Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Disambut Baik, Restrukturisasi Polis Jiwasraya Jangan Rugikan Nasabah

Jumat, 10 Juli 2020 | 20:17 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) mendukung upaya manajemen dan pemerintah untuk menyelamatkan dana para nasabah melalui opsi restrukturisasi polis ke Nusantara Life. Namun, opsi tersebut perlu lebih dulu dipastikan tidak kembali merugikan para nasabah.

Oerianto Guyandi, salah satu nasabah Jiwasraya, mengatakan, dari hasil diskusi internal bersama para nasabah Jiwasraya lain, sebetulnya opsi restrukturisasi disambut baik. Tetapi skema dari restrukturisasi itu perlu dipaparkan lebih rinci lagi untuk memastikan tidak merugikan nasabah.

"Karena jangan sampai nasabah dalam hal ini yang tidak bersalah malah ikut memikul tanggung jawab tersebut. Jadi jelas, sikap kami yakni hak dan kewajiban kami dipenuhi sesuai peraturan yang berlaku, dan sesuai komitmen yang diberikan oleh Jiwasraya," ungkap dia saat melakukan konferensi pers, Jumat (10/7).

Dalam hal ini, kata Oerianto, pihaknya sama sekali tidak bermaksud untuk mengkritisi upaya yang sedang dijalankan manajemen Jiwasraya dan pemerintah. Bahkan pihaknya bersyukur masih ada perkembangan yang masih bisa diikuti, meskipun tidak secepat yang diharapkan. "Kami bukan menolak, kami mengucapkan terima kasih atas perkembangan, yang penting diperhatikan dari sisi nasabah ini jangan sampai dikorbankan," tegas dia.

Dia memaparkan, dengan restrukturisasi, pihaknya berharap hak dan perlindungan nasabah tidak berkurang sedikitpun, serta kepastian dan jaminan pembayaran menjadi lebih jelas. Tidak hanya melalui perusahaan yang baru dibentuk yaitu Nusantara Life. Diperlukan jaminan pelaksanaan yang tegas dan eksplisit dari negara selaku pemilik dan pengendali tunggal BUMN Jiwasraya.

"Bagi kami yang penting adalah kepastian pengembalian nilai pokok berikut bunga yang dijanjikan secara utuh. Dana tersebut adalah hasil jerih payah yang telah kami kumpulkan puluhan tahun ini," kata dia menambahkan.

Oerianto juga mengatakan, pihaknya perlu meluruskan bahwa skema restrukturisasi yang disampaikan Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo akan membuat manfaat bunga polis menyusut menjadi kisaran 6-7%, dibandingkan sebelumnya mencapai 10-14%. Ada bagian yang tidak benar dari pernyataan tersebut, yakni sejak awal manfaat bunga dari setiap polis nasabah sudah sebesar 6-7%.

Kasus PT Asuransi Jiwasraya
Kasus PT Asuransi Jiwasraya

Dihubungi terpisah, Callista Wijaya yang juga Nasabah Jiwasraya, menyatakan, sejak awal bergabung manfaat nilai bunga dari polis yang diberikan adalah 6-7%. Oleh karena itu, alasan bergabung dengan Jiwasraya bukan karena tawaran bunga yang besar. Tetapi kepercayaan nasabah bahwa dananya akan lebih aman jika sewaktu-waktu perusahaan kolaps, dana nasabah akan diganti negara karena Jiwasraya 100% milik pemerintah.

"Banyak perusahaan asuransi lain yang menawarkan bahkan sampai 9-10%, saya tidak mau. Tapi saya pilih produk ini (JS Saving Plan) saat ditawarkan pihak bank (bancassurance), bunganya biasa saja pada kisaran 6% sampai dengan 7%. Karena apa? Ini perusahaan punya pemerintah, kalau ada apa-apa, maka pemerintah yang tanggung jawab," papar dia.

Selain itu, menurut dia, produk tersebut juga sudah disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai otoritas pengawas dan perizinan produk JS Saving Plan. Sehingga pada saat memutuskan memilih produk tersebut, para nasabah dinilai tidak serakah dan percaya akan fakta-fakta bahwa produk tersebut legal serta pantas untuk dibeli.

Gagal Bayar

Dari sejumlah dokumen yang diraih Investor Daily, Jiwasraya telah beberapa kali mengingkari perjanjian yang dibuat sendiri. Sebagai ilustrasi, nasabah JS Saving Plan awalnya masuk melalui tujuh bank penjual produk yakni Bank QnB, BRI, Standard Chartered, Hana Bank, BTN, Bank Victoria, dan Bank AnZ.

Ketujuh bank itu turut memberi gambaran imbal hasil dari penempatan dana nasabah. Ketika nasabah setuju, imbal hasil pada polis tidak dinyatakan dalam persentase, namun dalam nilai pasti. Misalnya polis dengan nilai sebesar Rp 100 juta, akan menerima imbal hasil sebesar Rp 6,5 juta per tahun (bunga 6,5%). Adapun setiap polis memiliki umur selama satu tahun, nasabah berhak mengambil dana pokok sekaligus manfaat bunga setiap tahunnya.

Mengumumkan gagal bayar pada Oktober 2018, polis yang memiliki umur setahun belakangan atau Oktober 2017 sampai dengan Oktober 2018 dinyatakan gagal bayar. Ketika gagal bayar, perseroan masih tercatat memiliki total aset sebesar Rp 32,7 triliun.

Kala itu, Jiwasraya yang dipimpin Asmawi Syam menawarkan roll over sebagai solusi atas gagal bayar. Setiap polis yang setuju untuk di-roll over ditawarkan bunga sebesar 7% dan dibayarkan di depan. Sedangkan polis yang tidak setuju di- roll over diberikan bunga sebesar 5% sampai dengan 5,75%, dibayarkan sekaligus dengan dana pokok pada saat jatuh tempo.

Sejak mengumumkan gagal bayar dan menerapkan roll over pada sejumlah polis, perseroan hanya mampu membayarkan manfaat bunga tanpa membayarkan dana pokok. Berjalannya waktu, Jiwasraya bahkan kini tidak lagi mampu membayarkan bunga, apalagi untuk membayarkan dana pokok para nasabah.

Pada Maret 2020, Jiwasraya bersama pemerintah memang membayarkan tunggakan klaim sebesar Rp 470 miliar. Namun, dana itu diperuntukkan untuk membayarkan klaim pada produk tradisional lain, bukan tunggakkan klaim JS Saving Plan. Belakangan, Menteri BUMN Erick Thohir menyebut target tahun ini dapat membayarkan klaim sebesar Rp 1 triliun. Artinya, pemerintah masih berkomitmen untuk membayarkan klaim sebesar Rp 530 miliar sampai akhir tahun ini. Sayangnya, tidak dijelaskan lebih lanjut jatah klaim itu akan dibayarkan kepada pihak mana termasuk sumber dana itu sendiri.

Sampai Mei 2020, Jiwasraya tercatat memiliki tunggakan klaim mencapai Rp 18 triliun. Total aset perseroan kini menyusut menjadi sebesar Rp 17 triliun, akibat penjualan aset dan penurunan nilai investasi pada instrumen saham dan reksa dana saham. Sementara liabilitas perseroan terus menggunung menjadi sebesar Rp 52,9 triliun, seiring kewajiban bunga dari polis-polis yang ada. Dengan demikian perseroan tercatat memiliki ekuitas negatif sebesar Rp 35,9 triliun. Begitupun risk based capital (RBC) yang negatif 1.907%.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN