Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

April, Perbankan Cetak Laba Rp 49 Triliun

Nida Sahara, Sabtu, 22 Juni 2019 | 09:12 WIB

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba bersih industri perbankan mencapai Rp 49,91 triliun pada Januari-April 2019, meningkat 8,22% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 46,12 triliun.

Data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) periode April 2019 yang dipublikasi OJK menunjukkan, perolehan laba bersih tersebut ditopang oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang mencapai Rp 125,29 triliun, tumbuh 4,12% dibandingkan April 2018 sebesar Rp 120,33 triliun. Kemudian, pendapatan nonoperasional sebesar Rp 7,29 triliun atau lebih rendah dari tahun lalu yang sebesar Rp 8,57 triliun, sedangkan beban operasional sebesar Rp 235,45 triliun.

Jika dirinci, berdasarkan kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV mencetak laba bersih sebesar Rp 32,95 triliun per April 2019, meningkat 15,17% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp 28,61 triliun.

Peningkatan laba bersih tersebut didorong dari NII yang meningkat 9,93% dari Rp 67,50 triliun menjadi Rp 73,53 triliun. Sedangkan beban operasional juga meningkat 51,37% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 101,48 triliun per April 2019.

Untuk kelompok BUKU III membukukan laba bersih sebesar Rp 13,08 triliun atau tumbuh tipis 1,08% dibandingkan dengan April 2018 yang sebesar Rp 12,94 triliun. Pertumbuhan laba yang tipis tersebut disebabkan oleh adanya lonjakan beban operasional yang naik 67,94% (yoy) menjadi Rp 108,24 triliun, sedangkan NII melambat 5,90% menjadi Rp 32,04 triliun dari Rp 34,05 triliun.

Sedangkan kelompok BUKU II dan I mengalami perlambatan pertumbuhan laba bersih sampai dengan April 2019. Untuk BUKU II, laba bersih yang diperoleh sebesar Rp 2,56 triliun, lebih lambat 24,48% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,39 triliun.

Perlambatan tersebut karena adanya peningkatan beban operasional BUKU II sebesar 7,96% (yoy) menjadi Rp 17,35 triliun. Kemudian, kelompok BUKU II hanya memperoleh NII yang tumbuh 4% (yoy) menjadi Rp 12,75 triliun.

OJK juga mencatat, BUKU I mengalami perlambatan pertumbuhan laba bersih paling dalam mencapai 62,5% dari April 2018 yang sebesar Rp 312 miliar menjadi Rp 117 miliar per April 2019.

Perlambatan tersebut terjadi karena BUKU I juga mencatat perlambatan pada NII sebesar 4,20% (yoy) menjadi Rp 1,14 triliun dari Rp 1,19 triliun. Untuk beban operasional tercatat meningkat 16,81% (yoy) menjadi Rp 1,32 triliun per April 2019.

"Laba dan kredit perbankan memang disumbang hanya dari kelompok BUKU III dan BUKU IV. Itu memang wajar, karena kompetisi, BUKU I dan II tidak cukup mampu untuk berkompetisi apalagi terkait teknologi, karena mahal bagi BUKU kecil," jelas Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso kepada Investor Daily, di Jakarta, Kamis (20/6) malam.

Menurut Wimboh, perbankan harus memanfaatkan teknologi. Untuk itu pihaknya mengimbau bank kecil untuk berkolaborasi dengan perusahaan teknologi atau bank yang lebih besar terkait sinergi teknologi. Hal tersebut dinilai lebih murah dibandingkan melakukan investasi sendiri untuk teknologi. "Bank yang kecil ini kami harapkan bisa bersinergi dengan yang besar, dari sisi teknologi misalnya. Karena bank kecil BUKU I dan II ini tidak mampu investasi besar, teknologi itu mahal," lanjut Wimboh.

Sementara itu, dari data SPI OJK per April, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tercatat sebesar 4,87% atau lebih rendah dari tahun lalu di posisi 5,07%. Sedangkan return on asset (RoA) berada di level 2,42%, naik 2 basis poin (bps) dari tahun lalu yang sebesar 2,40%.

"Perbankan Indonesia, walaupun NIM turun, tapi profitnya tetap tumbuh, karena sekarang bank bukan mencari margin yang besar, melainkan dari pendapatan lain, seperti fee based income. Ke depan akan mencari fee based, tentunya dengan memanfaatkan teknologi," terang dia.

Kredit Tumbuh 11,05%

Di sisi lain, OJK mencatat sampai dengan April 2019, perbankan Indonesia telah menyalurkan kredit mencapai Rp 5.305,97 triliun, tumbuh 11,05% dibandingkan dengan April 2018 yang sebesar Rp 4.778,16 triliun.

Seperti yang disebut Wimboh, pendorong pertumbuhan kredit perbankan masih berasal dari kelompok BUKU III dan IV. Untuk BUKU IV sampai dengan April 2019 telah menyalurkan kredit Rp 2.827,0 triliun, tumbuh tinggi 18,11% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 2.393,45 triliun.

Kemudian BUKU III menyalurkan kredit Rp 1.702,38 triliun, meningkat tipis 1,93% (yoy). BUKU II telah mengucurkan kredit Rp 524,85 triliun, tumbuh 6,16% (yoy). Untuk BUKU I sampai dengan empat bulan pertama tahun ini mencatat pertumbuhan melambat 1,55% dari Rp 45,20 triliun menjadi Rp 44,50 triliun. "Kredit investasi itu tumbuh 14%, kredit modal kerja 11%, kredit konsumsi tumbuh 9%. Kredit konsumsi ini karena permintaan kendaraan bermotor belum banyak, real estate di properti juga belum banyak. Tapi ke depan dengan berbagai proyek akan meningkat," ungkap Wimboh.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA