Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Profil dan perkembangn fintech lending

Profil dan perkembangn fintech lending

Akumulasi Pembiayaan Fintech Lending Syariah Capai Rp 1,2 Triliun

Senin, 23 November 2020 | 22:38 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Akumulasi penyaluran pembiayaan fintech p2p lending syariah mencapai Rp 1,2 triliun sampai September 2020. Adapun Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai bahwa kegiatan umrah dan haji, serta makanan halal menjadi sektor yang potensial untuk diberi pembiayaan di masa mendatang.

Ketua Klaster Fintech Pendanaan Syariah AFPI dan CEO Ammana Lutfi Adhiansyah menyampaikan, penyaluran pembiayaan fintech lending syariah turut terdampak pandemi Covid-19. Namun sejak Juni 2020 mampu menunjukkan geliat perbaikan yang didukung oleh kebiasaan masyarakat menggunakan layanan digital.

"Akumulasi penyaluran dari berdiri sampai sekarang (September 2020) industri fintech p2p lending itu sudah sekitar Rp 128 triliun. Kalau syariahnya itu sudah Rp 1,2 triliun, kayaknya sudah lebih sampai sekarang," kata Lutfi lewat diskusi virtual bertajuk Peran Fintech dan Digitalisasi Ekonomi Syariah untuk Peningkatan Ekonomi Halal di Indonesia, Senin (23/11).

Dari sisi pengguna, dia memaparkan, pemberi dana atau lender fintech lending mencapai 600 ribu. Mayoritas lender merupakan pria dengan rentang usia 19-34 tahun. Sedangkan total transaksi penerima dana atau borrower mencapai 26 juta. Adapun portofolio borrower fintech lending relatif sama, borrower pria sedikit mendominasi dibandingkan borrower wanita.

Lutfi menyatakan, tingkat kebutuhan masyarakat terhadap fintech lending, terutama fintech lending syariah terus meningkat sepanjang 2020. Sebelum pandemi, peningkatan hampir 80% dicatatkan sektor konsumtif. Karena banyak masyarakat mencoba menjaga arus kasnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fenomena itu berubah saat pandemi Covid-19.

"Sedangkan di masa pandemi, sektor yang lebih save, itu lebih pada sektor produktif karena sektor konsumtif agak terganggu untuk penyaluran. Pola pembiayaan payroll itu (terganggu) karena banyak yang di-PHK. Makanya sektor produktif lebih menarik untuk dilayani," terang dia.

Dia menjabarkan, saat ini terdapat sebanyak 11 fintech lending syariah yang masing-masing memiliki fokus pasar yang berbeda. Terdapat fintech lending syariah yang menggarap bisnis di bidang properti ataupun UMKM dengan pola penyaluran invoice financing atau supply chain financing. Dengan demikian, peran fintech lending syariah tidak bisa disamaratakan.

Di samping itu, Lutfi menuturkan, sejumlah sektor diprediksi masih potensial untuk digarap fintech lending syariah. Sejalan dengan hasil laporan dari State of Global Islamic Economy Report 2020, sektor yang dimaksud salah satunya adalah kegiatan umrah dan haji.

"Kenapa? Kalau di pandemi halal tourism itu menurun, tapi karena orang lama terkurung di masa pandemi, (sektor) ini akan meledak. Orang akan mencari layanan umrah dan haji. Jadi kalau bicara sektor berpotensi kedepan yang dilayani secara teknologi adalah pendanaan umrah dan haji," ungkap dia.

Lutfi menyatakan, sektor potensial lainnya adalah terkait industri makanan halal. Banyak dari masyarakat mulai menyadari pentingnya makanan sehat. Dia menilai, makanan halal kini dianggap identik dengan makanan sehat. Hal itu sesuai dengan peningkatan produksi dari UMKM yang berbasis kuliner atau makanan halal. "Jadi sektor halal yang layak didukung pendanaan adalah industri makanan. Dua sektor itu masuk ke dalam State of Global Islamic Economy Report 2020," jelas dia.

Lutfi menambahkan, potensi juga terbuka bagi fintech lending syariah untuk secara serius menggarap sektor social financing. Kebutuhan pada sektor tersebut bisa secara langsung dihubungkan fintech lending syariah yang memiliki dana sosial guna membantu masyarakat yang membutuhkan. "Nah fintech syariah ini bisa masuk untuk mendukung pemulihan ekonomi. Tidak hanya finetch secara komersial, bisa disalurkan lewat dana infaq atau wakaf," imbuh dia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi Keuangan Syariah (KNEKS) Ventje Rahardjo menyatakan, investasi dan realisasi pengaruh dari fintech lending syariah memang belum terlalu besar. Masih perlu banyak pengembangan teknologi dan kolaborasi yang lebih masif.

Kemudian, kata dia, industri fintech lending syariah perlu memiliki tiga faktor pendukung yakni terkait efisien, kompetitif, dan berkelanjutan. Efisien sendiri erat hubungannya bahwa pendekatan teknologi seharusnya bisa menekan berbagai biaya-biaya. Faktor kompetitif maksudnya dalam rangka mensejajarkan diri dengan entitas konvensional. Hal itu bisa dilakukan dengan mencari bentuk akad atau kontrak yang benar-benar mencerminkan kekhasan dari fintech lending syariah. Sedangkan faktor keberlanjutan sehubungan dengan manajemen risiko, kekuatan modal, dan kerja sama antarpenyelenggara.

"Sehingga AFPI ini tidak hanya tempat bersilaturahmi tapi tempat memperkuat industri bersama. Pengawasan juga perlu baik karena akan menimbulkan kepercayaan, baik untuk lender dan yang meminjam. Industri ini akan mengembangkan ekosistem ekonomi syariah," tandas Ventje.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN