Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan dalam acara media gathering virtual yang digelar Bank Mandiri, Rabu, 19 Mei 2021.

Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan dalam acara media gathering virtual yang digelar Bank Mandiri, Rabu, 19 Mei 2021.

Bank Mandiri Optimistis Kinerja Perbankan 2022 Membaik

Selasa, 25 Januari 2022 | 13:33 WIB
Investo Daily

JAKARTA, investor.id - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk optimistis kinerja industri perbankan domestik akan membaik seiring semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada 2022 dibandingkan dua tahun sebelumnya yang melemah akibat pandemi COVID-19.

"Untuk 2022 saya yakin masih melanjutkan 2021 di mana 2021 lebih baik dari 2020 dan kita meyakini 2022 economic growth juga lebih tinggi dibandingkan 2021. Ini berarti outlook di perbankan juga sangat optimistis. Untuk pertumbuhan dari sisi kredit, DPK, juga dari sisi transaksi. Itu kita sangat meyakini 2022 pasti lebih optimistis," kata Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (25/1).

Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 akan jauh membaik mencapai 5,17%. Angka tersebut lebih baik jika dibandingkan prediksi pertumbuhan pada 2021 sebesar 3,69%.

Sementara itu, OJK memproyeksikan pada 2022 akan lebih baik dengan kredit perbankan akan meningkat pada kisaran 7,5% plus minus 1% dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh di rentang 10% plus minus 1%.

Kendati demikian, lanjut Panji, dari eksternal memang ada tantangan yaitu otoritas moneter di seluruh dunia yang kemungkinan akan melakukan penyesuaian terhadap kebijakan moneternya.

"Kalau di 2020 dan 2021 quantitative easing, lalu 2022 terjadi adjustment. Apakah Indonesia juga akan melakukan? Clue-nya apabila masih ada postive real interest rate, maka menurut saya itu salah satu yang buat divergent dalam kebijakan bank sentral," ujar Panji.

Ia menyampaikan, ada bank sentral yang mungkin negaranya sudah memiliki suku bunga negatif lalu kemudian melakukan peningkatan suku bunga. Namun, di sisi lain ada negara yang masih melakukan penurunan suku bunga.

"Ini kita lihat pasti ada reason di belakangnya, ada kondisi-kondisi yang digunakan sebagai konsideran dalam pengambilan keputusan," kata Panji.

Di sisi lain, level inflasi Indonesia sepanjang 2021 lalu mencapai 1,87% (yoy), termasuk level inflasi yang rendah dalam histori Indonesia. Bank Indonesia selaku otoritas moneter juga sudah melakukan penyesuaian dari sisi giro wajib minimum (GWM).

"Dari sisi GWM digunakan secara bertahap oleh BI pada bulan Maret dari 3,5% menjadi 5%, lalu Juni dan September. Ini semua sudah diantisipasi oleh perbankan karena sebetulnya ini mengembalikan dari quantitative easing yang sebagian mungkin dikamarkan dalam bentuk instrumen likuid di dalam papers-papers maupun penempatan di BI. Ini kembali ke bank sentral," ujar Panji.

Panji memprediksi, penyesuaian kebijakan moneter oleh bank sentral global tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kebijakan moneter di dalam negeri.

"Tapi secara bertahap iya dan kita lihat ada harapan besar lainnya di mana rezim suku bunga sekarang ini akan sangat bagus untuk momentum pertumbuhan. Saya yakin dari sisi otoritas moneter juga sudah melihatnya, oleh karena itu penyesuaian dilakukan dari sisi GWM. Jadi, kalau melihat itu inline dengan market," kata Panji.


 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN