Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Mandiri. Foto: DAVID

Bank Mandiri. Foto: DAVID

HINGGA SEPTEMBER NAIK 12%

Bank Mandiri Cetak Laba Rp 20 Triliun

Nida Sahara, Selasa, 29 Oktober 2019 | 15:19 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sampai dengan kuartal III-2019 membukukan laba bersih konsolidasian mencapai Rp 20,3 triliun, meningkat 11,9% secara tahunan (year on year/yoy). Hingga akhir tahun ini perseroan akan menjaga pertumbuhan laba dua digit.

Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan, laba bersih tersebut berasal dari pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar Rp 45,32 triliun, tumbuh 6,45% (yoy). Sementara itu, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada kuartal III-2019 berada di posisi 5,58%, turun 8 basis poin (bps) dari 5,66%.

"Kuartal III kami berhasil tumbuh dengan baik, laba bersih mencapai Rp 20,3 triliun, tumbuh 11,9% dari posisi tahun lalu. Pertumbuhan itu karena adanya perbaikan kualitas kredit dan perbaikan CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai)," ungkap Hery di Jakarta, Senin (28/10).

Dia mengungkapkan, adanya penurunan NIM sebesar 8 bps menjadi 5,58% karena dampak dari pergeseran portofolio kredit dari segmen kredit berportofolio risiko tinggi ke risiko rendah yang membuat NIM tergerus. Akhir tahun ini perseroan menjaga posisi NIM di level 5,6-5,8%.

Perseroan juga mencatat posisi return on asset (RoA) naik 7 bps dari 2,80% menjadi 2,87%, dan return on equity (RoE) turun 11 bps menjadi 14,01%.

Salah satu kantor cabang Bank Mandiri. Foto: IST
Salah satu kantor cabang Bank Mandiri. Foto: IST

Kredit Tumbuh 7,8%

Sementara itu, penyaluran kredit perseroan sampai akhir September 2019 mencapai Rp 841,9 triliun, tumbuh 7,8% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu Rp 781,1 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut didorong dari kredit korporasi yang tercatat tumbuh 7,37% (yoy) menjadi Rp 327,7 triliun.

Untuk kredit konsumer tumbuh 4,12% (yoy) menjadi Rp 88,5 triliun. Kredit mikro tercatat meningkat tinggi 19,38% dari Rp 97,5 triliun menjadi Rp 116,4 triliun per September 2019. Sedangkan kredit komersial turun 2,75% (yoy) menjadi Rp 138 triliun.

"Kredit Mandiri ditopang dari lima segmen, korporasi, mikro, konsumer, SME, dan anak usaha. September ini sedikit menurun dari tahun lalu, karena dampak dari konsumer yang tumbuhnya kecil. Kemudian korporasi juga yang biasanya tumbuh dua digit, ini single digit, kita lebih sifhting dari kredit risiko tinggi ke risiko rendah, misalnya komersial dan SME kita fokus di kualitasnya," terang Hery.

Sebagai agent of development, Bank Mandiri juga turut berkontribusi dalam pembangunan nasional. Kredit infrastruktur Bank Mandiri yang disalurkan meningkat 16,9% (yoy) menjadi Rp 198,5 triliun per kuartal III-2019. Dari nilai tersebut, kredit yang disalurkan untuk jalan sebesar Rp 20,4 triliun, tumbuh 66,4% (yoy).

Untuk transportasi sebesar Rp 39,6 triliun, tumbuh 4,9% (yoy). Kredit ke sektor migas dan energi terbarukan sebesar Rp 24,8 triliun, meningkat 16,1% (yoy). Kredit ke sektor kelistrikan mencapai Rp 42,2 triliun, naik 19,7% (yoy).

Kredit ke sektor konstruksi sebesar Rp 19,4 triliun, tumbuh 7,3% (yoy), dan ke sektor telematika tercatat senilai Rp 18,8 triliun atau meningkat 11,5% (yoy).

Untuk kredit usaha rakyat (KUR) per September 2019 baki debet tumbuh 34,8% (yoy) mencapai Rp 28,6 triliun. Kredit tersebut disalurkan kepada 222.825 debitur di seluruh Indonesia.

Untuk mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan, Bank Mandiri juga menjaga komposisi kredit produktif seperti kredit investasi dan modal kerja, dalam porsi yang signifikan, yakni 81,49% dari total portofolio. Pada triwulan ini, penyaluran kredit investasi mencapai Rp 251,07 triliun dan kredit modal kerja sebesar Rp 342,3 triliun.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan, sampai dengan akhir tahun ini perseroan menargetkan kredit hanya tumbuh 8-9% (yoy). Lebih rendah dari target awal yang sebesar 10-12% (yoy).

"Ada dinamika dari nasabah kami lebih ke issue bond dan lunasi kredit kami. Kami juga sesuaikan dengan risiko di pasar juga. Kami merancang kredit single digit di 8,9% tahun ini," jelas Panji.

Panji menambahkan, biaya kredit (cost of credit) juga mengalami perbaikan. Pada kuartal III-2019, cost of credit di posisi 1,48%, turun 26 bps dari 1,74% pada tahun lalu. "Cost of credit kita juga turunkan targetnya dari 1,6-1,8% menjadi 1,5-1,7% ini inline dengan kualitas kredit dan kemungkinan besar cost of credit kita turun," papar Panji.

Lebih lanjut, Panji menyebut dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perseroan sampai dengan September 2019 mencapai Rp 891,2 triliun, tumbuh 7,2% (yoy). Dana murah (CASA) perseroan tercatat Rp 567,5 triliun, yang bertumpu pada penghimpunan tabungan sebesar Rp 302,9 triliun atau tumbuh 2,3% (yoy), dan giro yang mencapai sebesar Rp 214,1 triliun atau tumbuh 9,2% (yoy).

"DPK kami tumbuh sustainable, persaingan dana masih cukup ketat. Kita tidak ikut persaingan dana, kondisi likuiditas membaik, cost of fund rendah, dengan Bank Indonesia (BI) turunkan 100 bps tahun ini juga inline, kita tidak ada ketakutan likuiditas," tutur Panji.

Saat ini, permodalan dan likuiditas kami berada pada situasi yang sangat baik dengan rasio CAR bank only di 22,50% dan rasio RIM di 91,72%.

Kinerja keuangan Bank Mandiri
Kinerja keuangan Bank Mandiri

NPL Membaik

Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin menjelaskan, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross per September 2019 di level 2,53%, turun dari posisi tahun lalu 3,01%. Tahun ini perseroan menjaga NPL di kisaran 2,4%, lebih rendah dari target NPL awal yang berada di posisi 2,5%.

"Kita konsolidasi komersial bisnis, NPL masih dari segmen komersial, ada restrukturisasi, kita ingin keluarkan NPL ke kol 1. Karena tiga tahun ini kita tidak booking buku baru, sejak perbaikan itu disbursed lebih kecil dari pada run off, kita hati-hati selama tiga tahun terakhir ini kualitas bagus maka akhir tahun ini kita lebih berani lagi, tahun ini NPL 2,4%," terang Siddik.

Untuk tahun depan, karena kredit diperkirakan bisa tumbuh lebih tinggi, NPL diperkirakan berada di kisaran 2,5-2,6%. "Tahun depan kalau ekonomi membaik, penyebutnya akan bertambah. NPL tigak bertambah banyak, jadi NPL nanti kisaran 2,5-2,6%," lanjut dia..

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA