Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas sedang melayani tamu di kantor pusat Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Petugas sedang melayani tamu di kantor pusat Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Aset Asuransi Umum dan Reasuransi Berpeluang Tumbuh 3,14%

Senin, 24 Januari 2022 | 08:32 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan aset industri asuransi umum dan reasuransi tumbuh 3,14% pada tahun ini, sejalan dengan rencana masing-masing perusahaan meningkatkan produksi premi.

Proyeksi OJK tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) Tahun 2022, pekan lalu.

Dia juga memastikan bahwa stabilitas industri jasa keuangan nonbank (IKNB), termasuk asuransi umum terjaga dengan baik. Tercermin dari risk based capital (RBC) di level 327,3% atau di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%.

Menanggapi hal itu, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo menilai, proyeksi tersebut didasari rencana kerja perusahaan asuransi dan reasuransi pada tahun ini yang disampaikan ke OJK akhir 2021.

Pihaknya optimistis aset tumbuh seiring dengan perkembangan bisnis ke depan. “Kalau premi yang dibukukan naik, secara otomatis jadi aset perusahaan asuransi, tentu selama pembayarannya ada. Kita juga mesti hati-hati bahwa aset perusahaan asuransi itu meliputi tagihan klaim reasuransi. Tapi kalau melihat pertumbuhan yang ada, aset asuransi umum ini memang akan naik,” kata Widodo kepada Investor Daily, Minggu (23/1).

Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia/Ketua AAUI
 

AAUI mematok proyeksi pertumbuhan premi single digit pada 2021. Asosiasi meyakini asuransi umum akan mencatatkan pertumbuhan positif, terutama di lini asuransi properti dan kendaraan.

Menurut Widodo, pengungkit pertumbuhan bisnis asuransi umum belum akan banyak berubah dibandingkan tahun 2021.

Per September 2021, aset asuransi umum tumbuh 10,7% secara year on year (yoy) menjadi Rp 183,23 triliun. Sedangkan total aset reasuransi tumbuh 14,2% (yoy) menjadi Rp 30,48 triliun. Porsi aset asuransi umum dan reasuransi masing-masing sebesar 12% dan 2% terhadap total aset industri asuransi mencapai Rp 1.525 triliun.

Data AAUI menunjukkan, premi dari 71 perusahaan asuransi umum tumbuh 2,2% (yoy) menjadi Rp 55,07 triliun pada kuartal III-2021. Pertumbuhan premi asuransi umum itu konsisten terjadi sejak kuartal I-2021 tumbuh 1,5% (yoy) menjadi Rp 20,78 triliun dan berlanjut tumbuh 2,1% (yoy) menjadi Rp 38,37 triliun.

Asuransi Kredit

Karyawan sedang menggunakan ponsel di depan tulisan Asuransi Untuk Semua di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR
Karyawan sedang menggunakan ponsel di depan tulisan Asuransi Untuk Semua di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Di sisi lain, penurunan bisnis terjadi asuransi kredit sebagai salah satu lini yang berkontribusi besar terhadap premi industri asuransi umum. Padahal, realisasi penyaluran kredit perbankan telah menunjukkan pertumbuhan. Premi terkontraksi 12,2% (yoy) menjadi Rp 8,49 triliun, atau berkontribusi 15,4% dari total premi asuransi umum pada kuartal III-2021.

Fenomena itu tidak terlepas dari perbaikan-perbaikan yang belakangan sedang dilakukan perusahaan asuransi penerbit polis asuransi kredit. Widodo menerangkan, pada November 2020, AAUI mengumpulkan semua perusahaan asuransi umum yang memiliki portofolio asuransi kredit untuk memastikan kecukupan premi dan pencadangannya.

“Itu kita sampaikan pada CEO gathering yang pertama. Karena konsep premi-premi asuransi kredit yang ada memiliki jangka waktu yang panjang. Saat itu, ada Rp 5-6 triliun premi asuransi kredit yang memiliki jangka waktu 5-15 tahun,” kata dia.

Premi asuransi kredit sempat melejit pada 2019 hingga awal 2020 atau sebelum pandemi. Sejak saat itu, tarif premi yang diterapkan dinilai tidak lagi sesuai. Perhitungan premi banyak dilakukan dengan melihat besaran rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) bank yang terjaga pada kisaran 2%.

Widodo mengungkapkan, ketika pandemic Covid-19 mulai masuk dan terjadi penurunan kemampuan bayar maka NPL pun terkerek di atas 3%. Posisi itu pada akhirnya membuat perusahaan asuransi mesti mempersiapkan pencadangan yang lebih besar. Sehingga perhitungan atas NPL sekitar 2% sudah tidak sesuai dan mesti diperbarui.

Dia bilang, ada sebanyak 20 perusahaan asuransi umum yang menggenggam portofolio asuransi kredit. Upaya AAUI untuk mengimbau, mengingatkan, dan mengedukasi agar portofolio asuransi kredit bisa sesuai antara tariff premi, jangka waktu perlindungan, dan risiko yang diberikan telah dilakukan. Hasilnya, ada 10 perusahaan asuransi yang benar-benar menghentikan bisnis asuransi kredit.

Tapi di sisi lain, kata dia, ceruk bisnis yang ditinggalkan sejumlah perusahaan itu kemudian digarap 10 perusahaan asuransi umum lain dengan mencatatkan pertumbuhan premi asuransi pada asuransi kredit. “Harapannya semoga perpindahan ini disertai dengan tariff premi yang lebih baik dan perbaikanperbaikan,” kata Widodo.

Antisipasi memang harus cepat dilakukan sejak dini, melihat potensi kredit bermasalah dari jumlah restrukturisasi kredit bank atau pembiayaan multifinance. OJK mencatat sampai akhir 2021, restrukturisasi kredit bank mencapai Rp 693,3 triliun dan restrukturisasi pembiayaan multifinance mencapai Rp 218,95 triliun.

Dalam hal ini, Wimboh Santoso meyakini, tidak semua portofolio kredit/ pembiayaan itu akan menjadi kredit macet.

Buktinya, sejumlah kredit/pembiayaan UMKM yang sempat bermasalah telah berangsur pulih. Perbaikan lebih lambat terjadi pada kredit/pembiayaan di sektor pariwisata.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN