Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Asabri R Wahyu Suparyono ketika Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Kamis (10/6).  Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Direktur Utama Asabri R Wahyu Suparyono ketika Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Kamis (10/6). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Cash Flow Aman Sampai 2025, Asabri Pacu 5 Strategi Pulihkan Keuangan

Senin, 14 Juni 2021 | 04:28 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Asabri (Persero) memaparkan lima strategi memulihkan kondisi keuangan mulai dari perbaikan tata kelola, sinergi klaster asuransi sosial BUMN, penyesuaian bunga aktuaria, penerimaan unfunded past service liability (UPSL), sampai pemulihan aset sitaan. Dengan kondisi keuangan saat ini, arus kas (cash flow) perseroan diproyeksi bisa bertahan sampai tahun 2025.

Direktur Utama Asabri R Wahyu Suparyono menyampaikan, pihaknya telah menyusun proyeksi arus kas dan indikator likuiditas untuk masing-masing program. Proyeksi tersebut menjabarkan keterkaitan antara kerugian yang telah dibukukan dengan pengaruhnya terhadap pelayanan peserta.

Secara umum, pihaknya mengungkapkan arus kan mencukupi sampai dengan tahun 2025. "Kalau stand alone kami tidak melakukan pergerakan sama sekali, maka yang terjadi 2025 maksimal cash flow. Jadi sampai dengan 2025 relatif cash flow layanan kepada peserta aman," Wahyu ketika Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Kamis (10/6).

Dia memaparkan, proyeksi arus kas program tunjangan hari tua (THT) terus menurun hingga tahun 2025. Rasio dana deposito untuk THT secara bulanan itu di bawah 1x pada tahun 2025. Rendahnya rasio tersebut akibat tingginya defisit cash sebesar Rp 589 miliar. Jadi kondisi sampai dengan 2025 memang aman tapi saldo menurun.

Untuk dana di Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), estimasi dana deposito terus meningkat. Diperkirakan sampai 2025 relatif lebih aman karena klaim bulanan stabil rata-rata sebesar Rp 7 miliar. Oleh karena itu, rasio dana deposito terhadap dana JKK terus meningkat hingga lebih dari 90x pada tahun 2025.

Sedangkan pengelolaan dana pada program Jaminan Kematian (JKM), estimasi dana deposito juga terus mengingkat. Nilai klaim bulanan stabil sebesar Rp 15 miliar. Oleh karena itu, dana deposito untuk dana JKM trus meningkat hingga 33x di tahun 2025.

Di samping itu, Asabri berhasil menekan negatif ekuitas di akhir 2020 sebesar Rp 13,3 triliun menjadi negatif Rp 12 triliun per April 2021. Meski relatif membaik tapi rasio kecukupan modal (risk based capital/RBC) jauh dari ketentuan yang berlaku, sehingga Asabri masih perlu suntikan dana sebesar Rp 13,75 triliun.

Lima Strategi Pemulihan
Di sisi lain, manajemen baru Asabri telah merealisasikan dan terus memacu lima strategi untuk memulihkan kondisi keuangan tersebut. Strategi pertama menyangkut tata kelola perusahaan dan telah terealisasi 95%. Perbaikan yang dilakukan misalnya terkait dengan kehadiran komite investasi, persetujuan komisaris atas investasi diatas Rp 1 triliun, hingga SOP investasi.

Strategi kedua yakni sinergi dengan klaster asuransi sosial BUMN, PT Taspen (Persero). Dengan tujuan meningkatkan manfaat pada peserta, ini Asabri menawarkan produk asuransi tambahan milik Taspen. Hingga tahun berjalan (year to date/ytd), produk tersebut telah mendapat respon baik dan membukukan total premi mencapai Rp 4,5 miliar yang dicatatkan sebagai pendapatan.

Untuk strategi ketiga, Wahyu mengatakan, terkait dengan penyesuaian bunga aktuaria menggunakan market rate. Sebagai perusahaan asuransi sosial yang memiliki produk, premi, dan peserta yang ditentukan pemerintah, Asabri dinilai berada pada posisi yang kurang menguntungkan dikarenakan mencatat biaya cadangan teknis sesuai perubahan bunga pasar yang bergerak secara fluktuatif.

"Jadi pendapatan tetap tapi biayanya bergerak. Ini tentu tidak akan sepadan dengan premi yang diterima. Ini ada peningkatan cadangan teknis sebesar Rp 4,6 triliun. Ada perbedaan perlakuan bunga aktuaria Taspen dan Asabri. Kalau di Asabri, metode asumsinya sesuai dengan standar praktik aktuaria umum. Sementara di Taspen menggunakan metode yang disetujui oleh Menteri Keuangan. Nah ini yang sedang kami mintakan perlakuan yang sama," ucap dia.

Wahyu mengatakan, jika nantinya perhitungan aktuaria sesuai dengan amanah Kemenkeu atau sama dengan hitungan Taspen, maka setiap asumsi manfaat masa depan bisa sesuai dengan premi yang dipatok. Lewat strategi itu, Asabri disebut bisa memperbaiki Rp 6,6 triliun struktur finansial diluar pemulihan aset yang disita Kejaksaan Agung.

Sedangkan untuk strategi keempat, Asabri juga berupaya untuk mendapatkan hak terkait penerimaan UPSL yang timbul akibat perubahan formulasi manfaat. Selisih atau kekurangan dana untuk dicatatkan dan dibayarkan oleh pemerintah itu sebesar kurang lebih Rp 6,4 triliun.

"Asabri mengharapkan dapat menerima pembayaran UPSL di 2021 yang bersumber dari APBN-P. Kami sudah bersurat yang pada intinya di tahun 2012 ada perubahan formula di dalam penghitungan manfaat. Semula manfaat pasti dan 1 Januari 2013 dengan iuran pasti yang akan berkembang dan dibayarkan melalui DPLK, hitung-hitungannya pemerintah masih harus menambahkan Rp 6,4 triliun." kata dia.

Terakhir atau strategi kelima adalah pemulihan aset sitaan (recovery asset) yang tidak produktif akibat kesalahan penempatan investasi pada masa lalu. Salah satu realisasinya adalah pembentukan tim counterpart guna mendukung kelancaran proses hukum, sehingga ketika keputusan inkrah, aset bisa segera kembali ke Asabri meskipun nantinya akan dicatat pada aset lain-lain lebih dulu. Sampai saat ini, aset yang disita dari tersangka BT dan HH disebut mencapai Rp 7,2 triliun.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN