Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BTN. Foto: IST

Bank BTN. Foto: IST

Aset BTN Tumbuh Paling Tinggi di Jajaran Bank Besar

Selasa, 20 Agustus 2019 | 07:47 WIB
Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id) ,Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) hingga akhir semester I-2019 mencatatkan pertumbuhan aset tertinggi di jajaran 15 entitas bank terbesar lainnya di Indonesia. Meski demikian, perseroan tetap menjaga laju pertumbuhan bisnis sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) hingga akhir 2019.

Aset emiten bersandi saham BBTN ini tumbuh di level 16,58% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 268,04 triliun pada semester I-2018 menjadi Rp 312,47 triliun pada semester I-2019. Selain mencatatkan kenaikan aset paling tinggi di antara 15 bank besar di Indonesia, pertumbuhan aset BTN pun berada di atas rata-rata industri perbankan nasional. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merekam aset perbankan nasional hanya naik di level 7,77% (yoy) per Mei 2019.

Direktur BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, laju pada aset perseroan tersebut disumbang pergerakan positif pada penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Kredit dan DPK BTN, lanjut Nixon, naik positif mencapai hampir dua kali lipat industri perbankan nasional.

"Kenaikan kredit dan DPK yang melaju tersebut menyumbang pergerakan positif pada aset kami. Ke depan kami terus berupaya agar laju kenaikan aset tetap dibarengi dengan kualitas yang terjaga," jelas Nixon di sela jumpa pers public expose BTN di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (19/8).

Nixon menjelaskan perseroan tidak hanya mencatatkan kinerja positif pada aset secara tahunan. Perseroan berhasil menjaga kenaikan aset tetap positif dalam lima tahun terakhir.

Nixon merinci, dalam lima tahun terakhir, laju pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate/CAGR) aset BTN di posisi 20,66%. Kenaikan tersebut tercatat dari Rp 144,58 triliun pada Desember 2014 menjadi Rp 306,44 triliun pada bulan yang sama tahun 2018.

Komposisi aset BTN, ujar Nixon, juga didominasi aset produktif. Catatan keuangan BTN per Juni 2019 menunjukkan aset produktif perseroan mencapai 88,98% dari total aset. Adapun porsi kredit dan pembiayaan tercatat sebesar 89,27% dari total aset produktif BTN.

Di sisi kredit, BTN mencatatkan pertumbuhan pada posisi 18,78% (yoy) atau naik dari Rp 211,35 triliun pada Juni 2018 menjadi Rp 251,04 triliun. Kenaikan tersebut mencapai dua kali lipat pertumbuhan kredit industri perbankan nasional. OJK mencatat, kredit nasional tumbuh single digit di level 9,92% (yoy) per Juni 2019.

Kinerja penghimpunan DPK BTN juga mencapai dua kali lipat industri perbankan nasional. Per semester I-2019, BTN menghimpun simpanan masyarakat sebesar Rp 219,75 triliun atau naik 15,89% (yoy). OJK merekam kenaikan tersebut melesat jauh di atas kinerja penghimpunan DPK perbankan nasional yang hanya tumbuh di level 7,42% (yoy) per Juni 2019.

Hingga akhir tahun ini, Nixon mengungkapkan pihaknya tetap mencatatkan kinerja positif. "Bagi kami, bisnis yang berkelanjutan merupakan prioritas utama," tegas Nixon.

BTN pun tetap berkomitmen memberi dukungan penuh pada Program Satu Juta Rumah. Per 30 Juni 2019, BTN telah menyalurkan kredit perumahan untuk 424.863 unit rumah atau senilai Rp 36,42 triliun. Total realisasi jumlah unit rumah tersebut setara 53,1% dari target yang ditetapkan BTN untuk 2019 yakni sebanyak 800 ribu unit rumah.

Penyaluran tersebut terdiri atas kredit perumahan di segmen subsidi dan nonsubsidi. Di segmen subsidi, perseroan telah menyalurkan kredit perumahan untuk 328.192 unit rumah senilai Rp 19,7 triliun. Kemudian, di segmen nonsubsidi, kredit perumahan yang disalurkan mencapai 96.671 unit rumah atau setara Rp 16,72 triliun.

Sementara itu, BTN menargetkan perolehan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sebesar 4% tahun ini. Salah satu cara untuk mencapai target tersebut dengan menghindari penghimpunan deposito pada Desember tahun 2019. "Strateginya kami ubah, deposito mulai kami himpun dari sekarang, sehingga special rate-nya turun, sementara pada Desember kami hindari penghimpunan deposito," kata Nixon.

Target mengejar NIM 4% juga didasarkan atas acuan pada RBB BTN yang tanpa adanya penurunan bunga. "Jadi kalau nanti realisasinya ada satu atau dua kali penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia maka kami akan mendapatkan gain, di mana NIM lebih baik dari asumsi RBB," ujar dia.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN