi saving plang, ada sebagian lain yang tidak memiliki SOP.

"Jadi hasil survei kami, produk saving plan itu bukanlah produk yang bermasalah bahkan bagus untuk pasar. Tetapi kalau produk itu ditawarkan dengan tingkat bunga tertentu diluar kapasitas perusahaan pemasar, maka disitulah permasalahan. Menjual produk saving plan ini perlu mitigasi risiko dan analisis risiko yang benar-benar baik dari perusahaan. Terutama tentang aset dan liabilitas," ujar Fauzi.

Dia mengungkapkan, ketika perusahaan asuransi menjual produk saving plan, perlu bagi perusahaan asuransi menimbang jenis aset untuk memenuhi kewajibannya. Ketika tidak ada aset yang dimiliki untuk menambal janji kepada nasabah, terjadilah masalah gagal bayar. Jadi perlu permodalan yang cukup dengan setidaknya memenuhi tingkat risk based capital (RBC).

Di sisi lain, perusahaan asuransi juga menawarkan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau lebih dikenal dengan produk unitlink. Perbedaan paling kentara jika dibandingkan dengan saving plan adalah bahwa risiko investasi pada unitlink ditanggung oleh nasabah. Sedangkan produk saving plan dengan garansi 100% tentu risiko investasi ditanggung perusahaan.

"Karena itu, maka perusahaan asuransi pemasar unitlink harus bisa mengukur nasabah mana yang boleh mengambil risiko tertentu. Kalau ada nasabah yang relatif aman dan mau membeli produk unitlink, dimungkinkan tapi dengan penempatan investasi pada money market," lugas dia.

Namun demikian, Fauzi menuturkan, bahwa produk unitlink pun diperkenankan ditawarkan berikut dengan garansi. Hal tersebut telah diatur OJK, tapi ada pembatas antara nilai yang digaransikan dengan nilai tunainya. Dengan begitu, perhitungan RBC oleh perusahaan asuransi pun akan berbeda sesuai dengan risiko yang ditanggung.

"Saya menekankan bahwa produk asuransi itu ada PAYDI atau biasa dikenal dengan unitlink. Unitlink ada yang 100% tidak digaransi dan ada sebagian yang digaransikan. Selain itu ada produk saving plan yang menjadi bagian produk endowment. Kalau sedang marak isu tentang gagal bayar mengenai produk saving plan adalah karena manajemen risiko dari masing-masing perusahaan, bukan pada produknya," tandas dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN