Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum AAJI Budi Tampubolon dan Ketua Bidang Komunikasi dan Marketing AAJI Wiroyo Karsono sedang menjawab pertanyaan media, dalam Workshop AAJI di Bogor (28/9).

Ketua Umum AAJI Budi Tampubolon dan Ketua Bidang Komunikasi dan Marketing AAJI Wiroyo Karsono sedang menjawab pertanyaan media, dalam Workshop AAJI di Bogor (28/9).

Bursa Bergejolak, Nasabah Asuransi Tak Perlu Panik

Sabtu, 29 Februari 2020 | 10:00 WIB
Windarto

Bogor-Belum tuntas dampak psikologis atas kasus gagal bayar Jiwasaya, industri asuransi kembali diuji dengan perkembangan bursa saham dalam sepekan terakhir yang terus meluncur jatuh. Kondisi seperti ini bukan saja mencemaskan pelaku industri, juga para pemegang polis asuransi terutama produk-produk yang memiliki unsur investasi seperti unit link.

Menyikapi hal ini, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon menilai tidak ada alasan bagi pemegang polis untuk panik. Sebab, sejak awal 2019 hingga triwulan ketiga 2019, tidak ada dampak signfikan kasus Jiwasraya terhadap penarikan polis (surrender) pada industri asuransi jiwa. “Kita tadi sudah melihat angkanya. Apakah angka surrender naik dibandingkan 2018, betul tapi coba kita tarik dari tahun 2008, kan semua partial withdrwal dan surender itu selalu naik,” jelas Budi. Dengan kata lain, dalam sepuluh tahun terakir klaim surrender dan partial withdrawl memang cenderung naik, dan sepanjang 2019 kenaikannya dalam angka yang wajar tidak ada lonjakan yang signifikan.

Hal kedua, menurut Budi, hampir tidak ada orang yang memiliki kemampuan menabung Rp 1000, Rp 10. ribu, Rp 100 ribu, atau sejuta setiap bulannya, akan menginvestasikan seluruh tabungannya ke dalam bentuk asuransi. Selalu diajarkan dalam perencanaan keuangan agar berinvestasi dengan cerdas dan cermat yakni menempatkan sebagian di bank, sebagian di pasar modal, tapi jangan lupa asuransi karena asuransi selain investasi atau menabung juga ada proteksinya.

Jika dilihat perkembangan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam rentang sepuluh tahun misalnya, dan ditarik garis lurus hingga periode terkini, ada kecenderungan naik. Namun di antara rentang tersebut memang ada up and down, tapi secara jangka panjang garisnya naik.

“Jadi kami berharap nasabah ini memahami kenapa mereka membeli asuransi jiwa. Mereka membutuhkan proteksi, mereka tahu kontrak asuransi jangka panjang, dan dana yang digunakan untuk membeli asuransi bukanlah 100% dana tabungan mereka. Kalau konteksnya begitu tidak ada alasan untuk panik,” jelasnya.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN