Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)

AAUI Nilai Perusahaan Asuransi Perlu Kembangkan Produk Ritel

Minggu, 9 Agustus 2020 | 18:13 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai perusahaan asuransi perlu mengembangkan produk dengan premi tidak terlalu mahal dan mudah untuk diakses masyarakat, atau berkenaan dengan tipikal asuransi mikro. Hal tersebut guna membuka peluang bisnis baru di tengah kondisi daya beli masyarakat yang rendah, sekaligus melakukan literasi asuransi saat pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif AAUI Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menyampaikan, belum ada yang mengetahui waktu berakhirnya pandemi Covid-19, begitu juga dampak ekonomi yang menggerus daya beli masyarakat. Namun yang pasti masyarakat akan selalu dibayangi risiko di masa mendatang.

Dia mengatakan, setiap risiko itu perlu diantisipasi oleh masyarakat. Namun demikian, salah satu kendala masyarakat enggan untuk berasuransi adalah dana yang tidak cukup untuk membeli polis.

Oleh karena itu, setiap perusahaan asuransi perlu tetap melakukan literasi akan pentingnya mitigasi risiko keuangan melalui asuransi.

"Di saat yang sama juga menciptakan produk-produk asuransi yang coverage sesuai kebutuhan masyarakat, premi tidak terlalu mahal dan produk asuransi tersebut dapat dengan mudah diakses. Ini adalah tipikal asuransi mikro. Jadi inilah saatnya perusahaan asuransi mengembangkan asuransi mikro yang match dengan kebutuhan masyarakat," kata Dody kepada Investor Daily, akhir pekan ini.

Dia menerangkan, industri asuransi memang pada dasarnya akan mengikuti aktivitas ekonomi masyarakat. Hal itu disebabkan produk asuransi di Indonesia masih belum menjadi produk utama yang dibeli masyarakat, tapi suatu komoditas yang tetap harus ditawarkan.

Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe. Foto: IST
Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe. Foto: IST

Dody menyatakan, keadaan tersebut karena penetrasi asuransi masih rendah dan literasi asuransi pun masih dalam proses pengembangan, belum masif. Untuk itu pula, prinsip penjualan produk asuransi akan mengikuti proses jasa keuangan pada umumnya, yakni mengikuti arah yang mengalir di masyarakat.

"Itu makanya jika ekonomi membaik dan daya beli masyarakat juga naik, maka produk asuransi akan lebih mudah ditawarkan, dengan demikian pertumbuhan asuransi juga naik," ungkap Dody.

AAUI sendiri telah memangkas perkiraan pertumbuhan premi tahun 2020 menjadi turun sekitar 15-25% secara tahunan (year on year/yoy). Proyeksi itu didasari empat lini bisnis utama seperti asuransi harta benda, asuransi kendaraan bermotor, asuransi kredit, serta asuransi kecelakaan diri dan kesehatan.

Berdasarkan data AAUI per kuartal I-2020, khusus lini asuransi kecelakaan diri dan kesehatan masih mampu tumbuh sebesar 8,9% (yoy) menjadi sebesar Rp 2,62 triliun. Dody mengatakan, pertumbuhan itu didorong kinerja asuransi kesehatan yang konsisten menggarap pasar tertentu, yakni segmen korporasi yang memang menganggarkan premi kesehatan untuk para karyawannya dan permintaan atas proteksi Covid-19.

Sedangkan asuransi kecelakaan cenderung turun karena aktivitas dari masyarakat yang menurun saat itu, begitu pun imbas pada asuransi perjalanan.

Dody mengatakan, pertumbuhan asuransi perjalanan yang masuk dalam kategori asuransi kecelakaan diri dan kecelakaan turut mengikuti tren dari daya beli masyarakat. Hal itu diantaranya dapat dipicu dari aktivitas tumbuhnya industri transportasi, pariwisata, seni budaya, MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).

Sementara itu, dibukanya kembali Bali sebagai destinasi wisata domestik pada 31 Juli lalu, merupakan angin segar untuk pelaku industri pariwisata termasuk asuransi perjalanan. Seiring dengan adaptasi baru karena pandemi, perubahan perilaku pelancong pun dinilai menjadi angin segar untuk industri asuransi perjalanan.

Direktur PT Asuransi Adira Dinamika Tbk Donni Gandamana mengatakan, dalam merencanakan perjalanan, pelancong kini akan beralih ke digital termasuk untuk booking hotel maupun akomodasi. Selain itu, wisata domestik akan lebih diminati dibandingkan internasional.

"Dengan situasi saat ini, asuransi perjalanan juga menjadi lebih penting, karena traveller akan lebih waspada terhadap risiko-risiko yang dapat terjadi saat mereka berwisata,” ujar dia melalui keterangan tertulis.

Menurut Donni, asuransi perjalanan sendiri memiliki peran besar dalam masa pandemi. Peran yang dimaksud mendukung pelaksanaan protokol clean, health, safety, and environment (CHSE) selama berwisata di daerah tujuan. Apalagi asuransi perjalanan turut memberi perlindungan dari risiko yang tidak terduga seperti kecelakaan, sakit, hingga ketidaknyamanan dalam perjalanan.

Di sisi lain, mendorong portofolio segmen ritel melalui kemudahan digital di masa pandemi juga dilakukan PT Asuransi Allianz Utama Indonesia. Dalam hal ini, Presiden Direktur Allianz Utama Peter van Zyl  menyatakan, perseroan menghadirkan produk perlindungan mobil dan asuransi layar ponsel.

Dia menerangkan, penawaran itu dilakukan berkat kerjasama dengan PasarPolis, sehingga perseroan pun bisa menawarkan produk melalui aplikasi di Gojek. "Mengikuti perkembangan tren digital yang terus bergerak dinamis, Allianz Utama terus menggali potensi untuk memperluas segmen pasar untuk perlindungan asuransi kerugian," kata Peter.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN