Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi asuransi. Sumber: bumn.go.id

Ilustrasi asuransi. Sumber: bumn.go.id

Asuransi Kebutuhan Tak Terelakkan di Tatanan Baru

Kamis, 11 Juni 2020 | 14:05 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Dalam kondisi di tengah pandemi Covid-19, tidak dapat dimungkiri masyarakat mengalami kecemasan. Terlebih kondisi yang semakin tidak menentu di masa depan, terutama pada masalah kesehatan dan keuangan. Hal ini membuat masyarakat membutuhkan proteksi untuk kedua masalah utama tersebut, yaitu dengan asuransi.

Oleh karena itu, asuransi menjadi salah satu kebutuhan tak terelakkan masyarakat di tengah kehidupan tatanan baru.

Hal itu diungkapkan pengamat konsumen dan pakar marketing Yuswohady. Ia menjelaskaan studi terbaru dari Unversitas Harvard mengatakan penerapan social distancing perlu dilakukan setidaknya hingga 2022 mendatang.

Di periode ini, kondisi ekonomi diperkirakan belum akan stabil. Artinya, masyarakat akan terus diliputi kecemasan dan kekhawatiran, mulai dari khawatir terpapar virus, khawatir terjadi risiko pada kehidupannya, khawatir krisis ekonomi, khawatir kehilangan pekerjaan, dan khawatir stabilitas ekonomi terguncang.

“Kesadaran dan kebutuhan akan perlindungan asuransi pun menjadi sebuah kewajaran,” ungkapnya di sela virtual press launch Sun Connect, Kamis (11/6).

Hal itu, lanjut dia, sejalan dengan 100 prediksi New Normal Life After Covid-19 yang disusunnya. Salah satunya menyimpulkan bahwa asuransi menjadi kebutuhan yang tak terelakan di tengah masyarakat di tatanan baru ini.

Mengingat masyarakat kembali lagi pada kebutuhan dasar, yaitu kesehatan dan keselamatan. Karena di situasi seperti saat ini banyak risiko yang bisa terjadi mendadak atau tanpa prediksi sebelumnya yang berpotensi terjadi pada setiap keluarga. Misalnya saja terjangkit Covid-19 sehingga membutuhkan biaya yang besar dalam perawatannya ataupun kematian.

“Di sinilah peran asuransi yang sangat dibutuhkan dan masyarakat pun mulai menyadari ini dan menjadikannya sebagai kebutuhan yang tidak terelakkan di tengah tatanan baru. Untuk itu, saya memprediksi pandemi ini akan menjadi katalis bagi industri asuransi di Indonesia untuk meningkat,” papar Yuswohady.

Namun, Yuswohady menambahkan di sisi lain dibutuhkan inovasi dan kesiapan dari pihak industri untuk mampu memenuhi kebutuhan tersebut, sekaligus menghadirkan cara berasuransi baru, dengan mengutamakan keamanan dan kenyamanan nasabah dan para tenaga pemasar.

“Sebuah transformasi model bisnis berbasis digital, yang mampu mendukung produktivitas, sekaligus selaras dengan perubahan kebutuhan dan perilaku konsumen yang ada saat ini," jelas Yuswohady.

Hal itu pun diamini oleh Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia Shierly Ge. Ia menjelaskan selama pandemi berlangsung, produk asuransi yang menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia adalah produk tradisional seperti kesehatan dan jiwa. Hal ini mengingat kedua hal ini menjadi risiko yang sudah didepan mata dihadapi oleh masyarakat. Bahkan, jumlah penambahan polis maupun nasabah baru untuk produk tradisional tersebut mengalami peningkatan sebesar 3,7% dalam beberapa bulan belakangan ini.

“Pandemi yang masih terus berlangsung hingga saat sekarang, telah mengubah peradaban, dari kultur lama menuju era baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Tak ayal, kebutuhan akan proteksi termasuk asuransi di tengah masyarakat kian penting,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Shierly menambahkan di era pandemi ini masyarakat juga membutuhkan layanan proteksi berbasis teknologi, bukan hanya pada nasabah yang telah ada, tapi juga pada nasabah baru. Untuk itu, pihaknya menghadirkan Sun Connect memberikan pengalaman baru dalam berasuransi, mendekatkan yang jauh, di mana jarak tidak lagi menjadi hambatan dengan mengutamakan prinsip keamanan, kenyamanan dan kemudahan, khususnya bagi nasabah dan para tenaga pemasar.

“Inisiatif ini sejalan dengan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan mengenai tata cara baru penjualan unit link atau produk asuransi yang memungkinkan penjualan produk unit link secara virtual, atau melalui digital,” tutupnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN