Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Berdampak Terhadap Industri, AAJI Tunggu Kejelasan Soal Pajak Asuransi Dwiguna

Sabtu, 23 Januari 2021 | 19:48 WIB
Windarto

Jakarta, Investor.id – Industri asuransi jiwa tengah gerah dengan ketentuan perpajakan yang dikenakan terhadap produk endowment dan benefit hidup. Alasannya, dengan aturan yang tertuan di UU No 11/2020 alias UU Ciptaker, nantinya pemegang polis saat menerima manfaat akan dikenai pajak. Dikatakan Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu, pada UU sebelumnya, produk endowment (dwi guna) termasuk yang dikecualikan sebagai objek pajak. “Coba Anda bayangkan, misalnya beli unit link terus mau partial withdrawl untuk kepentingan berobat atau untuk kepentingan renovasi atau lainnya, lalu kena pajak. Kami sudah protes kemana-mana. Kami tinggal menunggu aturan turunannya seperti apa,” ujarnya saat berbincang dengan Investor belum lama ini.

Dikatakan Togar, dari diskusi terakhir seseorang menerima manfaat dari asuransi jiwa endowment, maka selisih antara nilai yang diterima dengan premi yang dibayarkan akan dikenai pajak.

Padahal saat klaim, perusahaan asuransi menjual instrumen investasi untuk membayarkan klaim, dan itu kena pajak final. “Jadi nanti yang akan terimbas adalah pemegang polis atau nasabah. Padahal untuk menjuala asuransi saja saat ini susah, harus ditambah dengan pajak seperti ini akan semakin susah,” ungkap Togar.

AAJI, lanjut Togar sudah mengirim surat ke Kemenko Perekonomian, Menteri Keuangan , BKF, Ditjen Pajak, dan OJK. AAJI pun sudah dua kali menghadiri pertemuan dengan Kemenko Perekonomian. Dalam pertemuan pertama disepakati sebaiknya endowment tidak dikenakan pajak sesuai dengan penjelasan pasal 111 ayat 2. Tapi di pasal 111 UU Ciptaker dinyatakan jika endowment tidak termasuk yang dikecualikan. Namun pada pertemuan kedua Januari 2021 yang juga dihadiri Dirjen Pajak, terdapat perbedaan lagi dan mengubah apa yang sudah disepakati.

Bila menelusuri Bagian Perpajakan UU Ciptaker pasal 111 ayat 2 poin 3e, disebutkan yang dikecualikan dari objek pajak adalah, pembayaran dari perusahaan asuransi karena kecelakaan, sakit, atau karena meninggalnya orang yang tertanggung, dan pembayaran asuransi bea siswa.

Pada penjelasan pasal tersebut, dikatakan, penggantian atau santunan yang diterima oleh orang pribadi dari perusahaan asuransi sehubungan dengan polis asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwi guna, dan asuransi bea siswa bukan merupakan objek pajak. Hal ini selaras dengan ketentuan dalam Pasal 9 ayat (1) huruf d, yaitu bahwa premi asuransi yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi untuk kepentingan dirinya tidak boleh dikurangkan dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak.

Pada UU sebelumnya, UU No 36 Tahun 2008 tentang Perubahan keempat atas UU No 7/1983 tentang Pajak Penghasilan disebutkan bahwa endowment atau asuransi dwi guna  tidak termasuk objek pajak.

Togar melihat ada ketidakselarasan dalam ketentuan pasal dan penjelasan pasal pada UU Ciptaker terkait dengan ketentuan objek terkait endowment ini. “Ini bahaya, karena bisa menimbulkan multitafsir, dan bisa menimbulkan perselisihan di kemudian hari,” tambahnya. Saat ini AAJI masih menunggu jawaban dari surat yang sudah disampaikan ke Ditjen Pajak dan berharap ada kejelasan. Menurut Togar, masalah ini bisa berdampak terhadap pertumbuhan industri asuransi jiwa secara umum.

Perlu diketahui, endowment atau dwi guna merupakan produk asuransi tradisional yang memiliki unsur tabungan (saving). Selain perlindungan terhadap risiko kematian, pemegang polis juga akan mendapatkan manfaat dari dana yang sudah terakumulasi hingga jatuh tempo atau klaim kematian.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN