Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BRI. Foto ilustrasi: DAVID

Bank BRI. Foto ilustrasi: DAVID

Awal 2020, BRI Buka Cabang di Taiwan

Nida Sahara, Selasa, 25 Juni 2019 | 08:19 WIB

JAKARTA.investor.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memproyeksikan pembukaan kantor cabang BRI di Taiwan akan rampung pada awal tahun depan. Sementara itu, proses pembukaan cabang di Taiwan masih terkendala regulasi di Taiwan.

"Kami masih terbentur birokrasi di Taiwan, tapi tinggal sedikit lagi, perkiraannya awal tahun depan sudah (rampung pembukaan cabang)," terang Direktur Utama BRI Suprajarto kepada Investor Daily, ditemui di Gedung BRI, Jakarta, Senin (24/6).

Namun, Suprajarto enggan menyebut secara pasti dana yang disiapkan untuk pembukaan kantor cabang di Taiwan tersebut. "Tidak besar, kecil lah dananya," ujar dia.

Menurut dia, BRI masih akan ekspansi bukan hanya dalam negeri tapi juga ke luar negeri. Untuk itu, pihaknya melihat potensi di Taiwan sangat besar untuk dirambah. Terlebih, dia menilai belum ada bank asal Indonesia beroperasi di Taiwan. Untuk itu, jika terlaksana, BRI merupakan bank asal Indonesia pertama yang berada di Taiwan.

"OJK sudah mendukung, Kementerian Luar Negeri juga dukung, tahun ini bisa buka di Taiwan. Potensi Taiwan itu besar sekali, pertumbuhan tiap tahun itu besar karena ada 300 ribu pekerja Indonesia di Taiwan," jelas Suprajarto.

Menurut dia, hal tersebut menjadi sangat ideal dan potensi bisnis besar untuk bisa mengembangkan bisnis di Taiwan. Selain itu, BRI akan menjajaki negara lain yang secara birokrasi dan aturan tidak terlalu rumit dan tidak memberatkan.

Suprajarto mengungkapkan, pihaknya siap untuk berkompetisi secara global supaya tidak kalah dengan perusahaan asing. Secara bertahap, akan membentuk sumber daya manusia (SDM) untuk lebih siap ke depan. "Kenapa kami mau kompetisi dengan global? karena kalau tidak, saya khawatir bank asing yang akan menguasai Indonesia," ujar dia.

Lebih lanjut Suprajarto menuturkan, regulasi pembukaan kantor cabang di Malaysia cenderung sulit, sehingga belum ada bank asal Indonesia yang masuk ke Malaysia. Di samping itu, untuk mendapatkan basis nasabah (customer base) juga dinilai sulit.

"Regulasi Malaysia dan Singapura itu sulit, untuk modal harus ditempatkan Rp 1 triliun minimal, dengan operasional dibatasi, customer base juga sulit. Jadi di negara yang tidak familiar sulit melihat potensinya. Untuk sewa juga kadang dapat perlakuan tidak adil di Malaysia," ungkap Suprajarto.

Dia mengatakan, untuk bisa berhubungan dengan otoritas di Malaysia atau Singapura tidak bisa langsung, sehingga harus melalui agensi. Hal tersebut yang membuat perseroan kesulitan untuk mengetahui dokumen apa lagi yang dibutuhkan, karena tidak langsung bertemu dengan otoritas.

"Model di sana harus berhubungan dengan agensi dan sulit, kami tidak tahu apa yang masih kurang. Sekarang kami jajaki dengan Taiwan tapi kemarin ada kendala hubungan diplomatik, tapi Alhamdulillah sudah membaik," imbuh Suprajarto.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BRI memiliki tiga kantor cabang di luar negeri, yakni di Singapura (BRI Singapore Bank), di New York (BRI New York Agency), dan di Cayman Island (BRI Cayman Island Branch). Kemudian, BRI juga memiliki tiga kantor cabang pembantu (KCP) di Timor Leste, antara lain KCP BRI Audian, KCP BRI Fatuhada, dan KCP BRI Hudilaran.

Dengan rencana pembukaan kantor cabang di Taiwan, diharapkan dapat membantu perseroan meningkatkan kinerja bisnisnya ke depan. Pihaknya tahun ini masih optimistis pertumbuhan kredit akan sesuai target. Sampai dengan kuartal kedua tahun ini, Suprajarto memproyeksikan pertumbuhan kredit bisa tumbuh dua digit. "Kami masih optimistis, mudah-mudahan MK (Mahkamah Konstitusi) segera memutuskan, kredit investasi masih tumbuh. Untuk kuartal II masih dua digit, sekitar 12-14%," kata Suprajarto.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN