Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

BRI Raih Laba Rp 24,8 Triliun

Nida Sahara, Kamis, 24 Oktober 2019 | 12:24 WIB

JAKARTA -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) hingga kuartal III 2019 menorehkan laba Rp 24,8 triliun atau tumbuh 5,36 persen year on year. Persentase kenaikan laba menurun dibandingkan tahun lalu yang naik double digit seiring dengan peningkatan biaya pencadangan sebagai amunisi untuk menjaga kenaikan risiko kredit (non performing loan/NPL).

"(Laba, red) 2015 kita hanya tumbuh 2 persen, tahun berikutnya 5 persen, tahun berikutnya baru tumbuh double, sekarang single. Ada kenaikan NPL, jadi ada kenaikan biaya cadangan untuk cover risiko yang terjadi. Apabila restrukturisasi berhasil akan memperkuat laba di waktu mendatang. Ini prinsip mengelola balance sheet," ujar Direktur Utama BRI Sunarso dalam paparan kinerja di Jakarta, Kamis (24/10/2019).

Hingga akhir September 2019, BRI secara konsolidasi telah menyalurkan kredit senilai Rp 903,14 triliun atau tumbuh 11,65 persen, lebih tinggi dari industri sebesar 8,59 persen (data OJK bulan Agustus 2019) dengan NPL 3,08 persen (bank only) dan 2,94 persen secara konsolidasi. Kenaikan kredit macet ini terutama dialami oleh segmen korporasi, seperti di industri semen dan tekstil. Di mana, untuk semen dan tekstil telah dicanangkan pencadangan hingga 100 persen. Sedangkan, pencadangan ke Krakatau Steel ditetapkan 60 persen.

"Ada beberapa segmen industri yang manufaktur yang terkendala dalam pertumbuhannya, jadi kita lihat sebagai potential risk. Di industrinya sedang menghadapi tantangan dan kita meresponnya secara prudent," imbuhnya.

Apabila dirinci, penyaluran kredit oleh BRI, terbesar disalurkan ke kredit mikro yang tercatat Rp 301,89 triliun atau tumbuh 13,23 persen yoy dengan proporsinya mencapai sepertiga dari keseluruhan kredit bank pelat merah tersebut. Disusul, kredit konsumer Rp 137,29 triliun atau tumbuh 7,85 persen yoy, kredit ritel dan menengah Rp 261,67 triliun atau tumbuh 14,80 persen yoy dan kredit korporasi BRI Rp 202,30 triliun.

“Jika ditotal, porsi kredit UMKM mencapai 77,60 persen dari keseluruhan kredit BRI, di mana angka ini berhasil kami tingkatkan secara perlahan dan targetnya proporsi kredit UMKM bisa mencapai 80 persen di tahun di tahun 2022,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Sunarso, selama Januari hingga September 2019, BRI berhasil menyalurkan KUR senilai Rp 77,26 triliun kepada 3,6 juta debitur, di mana pencapaian ini setara dengan 88,83 persen dari alokasi penyaluran KUR yang di-breakdown pemerintah di tahun 2019. "KUR sampai akhir tahun targetnya Rp 86,97 triliun, sampai September sudah Rp 77,26 triliun. Kalau ditotal sejak diberlakukan KUR dari tahun 2015 maka BRI sudah menyalurkan KUR Rp 312,72 triliun kepada 16,22 juta nasabah," sebut ia.

Bank BRI, sambungnya berkomitmen untuk terus fokus dalam melakukan ekspansi bisnis di segmen mikro dengan melakukan strategi go smaller, go shorter, go faster. Beberapa langkah nyata yang telah dilakukan oleh Bank BRI untuk memperkuat bisnis mikro di antaranya yakni digitalisasi bisnis proses dengan menggunakan BRISPOT, penguatan big data segmen mikro, peningkatan kapabilitas SDM serta melakukan rejuvenasi produk pinjaman mikro.

Selain itu, Bank BRI juga memiliki strategi untuk terus memperluas customer base segmen mikro. Di antaranya melalui peningkatan kapasitas anggota Rumah Kreatif BUMN (RKB) BRI, program BRIncubator, pembentukan kluster unggulan di setiap kantor cabang BRI di seluruh Indonesia dan pemberdayaan penerima Kartu Tani dan Kartu Kusuka (Kartu Usaha Kelautan dan Perikanan).

Sementara untuk Dana Pihak Ketiga (DPK), Bank BRI tercatat menghimpun dana sebesar Rp 959,24 triliun atau tumbuh 9,91 persen yoy lebih tinggi daripada industri sebesar 7,62 persen (data OJK bulan Agustus 2019). Giro BRI tumbuh 21,77 persen yoy menjadi Rp 171,85 triliun, tabungan BRI tumbuh 9,20 persen yoy menjadi Rp 384,02 triliun dan deposito tumbuh 6,16 persen yoy menjadi Rp 403,37 triliun.

Di mana, pertumbuhan giro dan tabungan yang lebih tinggi dibandingkan deposito mampu mendongkrak dana murah (CASA) BRI. Pada kuartal III 2019 CASA BRI tercatat 57,95 persen, meningkat dibandingkan kuartal III 2018 sebesar 56,46 persen.

Selain itu, dari sisi Fee Based Income (FBI) mampu tumbuh double digit sebesar 12,03 persen yoy atau sebesar RP 9,74 triliun. Adapun, aset mencapai Rp 1.305,67 triliun atau tumbuh 10,34 persen yoy. Untuk rasio perbankan lainnya, LDR BRI tercatat 94,15 persen dan CAR 21,89 persen. “Angka LDR ini kami nilai sangat moderat dan CAR yang cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan Bank BRI di masa mendatang,” katanya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA