Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perry Warjiyo. Foto: IST

Perry Warjiyo. Foto: IST

BI Imbau Perbankan Segera Turunkan Suku Bunga Kredit

Jumat, 29 November 2019 | 15:10 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengimbau industri perbankan untuk segera menurunkan suku bunga kredit. Sebab, transmisi penurunan suku bunga kredit cenderung masih lebih landai dibandingkan dengan suku bunga deposito. Dengan penurunan suku bunga kredit, korporasi juga diminta untuk meningkatkan produksi dan investasinya.

Perry mengungkapkan hal pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019 yang digelar di Hotel Raffles, Kuningan CBD, Kamis (28/11/2019) malam.

Hadir pada acara tersebut para menteri, para mantan gubernur, gubernur kepala daerah, bankir, pengusaha, dan pemimpin media massa.

 

Menurut Perry, pertumbuhan kredit tahun depan akan meningkat dibandingkan dengan terbatasnya peningkatan kredit tahun ini. Tahun 2020 kredit ditargetkan tumbuh antara 10-12% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dari tahun ini yang hanya 8% (yoy), dengan dorongan dari penurunan suku bunga kredit.

“Kredit tahun ini terbatas, tapi akan meningkat tahun 2020 dengan suku bunga kredit yang turun dan prospek ekonomi akan semakin baik. Kami ajak bank turunkan bunga kredit,” kata Perry.

Menurut dia, dengan perbankan menurunkan suku bunga kredit, pihaknya juga mendorong korporasi untuk meningkatkan produksi dan investasinya. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan lebih baik lagi tahun depan.

Perry menjelaskan, BI pada tahun 2018 telah melakukan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas moneter guna mencegah risiko gejolak ekonomi.

Tahun ini, bank sentral telah menurunkan suku bunga acuannya empat kali sebanyak 100 basis poin (bps) ke posisi 5% dan menurunkan giro wajib minimum (GWM) dua kali sebanyak 100 bps menjadi 5,5%.

Penurunan tersebut dilakukan bank sentral untuk menambah pasokan likuiditas perbankan. Penurunan GWM 100 bps sepanjang tahun ini akan menambah likuiditas ke industri perbankan sebanyak Rp 51 triliun.

Selain itu, BI juga melonggarkan kebijakan makroprudensial melalui loan to value (LTV) untuk mendorong permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). Kemudian, rasio intermediasi makroprudensial (RIM) juga diperlonggar untuk fleksibilitas menambah likuiditas dan memperluas pendanaan perbankan.

Tahun 2020 pihaknya juga akan memperluas kebijakan makro untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan sektor prioritas lainnya, termasuk di dalamnya ekspor. “Kami ajak bank dan dunia usaha mulai ekspansi. Bank meningkatkan kredit, korporasi mendorong produksi dan investasi,” ucap dia.

Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Dewan Gubernur Bank Indonesia dan para penerima Bank Indonesia Award 2019, saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2019 yang bertemakan Sinergi Transformasi Inovasi
Menuju Indonesia Maju, di Hotel Raffles, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Kegiatan ini dihadiri Presiden Joko Widodo dan para pelaku industri keuangan. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROSA
Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Dewan Gubernur Bank Indonesia dan para penerima Bank Indonesia Award 2019, saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2019 yang bertemakan Sinergi Transformasi Inovasi Menuju Indonesia Maju, di Hotel Raffles, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Kegiatan ini dihadiri Presiden Joko Widodo dan para pelaku industri keuangan. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROSA


Perry menambahkan, dalam jangka menengah, prospek ekonomi Indonesia akan semakin baik. Transformasi ekonomi akan mendorong pertumbuhan lebih tinggi lagi, dengan defisit transaksi berjalan menurun dan inflasi rendah, untuk mendukung Indonesia maju berpendapatan tinggi pada 2045.

“Transformasi ekonomi kita tingkatkan agar pertumbuhan lebih tinggi. Sumber pertumbuhan kita kembangkan seperti manufaktur, pariwisata maritime pertanian, dan UMKM, serta iklim investasi pembangunan infrastruktur dan SDM dipercepat,” ujarnya.

Perry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi dunia menurun drastic pada 2019, dikarenakan kondisi perlambatan ekonomi global. Meski demikian, ia mengapresiasi prospek ekonomi Indonesia yang masih baik, dengan stabilitas inflasi rendah, serta nilai tukar stabil di tengah situasi sejumlah negara mengalami resesi atau bahkan memasuki krisis.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN