Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chief Executive Officer (CEO) Citibank N.A., Indonesia Batara Sianturi dalam webinar Investor Daily Summit 2021 bertema

Chief Executive Officer (CEO) Citibank N.A., Indonesia Batara Sianturi dalam webinar Investor Daily Summit 2021 bertema "Menanti IPO Perusahaan Big Tech", Kamis (15/7).

Citibank: IPO Big Tech Jadi Daya Tarik Investor

Kamis, 15 Juli 2021 | 18:39 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.idChief Executive Officer (CEO) Citibank N.A., Indonesia Batara Sianturi mencatat, lebih dari US$ 40 miliar dana keluar untuk mendanai pemain teknologi di Asia Tenggara. Dengan masifnya perusahaan big tech yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), akan menjadi daya tarik bagi para investor, tak hanya domestik tapi juga asing.

"Jadi ini adalah kabar baik untuk pasar modal, itu berarti meningkatkan likuiditas untuk Indonesia dan berkontribusi untuk pertumbuhan pasar modal," ungkap Batara dalam Investor Daily Summit 2021 bertajuk Menanti IPO Perusahaan Big Tech, Kamis (15/7).

Rencana IPO di BEI oleh perusahaan e-commerce seperti Bukalapak diharapkan diikuti oleh big tech lainnya. Sebab, investor di Asia Tenggara banyak yang berinvestasi pada perusahaan teknologi, dengan bermunculan big tech yang IPO tentu akan membuat para investor asing menanamkan dananya di Indonesia.

"Kalau lihat di Asia Tenggara, lebih dari US$ 40 miliar funding keluar untuk mendanai pemain teknologi. Sekarang sangat terkonsentrasi pada beberapa platform internet, bisnis B2B perlahan-lahan menjadi daya tarik," kata Batara.

Batara menjelaskan, Covid-19 mempercepat adopsi digitalisasi di Asia Tenggara, konsumsi baru dan kebiasaan pembayaran digital telah muncul selama pandemi, membuka jalan bagi negara di Asia Tenggara untuk mempercepat transformasi. Pada tahun 2018, jumlah pengguna digital sebanyak 250 juta, meningkat ke 280 juta pada 2019, kemudian naik lagi ke 310 juta pengguna.

Pada tahun 2025 diprediksi akan mencapai 340 juta pengguna digital di Asia Tenggara. Padahal, proyeksi untuk 2025 sebelumnya sebanyak 310 juta pengguna, namun meningkat seiring dengan adanya pandemi Covid-19.

"Kalau dilihat jumlah consumer digital itu ada 310 juta tahun 2020, jumlah consumer digital diramal akan meningkat melampaui perkiraan sebelumnya," tutur Batara.

Sementara itu, berdasarkan populasinya, sebesar 60-70% sudah beralih ke digital dalam waktu lima tahun ke depan. "Kami masih memiliki ruang untuk mengambil 30% ini untuk beralih ke digital juga," sambung dia.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN