Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asuransi online. Foto ilustrasi: Istimewa

Asuransi online. Foto ilustrasi: Istimewa

Dalam 15 Tahun, Return Saham 352%

Kamis, 15 April 2021 | 09:54 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.idReturn investasi saham mencapai 352% selama 15 tahun, meski harga saham sering bergejolak dari waktu ke waktu. Imbal hasil tersebut tiga kali lipat lebih disbanding deposito yang sebesar 100%.

Presiden Direktur PT Schroders Investment Management Indonesia Michael Tjandra Tjoa mengatakan, setiap instrumen investasi memiliki karakteristik yang berbeda. Instrumen dengan risiko tinggi (high risk) juga cenderung memberikan imbal hasil yang lebih tinggi (high return). Hal ini juga perlu diikuti orientasi waktu para investor dalam berinvestasi.

“Sepanjang 15 tahun terakhir, deposito dengan karakteristik risiko rendah -- hampir dikatakan tidak ada fluktuasi -- tumbuh 100%. Sebaliknya, instrumen saham terus fluktuatif namun memberikan imbal hasil yang lebih tinggi. Lihat JCI (Jakarta Stock Exchange Composite Index), dia bisa menghasilkan return 352% atau lebih tinggi dari deposito. Nilainya lebih tinggi, di tengah fluktuasi return yang bergejolak terus menerus setiap hari, bulan, tahun,” ucap dia pada acara KabarTerkini Industri Asuransi Jiwa yang diselenggarakan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Rabu (14/4).

Direktur Utama Schroders Investment Management Indonesia Michael Tjoajadi. Foto: youtube
Presiden Direktur Schroders Investment Management Indonesia Michael Tjoajadi. Foto: youtube

Michael Tjoa mengungkapkan, imbal hasil yang diperoleh seorang investor tergantung pada waktu melakukan investasi. Umumnya dalam jangka waktu pendek, orang akan merasa rugi jika berinvestasi saham di saat harga sedang tinggi. Hal yang sama juga terjadi pada investor di produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link.

“Fenomena itu memang terbukti jika dilakukan sebelum krisis di tahun 2008, yang menyebabkan indeks harga saham gabungan (IHSG) jatuh. Sebaliknya, saat investasi dilakukan pada kisaran April 2009 atau ketika nilai saham mulai stabil, maka imbal hasil dalam jangka pendek terlihat relatif lebih baik. Fenomena serupa terjadi pada keputusan investasi di akhir tahun 2019 atau lebih memilih di April 2020,” paparnya.

Investasi Jangka Panjang

Michael Tjoa menuturkan, yang perlu dipahami oleh investor sekaligus pemegang polis asuransi unit link adalah penempatan instrumen saham diperuntukan untuk memperoleh imbal hasil dalam jangka panjang.

Sedangkan untuk orientasi jangka pendek, nasabah bisa memilih instrumen campuran dengan pasar uang berupa deposito.

Nah kalau ada nasabah yang tidak mengerti produk seperti itu, maka diperuntukan bagi dirinya produk term life atau whole life. Kalaupun mau, maka belajar, karena menjadi kewajiban bagi perusahaan asuransi dan agennya untuk melakukan edukasi secara terus-menerus,” ungkap Michael Tjoa.

Dia mengatakan, kelebihan unit link adalah keleluasaan dari investor untuk mengalihkan (shifting) dananya ke instrument investasi lain. Hal itu sudah bisa dilakukan sejak pertama kali memilih menggunakan produk unit link. Oleh karena itu, risiko memang cenderung ditanggung oleh para pemegang polis atau investor itu sendiri.

“Orang seperti saya yang mengerti investasi, saya akan memilih produk seperti ini karena punya keleluasaan memilih penempatan investasi uang yang diinginkan. Apalagi, perusahaan asuransi memperbolehkan untuk memindahkan dari satu kelas risiko investasi ke kelas lainnya. Berarti peran pemegang polis menjadi penting untuk menentukan sendiri bagaimana hasil investasi yang diperoleh dari produk unit link, beda dibandingkan produk tradisional,” kata dia.

Portofolio industri asuransi jiwa
Portofolio industri asuransi jiwa

Kontributor Penting Asuransi

Michael Tjoa menilai, industri asuransi kian berkembang de ngan kehadiran produk unit link di Indonesia. Kehadiran unit link ini adalah jawaban terhadap kebutuhan para nasabah yang merasa bahwa preminya bisa lebih berkembang jika turut diinvestasikan.

Mengutip data AAJI, dia memaparkan, kini asuransi berkontribusi besar terhadap pasar modal Indonesia. Portofolio investasi saham dan reksa dana asuransi jiwa hingga akhir 2020 mencapai sekitar Rp 310 triliun. Rinciannya, reksa dana menyumbang Rp 165 triliun dan saham sebesar Rp 147 triliun.

“Jadi, total investasi di saham dan reksa dana saham kalau digabung Rp 310 triliun sendiri. Investasi dari asuransi berkembang sangat signifikan. Di sukuk dan SBN juga hampir Rp 100-120 triliun. Ini menunjukkan asuransi di capital market memegang peranan penting bagi perkembangan pasar modal Indonesia,” ungkap dia.

Pembayaran Klaim Naik

Sementara itu, Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu menerangkan, klaim dan manfaat yang dibayarkan industri asuransi lima tahun belakangan terus meningkat. Pada tahun 2016, pembayaran klaim tercatat sebesar Rp 95,21 triliun, kemudian mencapai Rp 151,10 triliun di 2020. Klaim bahkan diberikan bagi pasien virus baru Covid-19.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Togar Pasaribu dalam acara media gathering yang digelar AAJI secara virtual, Rabu, 14 April 2021.(Foto: Ist)
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Togar Pasaribu dalam acara media gathering yang digelar AAJI secara virtual, Rabu, 14 April 2021.(Foto: Ist)

“Peningkatan pembayaran klaim dalam kurun waktu 5 tahun terakhir total sebesar Rp 638,15 triliun. Total klaim terkait Covid-19, per Oktober 2020, mencapai Rp 661 miliar kepada 9.128 pemegang polis, meski pemerintah menyatakan bahwa Covid-19 merupakan pandemi dan di-cover oleh pemerintah,” papar dia.

Penanganan Masalah

Togar juga mengakui ada pula keluhan-keluhan atas pengajuan klaim dari para pemegang polis. Dalam hal ini, AAJI tidak begitu saja menyalahkan salah satu pihak, baik agen, pemegang polis, maupun perusahaan asuransi.

“Permasalahan harus dilihat secara seimbang, terkait beberapa kabar pengajuan klaim pada sejumlah perusahaan asuransi asing yang belakangan santer tersiar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah memiliki aturanaturan baku untuk menyelesaikan permasalahan antara perusahaan dan pemegang polis, begitupun sebaliknya,” kata Togar.

Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa - Sektor Jasa Keuangan (LAPS-SJK) juga sudah didirikan OJK baru-baru ini. Lembaga itu sudah mulai aktif beroperasi.

“Mudah-mudah LAPS ini sudah mulai bisa menyelesaikan (permasalahan). Kalau kata orang ahli hukum, (bisa selesai) 3.000-4.000 kasus, mudah-mudahan,” ungkap Togar.

Di sisi lain, AAJI berharap perusahaan asuransi semakin menekankan praktik dan kode etik dari para tenaga pemasaran. Dengan begitu, misinformation dan mis-selling bisa diredam. Apalagi permasalahan yang terbesar baru-baru ini erat kaitannya dengan peran tenaga pemasar.

“Kalau kita dengar ada yang menyatakan bahwa tenaga pemasar atau agen menyatakan begini, menyatakan begitu, saya pikir kita harus bijak melihat persoalan. Nggak mungkin omongan menjadi pegangan. Jadi, kembali pada polislah, yang seharusnya menjadi acuan di antara para pihak,” kata dia.

Oleh karena itu, Togar mengimbau para pemegang polis agar benar-benar memahami hak dan kewajibannya. Nasabah harus membaca polisnya.

“Saya sering bilang, kalau boleh tuh, secerewet-cerewetnya, karena ini adalah uang Anda, untuk masa depan keuangan Anda sekeluarga yang lebih baik. Kalau nasabah atau calon nasabah tidak membaca polisnya, itu suatu hal yang merugikan. Karena, dalam polis segala sesuatu tertulis dengan jelas, bukan omongan,” tandas dia.

Dia menambahkan, memahami hak dan kewajiban arti nya pemegang polis harus benar-benar mengerti isi polis, meski proses membaca polis se dikit membosankan. Sebab, polis bakal menjadi dasar atas hubungan antara pihak tertanggung dengan penanggung, jika suatu saat terjadi sengketa atau masalah.

Perlu LPP

AAJI juga terus berharap ada kehadiran Lembaga Penjamin Polis (LPP) sebagai implementasi amanat UU No 40/2014 tentang Perasuransian.

Togar mengatakan, keberadaan LPP menjadi makin penting melihat kondisi beberapa waktu belakang, meskipun pada saat yang sama AAJI juga memahami kendala yang dihadapi pemerintah dalam proses pendiriannya._

“Institusi ini perlu dibuat dengan seimbang agar masyarakat merasa aman dan citra industri asuransi menjadi lebih baik. Lembaga tadi itu bukan tanggung jawab OJK, tapi otoritasnya dari pemerintah atau dalam hal ini Kemenkeu,” tandas Togar.

Peran Regulator

Sementara itu, Direktur Pelayanan Konsumen OJK Sabar Wahyono mengakui, fenomena mis-selling kerap terjadi saat proses akuisisi nasabah unit link. Agen asuransi salah menjelaskan ke calon pemegang polis, kemudian pemahaman calon pemegang polis juga kurang karena malas membaca isi polis.

Direktur Pelayanan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sabar Wahyono dalam acara media gathering yang digelar Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) secara virtual, Rabu, 14 April 2021.(Foto: Herman)
Direktur Pelayanan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sabar Wahyono dalam acara media gathering yang digelar Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) secara virtual, Rabu, 14 April 2021.(Foto: Herman)

“Dari data layanan konsumen terkait unit link, tahun 2019 ada 360 kasus, pada 2020 naik hampir dua kali lipatnya yaitu 593 kasus. Kemudian 2021, baru 4 bulan -- Januari, Februari, Maret, April -- sudah 273 kasus,” kata Sabar.

Data terbanyak pengaduan konsumen terkait mis-selling. Tapi, lanjut dia, laporan konsumen tersebut belum tentu benar, sehingga pihaknya belum bisa memberi sanksi kepada perusahaan.

Sedangkan permasalahan utamanya, pertama, adanya tenaga pemasar nakal yang kerap berpindah perusahaan asuransi.

Kedua, konsumen benar-benar tidak paham dan cenderung asal beli produk.

“Ini yang kami minta perbaikan ke depan, harus fair. Tolong direkam ketika agennya itu mau ngomong ke konsumen, kalau perlu rekaman dibuat dua. Satu diberikan konsumen dan satu untuk perusahaan asuransi. Nanti kalau dispute, tungguin aja, bareng-bareng kita dengerin apa ada mis-selling atau tidak,” tandas Sabar.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya mengusulkan dua hal pada aturan terbaru terkait PAYDI atau unitlink demi perlindungan konsumen. Pertama, mewajibkan perekaman saat melakukan proses penjelasan hingga akuisisi calon nasabah. Pasalnya, sering ditemui keterangan agen dan konsumen bertolak belakang.

Kedua, akan ada dokumen yang memastikan bahwa konsumen memahami produk, risiko, dan hal penting lainnya untuk memastikan pengetahuan nasabah terhadap produk yang dibeli.

Suasana pelayanan kantor cabang BPJS Kesehatan di Pancoran, Jakarta Selatan Kamis (25/2/2021). Foto: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao
Suasana pelayanan kantor cabang BPJS Kesehatan di Pancoran, Jakarta Selatan. Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bagian di Direktorat Pengawasan Asuransi dan BPJS Kesehatan Kurnia Yuniakhir menuturkan, sudah banyak aturan yang dibuat OJK untuk memastikan industri asuransi berjalan kondusif. Pengawasan berbasis risiko juga terus dilakukan.

Langkah-langkah perbaikan dan penyempurnaan juga dilakukan untuk agen, konsumen, dan perusahaan asuransi, sehingga potensi mis-selling semakin minim.  Pihaknya juga mendorong perusahaan asuransi untuk lebih terbuka terkait informasi kinerja dana para pemegang polis.

Mencontoh Australia dan Hong Kong, hal itu berhasil untuk menekan mis-selling dan mendorong tingkat pemahaman para nasabah. Di sisi lain, para nasabah tentu perlu didorong inisiatifnya untuk rutin mengecek kinerja pengelolaan dananya.

Ke depan, lanjut dia, adaptasi pengaturan-pengaturan dari dunia internasional terkait unit link akan banyak diterapkan di Indonesia. Ini termasuk di antaranya aturan mengenai batasan tentang investasi.

Kurnia menegaskan, perubahan aturan terkait investasi itu tujuannya untuk memperkuat dan meningkatkan prinsip kehati- hatian. Ini dengan merujuk pada standar prinsip yang terbaik. (en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN