Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BRI. Foto: DAVID

Bank BRI. Foto: DAVID

BRI Proyeksi Holding UMi Layani 29 Juta Nasabah di 2024

Jumat, 19 Maret 2021 | 05:07 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memproyeksikan sinergi dengan PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dapat menjaring 29 juta nasabah ultra mikro (UMi) di tahun 2024. Tanpa holding, jumlah itu lebih sedikit sekitar 5 juta nasabah.

Direktur Utama BRI Sunarso menyampaikan, inisiatif utama pembentukan holding UMi adalah untuk membentuk ekosistem secara sistematis. Lebih luas lagi, peran holding adalah memperluas jangkauan, memperdalam layanan, dan memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.

"Dengan model seperti itu, kami memiliki aspirasi di 2024 nanti mudah-mudahan kita bisa meningkatkan nasabah hingga 29 juta di empat segmen nasabah prioritas, melalui model bisnis yang tadi saya sampaikan," ungkap Sunarso saat Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (18/3).

Berdasarkan data yang dipaparkan Sunarso, BRI akan memberikan kontribusi sebanyak 11 juta UMi, atau naik dari sebelumnya 3,5 juta karena dampak sinergi. Pegadaian akan ada 5 juta nasabah UMi, atau bertambah satu juta nasabah karena dampak sinergi. Dari PNM akan ada sekitar 15 juta nasabah, bertambah 1 juta nasabah UMi.

Dari data itu, jumlah nasabah UMi yang dijaring memang mencapai 31 juta. Namun demikian, pihaknya turut memproyeksi terdapat sekitar dua juta nasabah yang overlap, atau memiliki pinjaman di lebih dari satu entitas antara BRI, Pegadaian, maupun PNM. Dengan demikian, pihaknya meyakini bisa memberikan pelayanan kepada sekitar 29 juta nasabah pada tahun 2024.

Sunarso mengemukakan, sinergi yang dilakukan bakal memperkuat bisnis dari Pegadaian dan PNM. Hal itu memungkinkan melalui mekanisme penurunan biaya dana (cost of fund/CoF) dan penurunan biaya operasional. Pendanaan kedua entitas itu akan lebih banyak disetorkan oleh BRI sebagai entitas utama. Sumber pendanaan bisa berasal dari dana pihak ketiga (DPK), penerbitan instrumen oleh BRI, atau kombinasi dari kedua sumber itu.

Selain itu, biaya operasional dari Pegadaian dan PNM juga bisa dipangkas karena kedua entitas itu tidak lagi perlu mengeluarkan banyak dana untuk investasi infrastruktur. Investasi hanya dilakukan pada satu wadah untuk digunakan atau dimanfaatkan bersama. Sementara terlepas dari bisnis, menurut Sunarso, sinergi yang pada akhirnya membentuk ekosistem itu turut mempercepat capaian inklusi keuangan di posisi 90%, dibandingkan posisi survei terakhir di kisaran 70%.

Model Bisnis
Sunarso menerangkan, model bisnis dari holding akan dibagi sesuai akar bisnis masing-masing entitas. Pertama bagi PNM, bertugas untuk menjaring nasabah dengan kategori unfeasible dan unbankable. Jika tugas itu tuntas, maka nasabah pun dapat mengakses alternatif pembiayaan seperti kolateral based maupun lewat Produk Pegadaian.

Lebih lanjut, nasabah yang bisa meningkatkan performa bisnisnya dengan baik atau bisa masuk dalam kategori naik kelas akan dilayani oleh BRI. Jadi nasabah dengan karakteristik tersebut tidak lagi harus membawa barangnya untuk mendapatkan pembiayaan dari pegadaian, pihak BRI akan langsung memeriksa proyeksi arus kas UMi.

Dengan begitu, sambung dia, proses UMi naik kelas dapat terpantau dengan sistematis dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan. Kebijakan menyalurkan pembiayaan juga akan lebih terukur dengan adanya integrasi data.

"Integrasi entitas tetap mempertahankan fokus core masing-masing perusahaan, tapi kemudian disambung dan diikat pada ekosistem ini. Sehingga proses naik kelas dan akuisisi bisa lebih terstruktur," jelas Sunarso.

Dia menuturkan, pangsa pasar holding mencapai 57 UMi, dengan sebanyak sekitar 30 juta diantaranya memang sama sekali belum memiliki akses pembiayaan. Kemudian, 80% sisanya sudah mendapatkan akses pembiayaan tapi masih membutuhkan dana lebih. Adapun sisanya, baru sebesar 20% UMi yang sudah mendapatkan pendanaan yang cukup.

Kehadiran holding untuk mempercepat akses bagi UMi terbilang mendesak. Dari riset tahun 2018 itu juga, diketahui masih terdapat 5 orang UMi yang mengandalkan dana dari rentenir, bahkan bunga pinjamannya disebut mulai dari 100-500%. Adapun sebanyak 7 juta orang masih mengandalkan kerabat.

Sunarso menambahkan, ekosistem yang dirangkai BRI, Pegadaian, dan PNM tidak akan tunduk pada aturan perbankan, karena bukan merupakan merger. Pembentukan ekosistem diramu melalui kepemilikan holding, karena bukan merger maka model bisnis masing-masing perusahaan tidak berubah.

"Saya tegaskan di sini, Pegadaian dan PNM tunduk pada aturan OJK yang mengatur industri keuangan non bank (IKNB). Sedangkan BRI ya tunduk pada aturan OJK, BI, dan lainnya yang mengatur bisnis perbankan," tandas dia.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN