Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)

Asuransi Kredit Penyumbang Klaim Terbesar di Asuransi Umum

Sabtu, 5 September 2020 | 05:16 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memaparkan bahwa lini bisnis asuransi kredit menjadi penyumbang klaim terbesar di semester I-2020. Kontribusi klaim asuransi kredit mencapai 24,0% dari total klaim asuransi umum.

Berdasarkan data yang dikumpulkan AAUI dari 75 perusahaan asuransi umum sepanjang semester I-2020, klaim asuransi kredit mencapai Rp 4,09 triliun atau naik 16,3% dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,52 triliun. Pada saat yang sama total klaim asuransi umum mencapai Rp 17,05 triliun, atau meningkat 3,7% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 16,43 triliun.

Ketua Bidang Statistik, Riset, Analisis TI, dan Aktuaria AAUI Trinita Situmeang menyampaikan, kenaikan klaim dari asuransi kredit karena default dan wanprestasi yang juga naik dari perbankan dan perusahaan pembiayaan.

Kini asuransi kredit menjadi kontributor terbesar untuk klaim di asuransi umum, menggeser kontributor terbesar sebelumnya yakni asuransi harta benda (properti) dan asuransi kendaraan bermotor.

"Asuransi kredit mengambil alih porsi klaim terbesar di asuransi umum yang kini sebesar 24% dari total klaim, pada semester I-2019 porsi klaim asuransi kredit masih sebesar 21,4%. Sedangkan porsi klaim asuransi harta benda dan asuransi kendaraan bermotor, masing-masing menyumbangkan porsi sebesar 21,4% dan 23,3%," kata Trinita, Kamis (3/9).

Dia merinci, klaim asuransi harta benda naik 11,2% (yoy) menjadi sebesar Rp 3,65 triliun karena adanya klaim selama tiga tahun terakhir. Sedangkan klaim asuransi kendaraan bermotor naik 4,6% (yoy) menjadi sebesar Rp 3,97 triliun dikarenakan adanya klaim banjir di awal tahun.

Sementara itu, meningkatnya klaim asuransi kredit tidak diiringi peningkatan premi, sehingga rasio klaim pun tercatat melonjak tajam. Pada semester I-2020 premi asuransi kredit sebesar Rp 5,78 triliun atau turun 6,1% (yoy). Dengan pencapaian tersebut, rasio klaim asuransi kredit naik menjadi 70,8%, atau terkerek dari periode sama tahun sebelumnya di level 57,2%. Sedangkan rasio klaim industri asuransi umum pun ikut melonjak dari 41,0% di semester I-2019 menjadi 45,3% di semester I-2020.

"Rasio klaim ini tidak termasuk klaim yang belum dibayar dan cadangan klaim. Kenaikan klaim rasio secara keseluruhan dipengaruhi kenaikan klaim dari lini harta benda, kendaraan bermotor, pengangkutan, rangka kapal, rekayasa (engineering), tanggung gugat (liability), asuransi kredit, serta asuransi kecelakaan diri dan kesehatan," ucap Trinita.

Dia memaparkan, klaim pengangkutan tumbuh 5,3% (yoy) menjadi sebesar Rp 469 miliar dan klaim rangka kapal naik sebesar 32,5% (yoy) menjadi Rp 711 miliar. Sedangkan klaim asuransi rekayasa naik 25,3% (yoy) menjadi sebesar Rp 728 miliar, klaim asuransi tanggung gugat naik 44,9% (yoy) menjadi Rp 152 miliar.

Kemudian, klaim asuransi kecelakaan diri dan kesehatan naik 11,4% (yoy) menjadi Rp 2,30 triliun. Selain itu, klaim aviation pun tercatat naik 131,9% (yoy) menjadi sebesar Rp 714 miliar.

Di sisi lain, sejumlah lini bisnis juga mencatatkan penurunan klaim. Diantaranya asuransi satelit yang selama kuartal II-2020 tidak ditemui pembayaran klaim. Lalu klaim asuransi energy offshore dan energy onshore yang masing-masing turun 65,7% (yoy) menjadi sebesar Rp 27 miliar dan turun sebesar 62,1% (yoy) menjadi sebesar Rp 306 miliar. Penurunan klaim turut terjadi pada lini asuransi penjaminan (surety ship) sebesar 56,8% (yoy) menjadi sebesar Rp 117 miliar.

Peluang Asuransi Umum
Di samping itu, asuransi umum sampai semester I-2020 kinerja premi terkoreksi sebesar 6,1% (yoy) menjadi sebesar Rp 37, 60 triliun. Penurunan tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi indonesia pada dua kuartal terakhir. Dengan kondisi itu sejumlah lini bisnis asuransi umum, khususnya kinerja lini bisnis utama seperti asuransi harta benda, asuransi kendaraan bermotor, dan asuransi kredit mencatatkan pertumbuhan negatif.

Trinita mengatakan, pihaknya memproyeksi sampai akhir tahun premi akan terkoreksi cukup dalam. Proyeksi terakhir AAUI bahkan premi dapat turun mencapai 20-25% (yoy). Namun demikian industri terus mencari peluang dengan menggarap potensi bisnis yang ada seperti pada lini asuransi kesehatan.

"Kita yakin belum bisa mendongkrak pertumbuhan sampai akhir tahun, tapi ada potensi pertumbuhan secara horizontal, ini bisa dijajaki di sektor-sektor diantaranya asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan tadinya (pangsa pasar) nomor lima mungkin bisa naik menjadi nomor tiga," ucap dia.

Menurut dia, asuransi kesehatan bisa mendorong kinerja premi lebih baik di sisa waktu sampai akhir tahun ini. Hal itu tercermin dari kinerja sepanjang semester I-2020, premi asuransi kecelakaan diri dan kesehatan tercatat mencapai Rp 4,15 triliun atau tumbuh positif sebesar 15,6% (yoy). Utamanya disokong premi dari asuransi kesehatan, menjadi lini yang secara agregat membuahkan premi positif terbesar di paruh pertama tahun ini.

Selain itu, sambung dia, asuransi harta benda yang terkait proteksi bencana juga berpotensi masih bisa digenjot lebih cepat. "Asuransi kebakaran ini kita mau prioritaskan, baik itu aset pemerintah atau lainnya. Karena kita di ring of fire, ini perlu menjadi perhatian dari sektor swasta dan pemerintah," imbuh Trinita.

Trinita menambahkan, sektor potensial lainnya adalah asuransi di bidang teknologi informasi (TI). Karena cepat atau lambat, industri asuransi mesti masuk pada sektor yang sedang berkembang dengan pesat itu. Selanjutnya yakni asuransi pengiriman barang yang potensi bisnisnya tetap ada, apalagi masifnya kegiatan belanja di kanal e-commerce saat ini.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN