Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BRI (IST)

Bank BRI (IST)

Di Tengah Pandemi, Total Aset BRI Mencapai Rp 1.387,76 Triliun

Rabu, 19 Agustus 2020 | 12:00 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sampai dengan akhir Juni 2020 mencatatkan total aset konsolidasian mencapai Rp 1.387,76 triliun, atau tumbuh 7,73% secara tahunan (year on year/yoy).

Strategi yang telah diterapkan perusahaan untuk tetap tumbuh selektif di tengah pandemi membuahkan hasil yang positif, membuat BRI masih menjadi bank dengan total aset terbesar di Indonesia. "Total aset konsolidasi kita mencapai Rp 1.387,76 triliun, dari aset sebesar itu kualitas aset terjaga baik dengan cadangan yang memadai," tutur Direktur Utama BRI Sunarso, Rabu (19/8/2020).

Pencapaian aset tersebut didukung dari penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang juga tumbuh dua digit 13,49% (yoy) menjadi Rp 1.072,50 triliun. Pencapaian ini lebih tinggi dari penghimpunan DPK industri perbankan pada Juni 2020 yang tercatat sebesar 7,95% (yoy). DPK BRI didominasi oleh dana murah (current account saving account/CASA) dengan komposisi sebesar 55,81%.

Di sisi lain, pandemi mampu mendorong transaksi digital di BRI, sehingga mampu mendongkrak pencapaian pendapatan berbasis komisi. Hingga akhir semester I-2020, pendapatan berbasis komisi BRI sebesar Rp 7,46 triliun atau tumbuh 18,59% (yoy).

BRI juga mampu menjaga loan to deposit ratio (LDR) secara ideal di angka 86,06%, atau lebih rendah dengan LDR BRI pada akhir Juni 2019 sebesar 92,81%. "LDR 86,06% mencerminkan bahwa likuiditas bukan masalah atau tantangan yang berarti, bank masih memiliki likuiditas yang cukup, itu masih ideal. Tapi optimalisasi perlu mendorong penyaluran kredit yang disesuaikan demand masyarakat," jelas Sunarso.

Sementara itu, permodalan BRI mampu dijaga dengan optimal dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) cukup tebal di level 20,15%. "Artinya, dengan CAR 20,15% masih sangat kondusif dan cukup untuk medorong pertumbuhan kredit dan cukup untuk cover risiko bila terjadi pemburukan di kemudian hari. CAR ini kita kelola modal dan risk management dengan baik," terang Sunarso.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN