Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Grup Inovasi dan Keuangan Digital OJK Triyono

Kepala Grup Inovasi dan Keuangan Digital OJK Triyono

Batch I, 34 Fintech Masuk Regulatory Sandbox

c04, Jumat, 19 Juli 2019 | 22:38 WIB

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis 34 perusahaan teknologi finansial (financial technology/fintech) yang masuk dalam ruang uji coba terbatas (regulatory sandbox). Uji coba tersebut mulai dilakukan pada 1 Juli 2019 dan tercatat sebagai batch I.

Regulatory sandbox merupakan salah satu tahapan bagi perusahaan fintech untuk mendapatkan status terdaftar dari OJK. Sebelumnya, perusahaan fintech harus melakukan tahapan pencatatan dengan melaporkan beberapa kelengkapan dokumen.

Kepala Grup Inovasi dan Keuangan Digital OJK Triyono mencatat, hingga saat ini terdapat 93 permohonan tercatat melakukan uji coba regulatory sandbox, di antaranya 65 pemohon pada batch I dan 28 pemohon pada batch II.

Kemudian, pemohon yang lolos seleksi pencatatan pada batch I berjumlah 34 dan 12 pada batch II. Seluruh pemohon tercatat tidak semua masuk dalam uji coba regulatory sandbox, melainkan dipilih menurut jenis dan proses bisnisnya sebagai sampel.

"Tidak semua pemohon itu menjadi sampel, karena memang terlalu banyak dan juga proses bisnisnya mirip. Disini kita melakukan assesment secara umum," terang dia di Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Adapun sampel pada batch I terdiri atas 23 pemohon dan batch II seluruhnya masuk dalam tahapan regulatory sandbox. Triyono mengatakan, OJK memiliki misi untuk mengembangkan industri fintech karena keberadaannya menciptakan lingkungan keuangan yang positif. Adapun hal tersebut perlu ditanggapi dengan memperketat pengawasan, perlindungan konsumen, juga perkembangan industri dengan membuat skema baru untuk perizinan perusahaan fintech.

"Kami buat skema baru terkait dengan perizinan. Ada tiga lapis perizinan mulai dari tercatat, terdaftar dan berizin. Itu inovasi dari sektor otoritas," kata dia.

Triyono menjelaskan, perusahaan fintech yang telah lolos tahapan pencatatan akan ditindaklanjuti dengan proses regulatory sandbox. Dengan kurun waktu maksimal uji coba selama satu tahun. Setelah itu, ada tiga rekomendasi keputusan yang kemungkinan akan didapat perusahaan termohon.

"Rekomendasinya apabila dia baik dan lulus, kami akan rekomendasikan untuk mendapat status terdaftar. Namun kalau masih ada perbaikan, kami akan beri waktu tambahan enam bulan. Apabila membahayakan ya akan kami setop," papar dia.

Dalam proses regulatory sandbox terdapat beberapa hal yang di uji kepada perusahaan fintech. Hal ini antara lain model bisnis, proses bisnis, tata kelola teknologi informasi dan komunikasi, manajemen risiko, dan mengenai Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT).

"Karena sebelumya kami ada tahap review dan scenario discusion. Akhirnya kami sepakat per 1 Juli akan dimulai regulatory sandbox. Bisa dibayangkan, batch kedua dan ketiga akan mengikuti," jelas Triyono.

Seiring dengan berjalannya waktu uji coba, OJK membuat proses tambahan yaitu uji coba mengenai pendanaan. Hal tersebut masih dalam tahapan regulatory sandbox. "Kami harus melakukan proses tambahan, untuk memastikan dia benar-benar terpercaya. Terkait dengan itu memang beberapa data-data sensitif harus kami bahas di internal kami," imbuh dia.

Sementara itu, dalam perkembangannya produk fintech tidak sebatas fintech peer to peer (p2p) lending. Dengan demikian, OJK membuat klaster sendiri untuk membedakan model bisnis dan risiko dari berbagai inovasi perusahaan fintech. "Setelah masuk ke regulatory sandbox ternyata genre mereka itu berubah. Di sana kami benar-benar diskusi, menelaah, membuka semuanya," ucap Triyono.

Model bisnis yang dimaksud meliputi agregator, financial planer, blockchain-based, credit scoring, financial agent, claim service handling, online distress solution, online gold depository, project financing, social network and robo advisor, funding agent, dan digital DIRE (Dana Investasi Real Estate). Lebih lanjut, OJK belum mendeskripsikan lebih detail masing-masing dari model bisnis tersebut.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN