Menu
Sign in
@ Contact
Search
Nasabah  mendapatkan pelayanan di salah satu perusahaan pembiayaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah mendapatkan pelayanan di salah satu perusahaan pembiayaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bersiap Sambut Penaikan Bunga Acuan

BOPO Multifinance Terendah Sejak Pandemi

Senin, 11 Juli 2022 | 21:30 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Industri multifinance mencatat rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) terendah sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada Maret 2020. Tren positif tersebut mengerek laba bersih multifinance sebesar 35,97% secara year on year (yoy).

Mengacu statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio BOPO multifinance pada Mei 2022 di level 78,64%. Relatif terus menurun dibandingkan posisi Maret 2020 sebesar 80,55% atau titik tertinggi pada Agustus 2020 di posisi 91,95%.

Pencapain ini tidak terlepas dari optimalisasi kinerja pembiayaan yang terindikasi terus membaik. Piutang pembiayaan naik 4,2% (yoy) menjadi Rp 362,71 triliun per Mei 2022. Dengan begitu, pendapatan bunga atau bagi hasil tumbuh 6,86% (yoy) menjadi Rp 34,38 triliun, turut mendorong pendapatan operasional meningkat 7,67% (yoy) menjadi Rp 40,77 triliun.

Di samping itu, beban operasional hanya naik 1,03% (yoy) menjadi Rp 32,06 triliun. Utamanya dipengaruhi beban bunga yang turun cukup dalam yakni 8,75% (yoy) menjadi Rp 6,87 triliun. Sedangkan pos-pos biaya seperti tenaga kerja, pemasaran, dan biaya penyisihan/penyusutan tetap meningkat.

Alhasil, multifinance berhasil membukukan laba bersih mencapai Rp 7,04 triliun pada Mei 2022, meningkat sebesar 35,97% (yoy). Return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) ikut terkerek melampaui pencapaian sepanjang akhir tahun lalu. Per Mei, ROA di level 5,03% dan ROE di posisi 12,63%.

Namun demikian, ke depan multifinance akan dihadapkan tantangan peningkatan biaya dana (cost of fund/CoF) seiring indikasi Bank Indonesia (BI) bakal meningkatkan suku bunga acuannya. Untuk setidaknya mempertahankan pencapaian sampai saat ini, sejumlah multifinance tengah bersiap menyambut tantangan tersebut.

Direktur Utama PT Mandiri Utama Finance (MUF) Stanley Setia Atmadja mengatakan, MUF telah berhasil membukukan laba bersih senilai Rp 90,9 miliar pada Juni 2022. Nilai tersebut naik hampir tiga kali lipat dibandingkan perolehan sebesar Rp 33,27 miliar pada Juni 2021.

Menurut dia, kinerja itu tidak terlepas dari upaya perseroan menekan rasio BOPO. Rasio BOPO perusahaan turun dari 96,7% pada tahun lalu, menjadi 92,3% di tahun paruh pertama tahun ini. Perusahaan tetap berupaya menjaga indikator keuangan tersebut, termasuk jika nantinya BI menaikkan suku bunga acuannya.

"Jika BI menaikkan suku bunga acuan, maka pasti akan mendorong kenaikan bunga kredit dari perbankan. Sehingga pasti akan berpengaruh pada pos biaya bunga MUF. Terkait hal tersebut, kami terus memantau perkembangan dan menyiapkan segala hal yang diperlukan agar jika suku bunga naik maka kinerja MUF terjaga baik," ungkap Stanley kepada Investor Daily, Senin (11/7/2022).

Menurut dia, ada sejumlah kemungkinan yang terjadi bagi MUF jika suku bunga acuan BI naik. Salah satunya kemungkinan penyesuaian pricing ke calon debitur baru perseroan. Meski begitu, hal itu bisa saja tidak terjadi seiring dengan efisiensi biaya yang terus dilakukan MUF.

Beberapa Pos Pembiayaan Turun


 

Dihubungi terpisah, Vice Chairman of Executive Board PT Indomobil Finance Indonesia (Indomobil Finance) Gunawan Effendi mengatakan, beberapa pos biaya operasional memang menurun pada era pandemi ini. Misalnya biaya perjalanan dinas dan rapat kerja yang biasanya dilaksanakan minimal dua kali dalam setahun. Sebagai gantinya, dilakukan meeting online dan bahkan bisa dilaksanakan lebih sering sehingga performance review serta pengarahan bisa dilakukan lebih intens.

"Pendanaan FinCo (perusahaan pembiayaan) dapat berasal dari berbagai sumber, di antaranya adalah fasilitas kredit dari perbankan, penerbitan obligasi dan pinjaman offshore dari luar negeri. Sejauh ini peningkatan cost of fund atau biaya dana belum terasa signifikan walaupun beberapa bank sudah mulai sedikit menaikan tingkat bunganya," kata Gunawan.

Dia mengatakan, bunga jual bank kepada debitur seperti multifinance biasanya diberikan secara tetap (fixed) atau tidak berubah sepanjang tenor kredit. Hal ini memberi perlindungan bagi debitur atas risiko kenaikan tingkat bunga selama pinjaman mereka belum dilunasi.

"Saat ada kenaikan suku bunga benchmark biasanya tidak serta merta seluruh tingkat bunga deposito dan pinjaman akan naik. Biasanya ada jeda waktu dan dipengaruhi banyak variabel lain. Likuiditas, BOPO, NPL, CAR, profitabilitas dan faktor kompetisi, serta beberapa hal lain akan menjadi pertimbangan sebelum keputusan menaikan bunga dijalankan," ungkap Gunawan.

Dengan begitu, kata dia, bila kenaikan biaya dana tidak terlalu signifikan, maka multifinance sendiri yang akan menyerap risiko tersebut. Tidak serta merta akan berdampak pada debitur. Kalau peningkatan bunga acuan BI dirasakan berimbas signifikan, barulah multifinance terpaksa membebankan kepada debitur.

Diversifikasi pendanaan menjadi penting dalam situasi saat ini. Gunawan bilang, Indomobil Finance sendiri baru menerima dana Obligasi Berkelanjutan V dengan tingkat bunga tetap senilai Rp 600 miliar pada pekan lalu. Permintaan surat utang ini dilaporkan mencapai 3,8 kali dari jumlah obligasi ditawarkan.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com