Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Webinar Kebangkitan Industri Asuransi di Era Pandemi yang dipandu Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu, menghadirkan pembicara pengamat asuransi Tri Djoko Santoso,  Andi Handoko, dan Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia Tatang Nurhidayat, Kamis (29/7/2021).

Webinar Kebangkitan Industri Asuransi di Era Pandemi yang dipandu Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu, menghadirkan pembicara pengamat asuransi Tri Djoko Santoso, Andi Handoko, dan Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia Tatang Nurhidayat, Kamis (29/7/2021).

Ada Pandemi, Likuiditas Asuransi Tetap Terjaga

Kamis, 29 Juli 2021 | 15:58 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id Pengamat asuransi Tri Djoko Santoso menilai, di tengah tantangan menghadapi dampak pandemi Covid-19, industri asuransi tetap memperlihatkan kinerja yang baik. Likuiditasnya pun tetap terjaga, meskipun sebagian besar sektor mengalami tekanan yang besar akibat pandemi.

Djoko juga melihat kondisi pandemi Covid-19 saat ini berbeda dengan krisis tahun 1998. Meskipun saat itu krisisnya lebih pendek dibandingkan pandemi Covid-19, namun dampaknya kepada industri asuransi lebih panjang.

“Ketika itu (krisis 1998), banyak perusahaan asuransi yang mengalami masalah likuiditas, demikian juga perbankan. Sebab ada mismatch, kita terima premi dolar AS, kita investasikan dalam properti, dan ketika klaim dolarnya menjadi Rp 16.000, kita tidak bisa bayar. Sehingga dampaknya panjang sekali. Tetapi era pandemi, masalah likuiditas itu tidak terjadi,” kata Tri Djoko dalam webinar Kebangkitan Industri Asuransi di Era Pandemi yang digelar Beritasatu Media Holdings, Kamis (29/7/2021).

Djoko mencontohkan klaim Covid-19 yang telah dibayarkan perusahaan asuransi pada kuartal I-2021 sebesar Rp 1,4 triliun, dan juga pembayaran klaim untuk penyakit-penyakit lainnya. Hal ini menunjukkan likuiditas perusahaan asuransi masih terjaga.

“Ini adalah salah satu modal utama bagi industri asuransi jiwa, bahwa secara likuiditas perusahaan asuransi jiwa ini tidak terdampak pandemi. Kalau di masa krisis 1998, itu dampaknya panjang. Sekarang ini dampaknya tidak panjang, bahkan saya lihat tidak ada,” kata Djoko.

Pada kesempatan itu, Deputi Direktur Pengawasan Asuransi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kristianto Andi Handoko juga mengungkapkan, di era pandemi Covid-19 ini, industri asuransi tetap menunjukkan kinerja yang baik. Ia juga sangat optimistis sampai akhir tahun pertumbuhannya akan semakin baik.

“Sampai Juni 2021, memang ada pertumbuhan yang cukup siginifikan. Untuk industri asuransi jiwa sudah tumbuh 4,14%, sementara asuransi umum tumbuh sampai 10%. Kemudian dari sisi premi dan klaim yang memang menopang pertumbuha aset itu, untuk premi asuransi jiwa yang dihimpun tumbuh 18,35%. Sedangkan untuk asuransi umum tumbuhnya relatif tipis karena penutupannya kan rata-rata setahun, jadi biasanya pada akhir tahun akan naik siginifikan. Tetapi sampai pertengahan tahun ini sudah tumbuh 2,5%,” kata Kristianto Andi Handoko.

Untuk data pemegang polis, di masa pandemi ini juga terlihat ada peningkatan. Sebelumnya di akhir 2020, pemegang polis asuransi jiwa mencapai 44 juta, kemudian di akhir Juni 2021 sudah menjadi lebih dari 45 juta. Sedangkan untuk pemegang polis asuransi umum yang akhir tahun lalu mencapai 66 juta, gambarannya baru bisa terlihat pada akhir 2021. Namun Andi meyakini sampai akhir 2021 akan mencapai target di atas 66 juta.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Tatang Nurhidayat menjelaskan,, industri asuransi juga turut memberikan kontribusinya dalam penanganan pandemi Covid-19. Misalnya saja menggunakan dana perusahaan atau CSR untuk program-program preventif, pelayanan vaksinasi, hingga bantuan sosial.

“Di masa pandemi, perusahaan asuransi juga memberikan manfaat klaim Covid-19 yang sesungguhnya tidak dijamin di dalam polis, tetapi ini diberikan. Beberapa perusahaan juga sudah mengajukan untuk memperluas jaminan ataupun produk baru risiko Covid-19, baik yang sifatnya perluasan jaminan, produk baru, maupun yang sifatnya santunan,” kata Tatang.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN