Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama BRI Sunarso. (Investor Daily/Nida Sahara)

Direktur Utama BRI Sunarso. (Investor Daily/Nida Sahara)

BRI: Ada Rp 1.200 Triliun Duit 'Terjebak' di Bank

Rabu, 25 November 2020 | 13:08 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatat, hingga saat ini pertumbuhan dana simpanan di industri perbankan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit. Dengan tingginya dana pihak ketiga (DPK) dibandingkan kredit, maka loan to deposit ratio (LDR) perbankan juga menjadi rendah, di level 82%.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, pertumbuhan DPK di BRI mencapai 16% secara tahunan (year on year/yoy) per kuartal III-2020, sedangkan kredit tumbuh 4,9% (yoy), masih lebih tinggi dari industri sebesar 0,12% (yoy). Hal tersebut mencerminkan dana di perbankan banyak yang menganggur karena tidak tersalurkan melalui kredit.

"Artinya, kalau LDR 82% menuju idealnya 92% itu berarti ada Rp 1.200 triliun duit 'terjebak' tidak bisa disalurkan produktif dalam bentuk kredit," kata Sunarso dalam Economic Outlook 2021: Geliat Industri Perbankan 2021, acara ini terselenggara atas kerja sama Berita Satu Media Holdings dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Rabu (25/11/2020).

Akibat pandemi Covid-19, jelas dia, masyarakat cenderung memilih menyimpan dananya di perbankan yang menyebabkan menumpuknya simpanan. Sebab, masyarakat belum percaya diri untuk menggunakan dananya akibat kasus Covid-19 yang masih tinggi.

Menurut Sunarso, di tengah pandemi dan situasi ke depan, perseroan masih akan fokus menyasar segmen mikro, kecil, dan ultra mikro untuk diberikan kredit. Pasalnya, segmen tersebut sudah mulai cepat bangkit dibandingkan dengan segmen menengah dan korporasi.

"Untuk sektornya, dari Maret lalu kita sudah lihat, orang butuh makan dan minum, kita fokus di pertanian yang produksi bahan pangan dan obat-obatan sampai distribusinya. Sektor terkait kesehatan saya kira masih bisa jadi sasaran untuk menumbuhkan kredit, sampai hari ini yang masih positif itu pertanian, saya sebagai sopir sudah presisi mengarahkan kendaraan," pungkas Sunarso.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN