Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama BP Jamsostek Anggoro Eko Cahyo  Foto: /Investor Daily/Prisma Ardianto

Direktur Utama BP Jamsostek Anggoro Eko Cahyo Foto: /Investor Daily/Prisma Ardianto

BP Jamsostek Sesuaikan Target Akhir Tahun

Jumat, 17 September 2021 | 04:48 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek menyesuaikan sejumlah target sampai akhir tahun 2021, mulai dari jumlah kepesertaan aktif, iuran, klaim, dana investasi, sampai hasil investasi. BP Jamsostek juga tengah berupaya menekan unrealized loss melalui sejumlah langkah antisipatif.

Hal itu disampaikan BP Jamsostek pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI dengan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rabu (15/9).

Direktur Utama BP Jamsostek Anggoro Eko Cahyo menyampaikan, indikator penting pertama adalah terkait dengan kepesertaan. Sampai dengan Agustus 2021, sejatinya ada pertumbuhan peserta baru sebanyak 11,4 juta. Namun jumlah peserta aktif yang keluar cukup tinggi akibat peningkatan pengangguran dan berhenti bekerja. Sehingga dari Desember 2020 sebanyak 29,98 juta, sedangkan pada Agustus 2021 ada 29,2 juta tercatat masih turun.

"Kami melihat sampai dengan akhir tahun masih ada peluang tumbuh sebesar 1,3 juta peserta. Sehingga posisi akhir tahun prognosa kami adalah 30,5 juta peserta aktif dari target 33,67 juta. Tentu kita semua tidak pernah menduga wave Covid-19 kedua ini, sehingga prognosa kami bergeser dari 33,67 juta menjadi 30,5 juta. Kami akan berupaya terbaik untuk mencapainya," terang Anggoro saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR RI, Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rabu (15/9).

Berdasarkan catatan BP Jamsostek, jumlah peserta aktif pada 2018 sebanyak 30,46 juta, 2019 naik signifikan menjadi 34,17 juta, dan tahun 2020 turun signifikan karena Covid-19 menjadi 29,98 juta. Sampai dengan Maret 2021 masih turun menjadi 27,79 juta. Membaik pada Juni 2021 menjadi 28,7 juta dan pada Agustus 2021 sebanyak 29,2 juta.

Dari sisi iuran, Anggoro memaparkan, tahun 2018 total iuran Rp 65,1 triliun, 2019 sebesar Rp 73,43 triliun, tahun 2020 turun sedikit menjadi Rp 73,26 triliun. Sedangkan posisi di Agustus 2021 Rp 50,32 triliun. Melihat perkembangan yang ada, target iuran sebesar Rp 76,58 triliun hingga akhir tahun tidak diubah.

Sementara klaim, tahun 2018 tercatat Rp 27,60 triliun, tahun 2019 sebesar Rp 29,72 triliun, tahun 2020 mencapai Rp 36,45 triliun. Per Agustus 2021 klaim mencapai Rp 26,14 triliun.

"Kami melihat untuk klaim ini prognosa kami melebihi estimasi semula, ini disebabkan dengan banyaknya pengangguran dan keluar dari pekerjaan maka klaim JHT meningkat. Kedua, dampak Covid-19 klaim JKM juga meningkat, dan sudah memulai program beasiswa dua orang anak untuk santunan bagi program JKM," beber Anggoro.

Untuk dana investasi, BP Jamsostek mencatat perolehan tahun 2018 sebesar Rp 364 triliun, tahun 2019 naik menjadi Rp 431 triliun, tahun 2020 pun kembali naik Rp 487 triliun. Per Agustus 2021 tercatat sebesar Rp 514 triliun. Perkembangan dana investasi masih on track, sehingga indikator keuangan ini bahkan dipatok untuk tumbuh lebih tinggi menjadi Rp 549,70 triliun.

Terakhir adalah realisasi hasil investasi sedikit berubah. Target masih akan lebih tinggi dari perolehan tahun 2020 sebesar Rp 32,33 triliun tapi lebih rendah dari target awal sebesar Rp 37,40 triliun. "Kami melihat prognosa sampai akhir tahun dengan turut melihat kondisi market saat ini, dengan tingkat suku bunga rendah maka prognosa kami sebesar Rp 33,24 triliun," tandas Anggoro.

Unrealized Loss

Direktur Investasi BPJamsostek
Direktur Investasi BPJamsostek


Sementara itu Direktur Investasi BP Jamsostek Edwin Michael Ridwan menuturkan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah melakukan audit dan memberikan rekomendasi untuk dapat meningkatkan pengelolaan investasi lebih baik, transparan, efektif, dan efisien. Salah satu rekomendasi adalah menyangkut pemulihan unrealized loss.

Catatan OJK, saham dan reksa dana BP Jamsostek pada program Jaminan Hari Tua (JHT) mengalami unrealized loss sampai Juli 2021 sebesar masing-masing Rp 32,8 triliun dan Rp 8,1 triliun, atau total sebesar Rp 40,9 triliun. Nilai unrealized loss saham cenderung meningkat di tahun ini. Pada Maret 2020, unrealized loss saham tercatat sebesar Rp 38,9 triliun. Terus menurun hingga Desember 2020 menjadi sebesar Rp 19,0 triliun.

Begitu juga unrealize loss reksa dana per Juli 2021 sebesar Rp 8,1 triliun. Unrealize loss reksa dana JHT pernah mencapai Rp 15,9 triliun pada Maret 2020 dan menjadi Rp 5,4 triliun pada Desember 2020. Menilik posisi IHSG, pada Maret 2020 tercatat di level 4.545, naik menjadi 6.067 pada Desember 2020, dan sebesar 6.070 pada Juli 2021. Adapun komposisi saham BP Jamsostek sebesar 96,5% merupakan saham LQ45 dan 3,5% saham non LQ 45.

"Strategi pemulihan unrealized loss adalah menurunkan porsi instrumen yang terekspos pada risiko pasar, terutama pada saham dan reksa dana melalui penjualan saham dan reksa dana. Dimana porsi saham dan reksa dana per Agustus 2021 masing-masing menjadi 13,7% dan 7,22%. Ini menurun dibandingkan posisi 31 Desember 2020 dengan besaran saham adalah 16,9% dan reksa dana 7,94%," papar dia.

Edwin juga mengatakan, hasil penjualan itu berikut iuran yang masuk mayoritas dialokasikan pada surat utang, baik itu surat utang pemerintah maupun surat utang korporasi. Karena tujuan BP Jamsostek adalah untuk menurunkan eksposur terhadap risiko pasar, apalagi melihat kondisi Covid-19 yang mempengaruhi perkembangan ekonomi dan dunia usaha.

Rekomendasi juga dilakukan terkait mekanisme cut loss dan take profit atas enam saham yang tidak ditransaksikan selama beberapa tahun. Enam saham itu adalah KRAS, ITMG, SIMP, AALI, LSIP, dan GIAA.

"Terkait rekomendasi ini telah dibahas secara aktif melalui draft Rancangan Undang-undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) bersama Kemenkeu, OJK, dan BI, pada klaster Dana Pensiun mengenai cut loss," kata dia,

Selain itu dilakukan FGD bersama FH UGM dan Kejati DKI Jakarta mengenai mekanisme cut loss dan antisipasi terhadap risiko kerugian negara. Untuk enam saham yang tidak ditransaksikan tersebut, lima diantaranya sudah dilakukan aksi. Tiga saham sudah dilakukan take profit yaitu KRAS, ITMG, dan SIMP dengan masing-masing memiliki capital gain sebesar Rp 11,9 miliar, Rp 2,8 miliar, dan Rp 16,39 juta.

"Take profit ini masih perlu dilakukan sehingga belum selesai, melihat posisi kami cukup signifikan dan saham-saham ini tidak terlalu likuid di pasar. Jadi untuk melakukan penjualan perlu waktu. Untuk dua saham lain yakni Astra Agro Lestari (AALI) dan London Sumatera (LSIP), kami justru melakukan averaging down karena melihat prospek dari CPO (kelapa sawit) jauh lebih baik," jelas Edwin.

Khusus untuk saham GIAA, kata dia, belum dilakukan penjualan atau pembelian karena perkembangan emiten masih dimonitor secara seksama. Termasuk melihat kondisi sektor penerbangan dan sektor pariwisata yang menjadi salah satu sektor paling terpukul saat pandemi Covid-19.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN