Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

April, Undisbursed Loan Perbankan Rp 1.564,95 Triliun

Nida Sahara, Rabu, 3 Juli 2019 | 08:17 WIB

JAKARTA.investor.id – Data Statistik Perbankan Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode April 2019 mencatat, total fasilitas kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) mencapai Rp 1.564,95 triliun atau meningkat 6,11% dibandingkan dengan April 2018 yang sebesar Rp 1.474,86 triliun.

Jika dirinci, dari total undisbursed loan yang termasuk committed sebesar Rp 370 triliun dan uncommitted sebesar Rp 1.194,95 triliun. Sementara itu, berdasarkan kategori, bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV atau yang memiliki modal inti di atas Rp 30 triliun mencatatkan peningkatan undisbursed loan tertinggi dibandingkan dengan kategori BUKU lainnya.

Data OJK menunjukkan, sampai dengan April 2019, jumlah undisbursed loan BUKU IV mencapai Rp 659,77 triliun atau meningkat 13,18% dibandingkan dengan posisi sama tahun lalu yang sebesar Rp 582,91 triliun.

Menanggapi hal tersebut, Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rohan Hafas menjelaskan, tidak semua undisbursed loan merupakan kredit yang tidak dipakai. Sebab, ada pola di mana debitur mengambil kredit pada awal tahun, tapi untuk dipakai akhir tahun. Terlebih lagi, BUKU IV banyak masuk membiayai infrastruktur pemerintah.

"Ada juga yang pola, seperti BUKU IV yang merupakan bank pemerintah, banyak proyek infrastruktur. Infrastruktur itu baru bisa dipakainya (kreditnya) setahun kemudian atau diujung tahun, tapi kan harus disediakan dulu kreditnya, harus ada perjanjian kreditnya," terang Rohan kepada Investor Daily, ditemui di Jakarta, pekan lalu.

Menurut Rohan, misalnya pembangunan jalan tol atau light rapid transportation (LRT), di mana pemborongnya dibayar pada akhir tahun. Dengan demikian, pemborong proyek tersebut diminta mencari modal kerja sendiri. Hal tersebut membuat undisbursed loan selalu meningkat khususnya di BUKU IV, karena maraknya pembangunan infrastruktur.

"Misalnya si pemborong itu baru selesai pada akhir tahun, itu tergolong undisbursed loan, jadi bukan tidak dipakai dan tidak produktif. Tapi lebih ke sifatnya, kalau seperti infrastruktur jalan tol itu termasuk undisbursed loan yang committed," jelas Rohan.

Pihaknya meyakini, fasilitas kredit yang belum ditarik akan menurun pada semester kedua tahun ini. Hal tersebut sudah menjadi kewajaran, karena semester kedua memang lebih kencang penarikannya. "Logikanya iya (semester II undisbursed loan turun), selalu semester II ke belakang kredit itu mulai kencang ditarik dibandingkan semester I. Soalnya, pada semester I kan baru mulai tahun ajaran, baru mulai ambil kredit," lanjut Rohan.

baca selengkapnya di https://subscribe.investor.id

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN